Senin, 12 Oktober 2015

Wisata Arsitektur di Hongkong dan Hampir Kehilangan Dompet di Bandara

11 Februari 2015

Salah Satu Sisi Bangunan Inovation Tower
Inovation Tower
Pagi ini, hari terakhir saya di Hongkong sebelum take off pesawat jam 9 malam, saya ingin menghabiskan waktu berkeliling mengunjungi beberapa daerah yang belum saya kunjungi sebelumnya. Sebelum berangkat saya chek out dan menitipkan ransel ke receptionist

Tempat yang saya kunjungi pertama kali adalah Inovation Tower, salah satu bangunan karyanya Zaha Hadid yang juga terletak tidak jauh dari daerah saya menginap. Butuh waktu 15 menit berjalan kaki untuk sampai di tempat ini. Terletak di salah satu Universitas di Hongkong, bangunan in difungsikan sebagai Sekolah Desain. Bangunan ini merupakan bangunan fisik pertama Zaha Hadid di Hongkong. Desainnya sangat moderen dan memang sangat khas gaya sang arsitek, jika kamu melihat dan mengikuti beberapa karyanya pasti tau bentuk-bentuk rancangannya. Bentuk bangunannya yang berwarna putih sangat kontras dengan kondisi bangunan sekitar yang lebih cenderung kotak-kotak dengan finishing dinding berwarna merah. Karena beberapa ruangan terbuka untuk umum saya masuk dan berkeliling, saat itu tengah ada pameran hasil karya dari mahasiswa-mahasiswa di sana.

Salah Satu Tugas Mahasiswa yang Dipamerkan
Maket Tugas Mahasiswa Mengenai Permukiman Bawah Tanah
Maket Tugas Mahasiswa
Suasana Jalanan Causeway Bay
Berikutnya yang saya kunjungi adalah Causeway Bay, tempat berkumpulnya ekspatriat Hongkong kalau lagi kongkow-kongkow. Sebenarnya saya kesini karena janjian dengan teman saya yang tinggal di Hongkong, karena terkendala waktu dan contact yang terputus-putus kita tak jadi bertemu. mungkin lain kali ya, semoga ada rejeki lagi, hhehehehe. Saya berjalan-jalan di jalanan Causeway Bay ini selama sejam. Kondisinya sendiri sangat ramai karena jadwal makan siang kantor. jadi kebayang kan jalanan yang didominasi lautan manusia. Sampai mau jalan pun susah sangking padatnya. Saya berjalan ke destinasi selanjutnya karena letaknya lumayan dekat, yakni Victoria Park. Siapa yang tidak kenal taman ini, tempat nongkrong dan liburannya para WNI yang berkerja di Hongkong, jadi jangan heran kalau bejalan di jalan ini terdengar celetukan-celetukan bahasa yang sangat familiar ditelinga. Kondisi taman saat itu sangat sepi karena memang bukan weekend. Saya menghabiskan waktu duduk-duduk dan bersantai di sana. Diperjalanan menuju stasiun subway saya menemukan restoran khas Indonesia. Karena sudah rindu masakan daerah sendiri saya masuk saja, walaupun sadar harganya akan jauh berbeda dengan harga di negeri sendiri. Tapi tak apalah, hitung-hitung membantu usaha orang 'kampung sendiri'. Saya memesan ayam penyet dan es teh yang kalau dirupiahkan 1 porsinya bisa membeli 4 porsi di Indonesia, hahahahaha.....
Bentuk Bangunan Kampus yang Kontras Dengan Inovation Tower
Saya sampai di hostel jam 3 sore dan bergerak menuju stasiun central untuk menaiki kereta bandara. Sebenarna dekat hostel ada bus yang melayani rute ke bandara, cuman saya ngotot saja ingin naik kereta yang nyaman, gak kebayang kan dari awal perjalanan sampai mau pulang naik transportasi kelas ekonomi terus dengan kursi yang keras pula. Jadi saya ingin memanjakan diri dengan naik kereta cepat langsung ke bandara Hongkong, tiketnya sendiri seharga 100 HKD (sekitar 180an ribu) wuihh.... Alhasil saya pun menikmati perjalanan ke bandara dengan kusri yang empuk. heheheheh.... 30 menit kemudian saya tiba di airport, duh cepet banget.

Interior Bandara Hongkong
Bandara internasional Hongkong merupakan salah satu bandara dengan terminal terbesar di dunia. Bayangkan saja di dalam terminalnya terdapat mall yang sangat ramai dan penuh, dari terminal satu ke yang lainnya saja harus naik monorel sangking jauhnya. Setelah Check in dan drop bagasi saya menuju konter imigrasi sebelum masuk ke ruang tunggu bandara. Prosesnya berlangsung cepat karena yang melayani sangat banyak. 

Saat menunggu pesawat di ruang tunggu terjadi sesuatu hal yang sangat membuat saya panik. 10 menit sebelum naik kepesawat saya baru sadar kalau dompet yang berisi passpor, tiket serta duit-duitnya tidak ada digenggaman saya. Saya langsung panik dan berlari kesana-kemari. Bayangkan 10 menit lagi akan menaiki pesawat, masalahnya kartu ATM dan ID saya juga ada di dalamnya, bagaimana mau pesan tiket lagi coba. Setelah berlari kesana-kemari saya melihat petugas kebersihan duduk di tempat duduk saya sebelumnya sambil menutupi sesuatu dengan koran, karena panik saya langsung mendekati dan menanyakan jika dia menemukan sesuatu. Sayangnya dia tidak mengerti bahasa inggris, karna yakin yang dipegangnya adalah barang milik saya, spontan saya langsung lapor ke petugas bandara yang ada saat itu. Dia pun menjelaskan kalau tukang bersih-bersih tersebut berniat mau mengembalikan dompet saya, cuman dia menunggu supervisinya tiba dan mengetahui hal tersebut karena ingin dapat kredit poin dari hal tersebut. Petugas bandara menyuruh saya mengecek isi dompet kalau ada yang hilang, karena buru-buru saya pun menyalami si ibu dan berterima kasih karena gate pesawat saya sudah buka, huffftttttt......

Sungguh sangat ceroboh sekali, euforia ingin pulang karena sudah lama jauh dari rumah membuat saya lalai terhadap barang bawaan. Perjalanan ke Kuala Lumpur saat itu memakan waktu 4 jam dan lanjut penerbangan besok paginya ke Medan jam 5 pagi. Alhamdulillah saya tiba di Medan jam  7 pagi, lega rasanya..... 

Sungguh pengalaman yang sangat berharga.

Menjelajah Hongkong Dari The Peak Hingga Menikmati Pertunjukan Laser di Victoria Harbour

10 Februari 2015

Kumpulan Pencakar Langit Dilihat dari The Peak
Hari ke-2 di Hongkong, saya bangun sekitar jam 6 pagi. Rupanya ukuran kamar yang kecil tidak mempengaruhi kualitas tidur selama ruangannya tidak panas dan memiliki kasur yang empuk. Salah satu permasalahan kamar yang saya tempati di Hongkong adalah ukurannya yang serba kecil, bahkan toilet yang terdapat di dalamnya juga sangat mini. Tapi tak apalah selama masih bersih dan yang terpenting ada air panasnya. Selain itu, karena penghuni lain masih tertidur nyenyak saya harus serba berhati-hati dalam bergerak karena akan menimbulkan suara yang mengganggu, salah satu etika tinggal di dorm yang diisi beberapa orang yakni jangan membuat suara yang menggagu penghuni lain ketika sedang tidur. Setelah bergegas, saya turun kebawah dan singgah di mini market untuk membeli sarapan. Saya sekarang lebih berhati-hati dalam membeli makanan, tidak mau kantong terkuras lagi seperti kemarin malam.

Salah Satu Spot Foto ke Arah Hongkong
The Observatotium Deck


Plaza di Dekat Upper Tram Station

Penanda Counter Penjual Tiket Tram
Tujuan pertama saya pagi itu adalah The Peak, kalian pasti sudah tau tempat ini, bukit terkenal di Hongkong yang dari atasnya kita bisa melihat pemandangannya kota Hongkong yang dipenuhi gedung-gedung tinggi. Saya menaiki subway menuju stasiun Central, tiket subway di sini sangat mahal, berbeda dengan daerah China yang lain, jadi kalau kamu wisata di Hongkong dan stay lebih dari 3 hari saya sarankan untuk membeli Octopus Card, bisa lebih menghemat. Turun di Central station saya berjalan menuju Lower Tram Station, cukup mengikuti papan petunjuk yang ada di jalan, kurang lebih 10 menit berjalan kaki. Saya membeli return ticket tram seharga 40 HKD (sekitar 70ribuan), karena masih pagi jadi antrian belum ada, saran saya datang lah sekitar jam 10 kurang beberapa menit sebelum counter tiketnya buka. Karena kalau sudah siang, antriannya sudah lumayan panjang karena tram yang melayani rute ke The Peak hanya 2 unit saja.

Interior Tram
Ini merupakan pengalaman pertama saya menaiki tram, apalagi sampai mendaki ke puncak bukit. kemiringannya bisa mencapai 45 derajat lho. dan tram nya didesain sedemikian rupa agar kita dapat berdiri tegak meskipun dengan kemiringan tersebut, canggihhhh. Tram ini sendiri sudah ada sejak tahun 1900an dan tramnya sudah berganti beberapa kali, tram aslinya masih bisa kita lihat di The Peak ketika turun dan keluar dari Upper Tram station. Karena masih pagi, sekitar jam 10 lewat sedikit, belum banyak toko yang buka di The Peak ini. Jadi saya memutuskan untuk berjalan-jalan menelusuri jalan-jalan kecil di The Peak ini. Ada beberapa spot yang sangat bagus untuk berfoto, dimana kita bisa mem-frame gedung-gedung pencakar langit di bawahnya dengan sangat bagus, sayapun mengunjungi beberapa. Karena masih musim dingin, jadi tentunya udara nya masih tetap dingin meskipun matahari bersinar terik, ditambah Hongkong yang berada di pinggir laut sehingga anginnya cukup kencang dan ditambah saya berada di puncak bukit pulak, brrrrrrrrrrr.....

Sebenarnya masih banyak atraksi turis di The Peak ini, misalnya Observatorium Deck dan Madame Tussaud. Cuma karena berbayar saya urung mengunjungi keduanya, apa lagi saya sudah pernah mengunjungi mueum patung lilin di Bangkok sebelumnya. Saya turun dari The Peak jam 1 siang dan begitu sampai di bawah antrian pembelian tiket sudah mengular sampai ke jalan, tuhhhh kan. Dalam perjalanan ke stasiun subway sebenarnya ada sebuah kebun binatang kota yang menarik untuk disinggahi dan gratis. Saya pun singgah dan berkeliling selama beberapa jam. Walaupun gratis, bukan berarti kebun binatang ini tidak terawat, percaya deh, kamu tidak akan menemukan satu hewanpun yang kelaparan disini, mereka semua tampak sehat dan terawat. Karna gratis dan terbuka untuk publik, saat saya berkunjung sangat banyak rombongan anak-anak TK yang berkunjung, mereka belajar mengenai hewan dan tanaman langsung di tempanya, seru bukan??? Selain hewan, kebun ini juga merupakan botanical garden yang di dalamnya terdapat banyak spesies tanaman-tanaman dari berbagai negara, jadi ada rumah kacanya juga. 

Suasana Kebun Binatang di Hongkong
Kondisi Kebun Binatang Hongkong

Gedung HSBC
Sebelum ke stasiun dan berangkat ke destinasi berikutnya saya sempat berkeliling di kawasan bisnisnya pulau Hongkong. Banyak banyak bangunan-bangunan tinggi yang menarik. Salah satunya gedung HSBC yang terkenal dengan fasade strukturalnya. Disini juga masih terdapat angkutan publik tram listrik yang berseliweran di jalanan. Saya singgah di minimarket untuk membeli beberapa roti untuk makan siang, duh kere banget ya....

Karena waktu menunjukkan jam 2 siang saya melanjutkan perjalanan ke destinasi berikutnya, pasar mongkok, karena Hongkong terkenal dengan wisata belanjanya dari yang sangat mahal sekali hingga murah sekali. Saya memilih yang murah sekali karena sesuai dengan kantong saya. Saya menuju stasiun subway dan berhenti di stasiun Mongkok, layaknya pusat perbelanjaan, dimana-mana memang selalu ramai. Salah satunya ya Mongkok ini, barang yang dijajakan beragam, di sini keahlian ibu-ibu dalam tawar menawar harus dikeluarkan. Karena penjual di sini tidak segan menaikkan harga 3 kali lipat dari harga aslinya, jadi kalian harus kejam dan pasang muka tembok saat menawar harga. Jika harga tidak disepakati tinggalkan saja dan beralih ke penjual lain, hahahah.. Saya membeli beberapa cenderamata buat oleh-oleh dan satu buah memori card untuk smartphone saya, maklum kepenuhan foto.

Tram Kota yang MAsih Berfungsi dengan Baik
Sore harinya sekitar jam 4 saya bergerak menuju Avenue of Star. Jika Hollywood punya walk of fame maka Hongkong punya Avenue of Stars sebagai bentuk apresiasi buat para orang-orang yang bekerja di indusri perfiliman. Terletak di pinggir laut dsepanjang Victoria Harbour, Tsim Sham Sui. Di sepanjang jalan terdapat tanda tangan dan cap telapak tangan para selebritis maupun sineas perfiliman Hongkong. Di sini juga terdapat patung sang legenda kungfu Bruce Lee, banyak yang berfoto di patung tersebut. Saya menikmati matahari terbenam di promenade ini sambil menunggu pertunjukan laser yang digelar malam jam 7 tiap harinya. Saya menunggu sambil makan beberapa roti yang telah saya beli sebelumnya.
Patung Bruce Lee di Avenue of Stars

Cap Telapak Tangan dan Tanda Tangan Jet li
Sunset di Victoria Harbour
Perjalanan hari ini pun ditutup dengan pertunjukan laser dari gedung-gedung diseberang pulau dengan sangat mengagumkan. Tidak terbayang berapa daya listrik yang mereka hambur-hamburkan untuk mengadakan pertunjukan laser ini setiap malamnya. Sesuai dengan jadwal pertunjukan, semua turispun berkumpul memadati venue yang telah disediakan untuk menikmati pertunjukan laser show ini. Cahaya laser berpendar menari-nari dari seluruh gedung pencakar langit yang terletak di seberang laut dan dikombinasikan dengan suara musik. Sebenarnya kalau di cari di internet, pertunjukan laser ini memiliki filosofinya dari awal hingga akhir. Pertunjukan berlangsung selama sekitar 15 menit. Pertunjukan selesai semuanya pun bubar karena dingin dan saya pun tidak mau berlama-lama di pinggir laut. Bisa masuk angin...

Pertunjukan Laser Show 
Kalau banyak yang bilang kehidupan di Hongkong yang sebenarnya dimulai malam hari, saya lebih memilih kembali ke hostel dan tidur karena sudah kecapean. Sekarang 2 penghuni sebelumnya sudah digantikan 2 penghuni baru, satu perempuan asal amerika yang bekerja di Beijing dan sedang liburan di Hongkong karena Imlek sudah dekat dan satunya lagi seorang mahasiswa asal Taiwan yang numpang tidur sebelum pulang kenegaranya, karena baru habis liburan menjelajah dratan China.

Hari Terakhir di Guangzhou hingga Menaiki Kereta Api Menuju Hongkong

9 Februari 2015
Gedung Pencakar di  

Hari terakhir di Guangzhou, awalnya saya di sini rencananya cuman 2 hari saja. Cuman setelah dipikir dan mendengarkan tentang cerita sema backpacker di hostel bahwa cost di Hongkong sangat mahal, saya menambah reservasi hostel saya 1 malam lagi. Saya berpikir lebih baik menghabiskan waktu di Guangzhou daripada di Hongkong. Setelah beres-beres barang bawaan, saya pun check out hostel dan menitipkan tas saya di hostel karena kereta saya ke Hongkong berangkat jam 3 sore hari. Saya sudah membeli tiket kereta pada hari sebelumnya seharga 150 Yuan (sekitar 300 ribuan) dengan waktu tempuh kurang lebih 3 jam, seperti Jakarta-Bandung lah. 

Under Ground Khusus Pejalan Kaki di Persimpangan Jalan


Kondisi Jalanan Kota Guangzhou

Danau Buatan di Tengah Taman Kota New Town
Pagoda di Dekat Canton Tower
Pagi ini saya ingin mengunjungi pusat bisnisnya kota Guangzhou, dimana terletak banyak bangunan pencakar langitnya. Sebenarnya sudah saya kunjungi beberapa dihari pertama saya tiba di Guangzhou, tetapi cuaca saat itu kurang bagus karena berkabut. Saya turun di stasiun subway Zhujiang New Town. Yappp New Town, kompleks gedung pencakar langit di tempat ini sebenarnya sudah dikonsep dan memiliki masterplan yang telah direncanakan dengan matang, dan saat ini masih terus dikembangkan. Beberapa bangunan yang terdapat di kompleks ini sudah saya jelaskan sebelumnya, seperti opera house, perpustakaan dan museum. Akan tetapi masih banyak bangunan-bangunan tinggi dengan bentuk yang menarik. Di tengah komplek blok-blok gedung yang super tinggi ini terdapat taman kota yang cukup luas. Taman ini memanjang dari sisi barat ke timur sampai dengan sungai Guangzhou, dengan menara Canton di ujung nya. Jadi secara tidak langsung gedung-gedung tinggi di kompleks New Town ini memberikan vista ke ara menara Canton di seberang sungai. Di bawah taman yang luas ini terdapat mall dan parkir yang menjadi penghubung atar gedung, canggih bukan....

Suasana Ruang Tunggu Sebelum Stasiun Kereta Api Guangzhou


Suasana di Dalam Kereta Api Menuju
Hongkong
Setelah puas berkeliling New Town saya pergi ke destinasi terakhir yakni sebuah pagoda yang letaknya dekat dengan menara Canton. Karena tidak banyak yang bisa dinikmati di pagoda ini saya memutuskan kembali ke hostel untuk mengambil ransel dan singgah sebentar di restoran untuk makan, waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang.

Saya tiba di stasiun kereta api Guangzhou sekitar pukul 2 siang. Ini lah enaknya kalau moda transportasi publiknya sudah terintegrasi, jadi kita dapat menentukan berapa lama kita akan sampai di tempat tujuan, sehingga tidak tergesa-gesa di jalan. Karena merupakan perjalanan lintas negara maka harus masuk pengecekan imigrasi dahulu sebelum masuk ruang boarding kereta api. Sistemnya sama seperti di bandara. Kereta yang saya tumpangi saat itu berangkat tepat pukul 3 sore. Kondisi keretanya sendiri cukup bagus dan nyaman. Karena penumpangnya tidak banyak, saya duduk sendiri sehingga lebih santai dan lapang. Pemandangan sepanjang perjalanan kurang begitu menarik jadi saya lebih memilih untuk tidur di kereta,

Kereta tiba di Hongkong sekitar jam 7 kurang 15 menit. Tantangan saya berikutnya adalah menukarkan sisa duit saya dari yen ke mata uang Hongkong. Bagaimana mau naik Subway kalau tidak ada uang, saya cari-cari mesin atm juga tidak ada. Alhasil saya pun memutuskan berjalan kaki, karena menurut papan petunjuk yang ada di sana butuh waktu 15 menit menuju Stasiun Sham Sui East dengan berjalan kaki. Hostel yang saya book di internet memang ada di sekitar stasiun tersebut, jadi saya berjalan dan membaur dengan warga lokal saja, hitung-hitung olah raga. Kondisi saat itu sangat ramai karena mungkin lagi rush hour nya warga Hongkong, sekitar jam 7 malam. Karena saya tidak memiliki peta, jadi saya hanya memanfaatkan felling saja, jadi jangan DICONTOH. Kebodohan ini membawa saya berputar-putar selama hampir 2 jam dalam menemukan hostel yang sudah saya booking, karena saya hanya memanfaatkan petunjuk yang disediakan di halaman web hostel dan mencatatnya di kertas. Sekali lagi JANGAN DITIRU.....!!!

Kondisi Sungai di Guangzhou
Makan Mie Terakhir Sebelum Menuju Hongkong
Drama pencarian hostel-pun berakhir ketika saya keluar dari pintu keluar yang dituliskan di web dan posisi hostel-nya itu tepat berada di sebelah kirinya, cuman beberapa meter menyebrangi jalan. Di pintu masuk lantai dasar sudah sangat banyak calo yang menawarkan berbagai macam penginapan dengan harga bervariasi, bahkan beberapa ada yang sampai ngotot mengikuti. Tapi saya menjelaskan bahwa saya sudah book sebelumnya dengan harga yang jauh lebih murah dari yang mereka tawarkan. Rupanya dalam satu gedung yang saya datangi terdapat puluhan hostel dengan pengelola dan manajemen yang berbeda, wajar saja calonya jadi bejibun. Sayapun menaiki lift menuju lantai yang telah ditulis di web. Saya book untuk satu malam di internet dan extent 1 malam lagi. Harga untuk dua malamnya itu sendiri 250 HKD (sekitar 480ribuan) dengan ukuran kamar 3 kali 3 diisi oleh 4 orang plus kamar mandi di dalam (bisa dibayangkan sendiri). Itu sudah harga kamar paling murah yang saya temukan di web. Hongkong memang benar-benar mahal pemirsah....Belum lagi karena perut sudah lapar saya main masuk restoran saja malam itu, dan ketika saya minta bill nya saya terkuras lagi 20 HKD (kalikan deh tuh) saya benar-benar terjebak, dalam hati besok harus lebih hati-hati lagi. 

Karena sudah lelah saya pun kembali ke hostel karena jam saat itu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Penghuni kamar saat itu selain saya ada dua orang lagi, yang laki-laki dari Rusia dan yang perempuan asal Swedia. Mereka juga mengeluhkan ukuran kamar yang kecil, tapi mau gimana lagi itu sudah harga yang pantas saat itu. Apalagi mereka berdua cuman numpang tidur doang besoknya sudah check out dengan tujuan masing-masing. 

Cukup untuk hari ini, saya sudah lelah. Selamat malam Hongkong. Semoga mimpi indah, untung mimpi gak dikenakan tarif. Hoammmmm.... 


Minggu, 11 Oktober 2015

Wisata ke Pulau Kecil Bernama Shamian hingga Museum Arkeologi Guangzhou

8 Februari 2015

Taman Kota di Shamian Island
Hari ke-2 di Guangzhou, 20 hari saya jauh dari rumah. Belum banyak yang saya ketahui mengenai objek wisata yang terdapat di kota ini. Selain browsing, yang merupakan ritual wajib bagi solo backpacker, saya juga menanyakan beberapa informasi ke receptionist mengenai destinasi wisata terdekat yang bisa dikunjungi dengan transportasi publik. Diluar dugaan, ternyata mereka sudah mempunyai list destinasi-destinasi tersebut dalam dua bundel yang rapi lengkap dengan transportasi yang digunakan. Saya pun langsung meng-capture beberapa halaman di hp saya. Setelah beres, saya pun bergegas menuju stasiun subway.

Peta Pulau Shamian
Kondisi Jalan di Shamian Island
  
Tipologi Bangunan di Shamian Island
Destinasi pertama saya pagi ini adalah Shamian Island. Apa itu? saya juga sebenarnya baru pertama mendengar namanya. Tadi di hostel saya sempat cari info di internet mengenai tempat ini. Shamian Island adalah sebuah pulau, karena secara fisik daratan shamian ini terpisah dari daratan Guangzhou. Tidak harus menyewa boat atau perahu untuk mengunjungi pulau ini. Cukup dengan menyebranginya melalui jembatan saja, karena pulau ini hanya dipisahkan oleh kanal kurang lebih selebar 8 meter saja. Saya turun di Stasiun Huangsha, dan melanjutkan berjalan kaki selama 10 menit. Karena posisinya di tepi laut, pada zamannya, pulau ini memiliki peran yang sangat penting bagi sejarah perdagangan antar negara. Karena perang maka pulau ini dipegang kendalinya oleh Ingris dan Prancis. Hal ini lah yang banyak mempengaruhi gaya bangunan yang terdapat di pulau ini. Dan sampai sekarang bangunan-bangunan tersebut masih terjaga keasliannya, sebagian masih tetap sebagai hunian, ada yang beralih fungsi jadi cafe dan perkantoran.

Satu lagi yang menarik dari pulau ini selain dari gaya bangunannya adalah tamannya. Taman kota terletak di tengah pulau dan dekelilingi oleh pohon-pohon yang usianya mungkin sudah ratusan tahun. Berjalan-jalan di taman ini sungguh sangat menyenangkan. karena di sepanjang jalan yang saya telusuri, selalu saja ada atraksi-atraksi menarik dari warga lokal. Dan sangat banyak terdapat patung-patung di sepanjang jalan yang sangat menarik untuk difoto.

Beberapa Patung di Shamian Island
Anak Berfoto Bersama Patung
Puas berkeliling menikmati Shamian Island, saya bergegas ke destinasi berikutnya yakni sebuah bangunan tradisional dekat hostel yang saya tempati. Tadi pagi masih tutup jadi saya skip setelah mengunjungi Shamian Island. Saya berhenti di stasiun dekat penginapan dan melanjutkan berjalan kaki ke arah Beijing Lu. Bangunan ini terletak di jantung Beijing Lu, tersembunyi dengan sangat rapi. Jika tidak teliti pasti akan terlewat. Karena gerbang masuknya hampir sama dengan toko di kiri dan kanannya. Bangunan ini sangat kontras dengan kondisi sekitarnya, keasliannya masih terjaga. Dulunya bangunan ini merupakan bangunan salah seorang bangsawan. Bangunannya sendiri dilengkapi taman dan kolam di halaman depan rumahnya.

Di perjalanan menuju ke stasiun subway saya menemukan sebuah bangunan yang berbeda dengan bangunan sekitarnya, bukan tradisional, melainkan lebih moderen. Sayapun mendekatinya dan mencari pintu masuk. Rupanya bangunan aneh ini adalah sebuah museum, tanpa berpikir dua kali saya langsung masuk. Dan beruntung saat itu tiketnya lagi gratis, lumayan rejeki anak soleh. Museum ini merupakan museum arkeologi yang di dalamnya terdapat salah satu dari situs kerajaan Nanyue. Kalau saya jelaskan disini akan sangat panjang dan yang terpenting saya memang tidak tahu sejarah detail seperti apa, heheheh. Ringkasnya situs ini merupakan salah satu bagian dari kerajaan yang tersisa, lebih tepatnya taman kerajaan. Situs bersejarah ini tidak sengaja ditemukan ketika sedang melakukan pematangan lahan proyek di lokasi yang sama. Karena pemerintah China menganggapnya sebagai aset yang sangat penting maka dikembangkanlah proyek museum ini dengan membatalkan proyek swasta yang telah direncanakan sebelumnya. Di dalam museum terdapat sistem pengairan yang bisa dibilang cukup maju pada saat itu. Selain itu terdapat juga displai-displai gerabah dan beberapa benda-benda yang ditemukan saat melakukan penggalian. Karena saya backgroundnya arsitektur, jadi saya sangat menikmati jalan-jalan di dalam museum. Saya mengamati bagaimana mereka memperlakukan situs arkologi ini tanpa mengganggunya sama sekali.
Suasana Rumah Tradisional di Tengah Perkotaan Padat
Bangunan Eksterior Museum Arkeologi Nanyue Kingdom

Suasana Interior Bangunan Arkeologi
Maket Istana Nanyue
 
Pecahan Gerabah Hasil Galian 

Interior Museum

Sunset di Sungai Guangzhou

Setalah puas berjalan seharian, destinasi terakhir adalah berjalan-jalan disepanjang Guangzhou river sambil menikmati sunset. Cuaca hari ini sangat cerah dan tidak berkabut, berbeda ketika saya pertama kali sampai di kota ini. 
























Rabu, 12 Agustus 2015

Mengunjunjungi GuangZhou Pertama Kalinya

7 Februari 2015

Menara Canton yang menjadi Icon GuangZhou
View Waktu Malam Hari
Saya tiba di Guangzhou jam 8 pagi. Seperti biasa, tempat yang saya datangi terlebih dahulu adalah stasiun metro, untuk melihat rute dan tempat yang akan saya tuju selanjutnya. Sewaktu di Shanghai saya sudah book hostel di Guangzhou terlebih dahulu. Di webnya ada dicantumkan rute dan alamat bagaimana cara menuju hostel tersebut. Saya memilih yang terdekat dengan stasiun, serta membaca beberapa review mengenai hostel yang akan saya pilih tersebut. Belajar dari pengalaman di Shanghai, saya harus lebih teliti dalam memilih hostel. Saya mencari Stasiun Ximenkou ada di line berapa, karena hotel yang saya book lokasinya tidak jauh dari sana. Setelah menemukannya di map, saya langsung membeli tiket. Sebagai catatan, mesin penjual tiket di Guangzhou ini ada beberapa yang dijaga oleh mbak-mbak cantiknya. Tujuan mereka sebenarnya adalah membantu penumpang yang tidak paham menggunakan mesin tiket otomatis ini. Masalahnya adalah, kadang mereka mengambil sisa uang kembalian tanpa sepengetahuan penumpang walaupun itu cuman 10 ataupun 50 sen. Jadi kalikan saja kalau mereka dapat banyak. Saya baru mengetahuinya ketika membeli tiket dengan tujuan yang sama, selisih tiketnya 50 sen, lumayan kan?????


GuangZhou Opera House Karyanya Mbak Zaha

Entrance Utama Opera House



Sesampainya di Ximenkou Station, saya langsung mengikuti instruksi yang sudah saya catat dari web. Sangat mudah menemukan hostelnya sebenarnya, cuman harus sedikit bersabar. Berbeda dengan Beijing dan Shanghai yang bisa check in jam berapa saja, di sini saya harus menunggu pengunjung yang check out dan kamar di bersihkan, maklum lagi full booked. Alhasil saya disuruh kembali lagi seltelah jam 2 siang. Karena pengaruh cuaca yang dingin, saya tidak perlu mandi pagi itu karena saya tidak berkeringat. Hehehehehe.... setelah menitip tas, daripada bengong saya melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata yang dekat dan mudah dijangkau saat itu. Setelah searching dengan modal WiFi hostel, maka saya memutuskan untuk pergi ke Canton Tower, menara yang menjadi iconnya Guangzhou. Saya kembali ke Ximenkou Station dan membeli tiket menuju Stasiun Lujiang di line 8. Sebelumnya saya membeli beberapa roti untuk sarapan sebelum melanjutkan perjalanan ke canton tower.

Di Lantai Ground Ada Kolam Susus, eh... Ikan
Menara Canton ini dinamai sesuai dengan etnis canton yang banyak mendiami Guangzhou. Tingginya sendiri mencapai 600 meter dan difungsikan sebagai menara observasi dan menara pemancar berbagai media (sesuai dengan yang saya baca di wiki). Bentuk bangunannya sendiri sangat unik, seperti kumpulan sumpit yang di twist, sehingga membentuk lekukan pinggang pada bangunannya. Bangunan ini sendiri terbuat dari pipa-pipa baja, dan mulai dibangun sekitar tahun 2005 dan selesai tahun 2010. Pada malam hari menara ini memiliki konsep lighting yang sangan indah. Puas capture beberapa view di sekitar menara ini saya berniat berjalan kaki ke sisi sungai di seberangnya. Kelihatannya sih dekat, tapi saya berjalan lebih dari satu jam untuk mencapai sisi yang satunya. Heheheheh.... hitung-hitung olah raga, soalnya capek duduk di kereta api hampir 20 jam. 

Di sana saya menemukan Guangzhou Opera house, salah satu bangunan karya Zaha Hadid, jangan tanya bentuknya seperti apa, kalau kamu arsitek atau mahasiswa arsitek, taula bagaimana gaya-gaya desain arsitek wanita peraih penghargaan Pritzker Architecture Prize tahun 2004 ini. Tak jauh dari gedung opera ini terdapat Perpustakaan Guangzhou. Bentuknya seperti buku, saya menyempatkan masuk kedalamnya. Suasananya seperti Mall kalau di Indonesia, ramainya bukan main, padahal cuman perpustakaan yang isinya buku buku dan buku. Saya sampai berdecak kagum melihatnya, andai saja indonesia punya yang beginiaan..... Di sebelahnya masih ada satu buah museum lagi cuman sudah tutup karena sudah kesorean, saya memutuskan pulang ke hostel dan singgah terlebih dahulu di Beijing Lu.

Perpustakaannya GuangZhou

Suasana Dalam Perpustakaan

Canggih kan?? Ala-ala Iron Man Gitu

Museum di Sebelah Perpustakaan
Beijing Lu, Pusat Berbelanja
Ya, Beijing Lu. Setelah Wang Fu jing dan Nanjing Road, ternyata Guangzhou punya tempat perbelanjaan ala-ala pinggir jalan yang sama. Namanya Beijing Lu, lokasinya sangat dekat dengan hostel saya menginap, kalau berjalan kaki dapat ditempuh dalam waktu 15 menit saja. Disini saya menemukan lagi Mie seperti di Beijing dan Shanghai, tanpa pikir panjang saya masuk dan langsung pesan satu porsi. Heheheheh.... Saya kembali ke Hostel karena sudah cukup lelah seharian berjalan dan belum ada istirahat sesampainya di Guangzhou.