Minggu, 29 Maret 2015

Naik Bus Antar Negara, Dari Phnom Pehn ke Ho Chi Minh City

24 Januari 2015

Bus yang Saya Tumpangi ke Ho Chi Minh City


Bus malam yang saya tumpangi tiba di Phnom Pehn jam 6 pagi. Kami didrop di salah satu minimarket 24 jam. Tempatnya memang terlihat seperti pemberhentian bus sementara. Semua penumpang turun dan mengambil barang bawaan masing-masing. Bagi penumpang yang seudah memiliki tiket terusan ke Ho Chi Minh City tinggal menunggu jemputan bus berikutnya. Masalahnya di sini adalah tidak ada tanda-tanda tempat pembelian tiket. Nah looo....

Suhu pagi itu agak dingin seperti kampung halaman saya di Indonesia. Sembari berpikir bagaimana cara ke Ho Chi Minh City, saya memesan sarapan berupa vegetable omelet dan teh. Teh disini sungguh tidak ada rasanya, tawar. Jadi asikin aja deh teh nya. Satu persatu penumpang pun pergi tinggal saya sendiri dan 2 orang turis asal Australia. Seorang warga lokal mendekati mereka dan memberi tiket ke HCMC (nama kota saya singkat saja biar gampang). Karna nasib berwajah lokal saya pun dilewatkan begitu saja. Jadi saya harus jemput bola dong, saya langsung mengejar orang tersebut dan menanyakan tiket ke HCMC, dia bilang kalau bus selanjutnya berangkat 1 jam lagi. Saya pun bilang tidak masalah asalkan saya sampai di HCMC tidak lebih dari jam 5 sore. Karena saya search diinternet kereta api yang berangkat ke hanoi hanya 2 kali sehari. Dan yang terakhir adalah jam 17.00 waktu setempat. Setelah selesai bertanya sang calo tiket pun pergi entah kemana, dia menyuruh saya menunggu karna dia harus memastikan dan memesan tiket yang akan saya beli. Alhasil tinggal lah saya seorang diri, 2 turis Australia tadi telah berangkat lebih dulu dan mereka dijemput semacam angkot kalau di negara kita.

Sembari menikmati sarapan yang bisa dibilang seadanya ini, saya pun menunggu si calo tiket, berharap dia bukan salah satu scam yang banyak dibicarakan di laman-laman internet. Belum sempat sarapan saya habis diapun muncul sambil menyerahkan tiket bus HCMC yang saya perlukan. Tiket bus tersebut saya bayar seharga 8 USD, tanpa tau kondisi bus yang akan saya tumpangi seperti apa, jadi saya percaya saja pada si calo ini. Dia menginstruksikan agar saya bersiap-siap karna saya akan diantar ke pool bus dengan menggunakan becak. Becak mereka sangat unik, bentuknya seperti delman cuma yang menarik kereta tersebut bukanlah kuda melainkan sepeda motor, hampir sama seperti tuktuk di Siem Reap cuman lebih besar sedikit. Ternyata bukan hanya saya saja yang akan dianta ke pool bus, ada dua orang warga lokal yang sepertinya akan berangkat ke HCMC juga. Jarak dari pemberhentian bus ke Pool Bus menuju HCMC tidaklah terlalu jauh, 10 menit berkendara, itu pun dengan kondisi jalanan yang ramai. Di pool pemberhentian bus ini saya melihat beberapa turis asing tergeletak di kursi, mereka tertidur pulas. Sayapun mencari tempat yang kosong untuk duduk sembari meletakkan tas ransel saya yang besar, bus akan berangkat pukul 8 pagi waktu setempat, saya memiliki waktu 15 menit untuk bersih-bersih di toilet.

Pemandangan yang Mendominasi Selama Perjalanan

Suasana sungai Mekong 
Tepat jam 8 lewat 5 menit bus pun berangkat. Diluar dugaan bus yang saya tumpangi terbilang nyaman, full AC, seat 2-2, free mineral water, free makan siang (walaupun saya tidak makan karna takut tidak halal) dan tak ketinggalan TV flat berukuran 24 inchi siap menghibur anda selama perjalanan (walaupun tontonan yang mereka sajikan adalah film-film Hollywood dengan sub Khmer yang dibacakan, BUKAN dubbing, secara flat dari awal hingga akhir film). Waktu yang diperlukan untuk sampai ke HCMC kurang lebih 8-9 jam. Dengan waktu selama itu saya hanya duduk manis dan memilih untuk diam selama perjalanan (karna masalah komunikasi). Tepat jam 11 siang bus telah sampai di pelabuhan penyebrangan kapal fery, kita akan menyebrangi sungai mekong dalam waktu kurang lebih 20 menit. Kondisi pelabuhannya lebih mirip pasar tradisional, karna di kiri kanan jalan sangat banyak toko-toko non permanen seperti yang terdapat di pasar-pasar tradisional di Indonesia. Setelah antri selama 10 menitan, bus yang kami tumpangi pun bersiap menaiki kapal fery yang akan menyebrangkan kami ke sisi sungai mekong yang lain. Pemerintah masih mengandalkan kapal fery untuk sebagai moda transportasi penyebrangan di Sungai Mekong, walaupun di kejauhan saya melihat ada jembatan yang melintasi sungai ini, tapi nampaknya masih dalam tahap konstruksi. Sebagian penumpang lebih memilih duduk menunggu di dalam bus karena cuaca saat itu sangat terik, hanya beberapa yang turun menikmati keindahan sungai mekong. Tak butuh waktu lama kapal yang membawa kami pun berlabuh di sisi lain sungai mekong. Perjalanan dilanjutkan, dan pemberhentian berikutnya adalah rumah makan karena waktu telah menunjukkan pukul 1 siang waktu setempat. Setelah makan siang, pemberhentian berikutnya adalah border perbatasan Kamboja-Vietnam. Hanya butuh 20 menit untuk sampai ke perbatasan tersebut. Sebelum berhenti di Rumah Makan, passport kami telah dikumpulkan oleh kondektur agar dapat diproses lebih cepat sembari kami istirahat menikmati makan siang. Dia menyerahkan semua passport yang telah dikumpulkan ke petugas imigrasi yang telah menunggu di Rumah Makan dengan mengendarai sepeda motor.

Sesampainya di border imigrasi, semua penumpang disuruh turun dan membawa barang bawaan masing-masing tanpa ada yang tertinggal. Karena passport telah diproses sebelumnya, kami hanya perlu melewati konter-konter pemeriksaan dan x-ray barang bawaan ketika nama kami dipanggil satupersatu oleh petugas. Tak memakan waktu lama, semua penumpangpun telah menaiki bus dan tibalah kami di wilayah darat Vietnam. Masih dibutuhkan 3-4 jam lagi untuk sampai di HCMC, layaknya suburban, kondisi perbatasan dipenuhi oleh rumah-rumah toko dan jalan lintas yang lebar-lebar. Tepat jam 4 sore waktu setempat tibalah bus yang kami tumpangi di Ho Chi Minh City. Kondisi kotanya tidak beda jauh dengan Jakarta. Sangat banyak pengendara sepeda motor, bahkan mendominasi jalan raya. Jadi tak hanya pejalan kaki, pengendara mobil dan bus juga harus ekstra hati-hati ketika berada di jalan raya. 


Kondisi Jalan di Kota Ho Chi Minh City



Suasana Taman di
Pham Ngu Lao
Tiba di pusat kota, kondektur bus pun menanyakan tujuan masing-masing penumpang. Rupanya bus ini menyediakan layanan antar sampai lokasi tujuan. Karna saya tujuan awalnya ingin naik kereta api ke Hanoi maka saya meminta diantar ke Stasiun Kereta. Karna kondisi saat itu sedang rush hour saya disarankan untuk bergabung dengan turis-turis lainnya untuk diantar ke kawasan backpacker karena katanya sangat dekat dengan stasiun kereta api. Saya pun menurut, kami diturunkan di loket bus kemudian di oper ke bus yang lebih kecil untuk diantar ke kawasan backpacker tersebut. Sebelumnya saya belum ada gambaran bagaimana kondisi kawasan backpacker ini, karena saya belum melakukan riset. Dan setelah stay beberapa hari di HCMC barulah saya tahu kalau Pham Ngu Lao, nama kawasan backpacker, merupakan kawasan strategis yang dekat kemana-mana dan letakanya berada di distrik 1 kota HCMC. 

Karena lokasi dan suasananya ini lah saya memutuskan untuk stay beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan ke Hanoi via udara, setelah bertanya dan melakukan pertimbangan saya urung untuk menggunakan kereta api  karena masalah waktu. Alhasil saya pun book kamar untuk 2 malam, membeli tiket pesawat, dan membeli paket tour sungai mekong untuk keesokan harinya. Untuk menghabiskan waktu saya pun berjalan-jalan di sekitar Pham Ngu Lao. Saya mengunjungi taman dan pasar tradisional yang letaknya tidak jauh dari lokasi saya menginap. Saya mendapat kamar dorm seharga 11 USD per malam, kondisinya sangat nyaman untuk sekedar istirahat setelah lelah berjalan seharian.

Sabtu, 14 Maret 2015

Siem Reap Firstimer, Berkunjung Ke Angkor Wat

23 Januari 2015

Pintu Masuk Kuil Angkor Wat
Sekitar jam 7 pagi pesawat Air Asia yang saya tumpangi mendarat di bandara Siem Reap, Kamboja. Inilah pertama kali saya berkunjung ke Kamboja. Bandaranya tergolong bandara kecil, namun merupakan bandara internasional karena destinasi utama Siem Reap ini adalah Angkor Wat, situs candi yang masuk kedalam World Heritage Unesco, tak heran kalau banyak maskapai internasional wara wiri disini. Setelah turun dari pesawat saya langsung antri di konter imigrasi, dan beruntungnya sebagai pemegang pasport Indonesia kita bebas visa untuk memasuki negara-negara ASEAN kecuali Myanmar. Paspor telah di stempel, saya langsung menuju ke pintu keluar untuk mencari tuktuk, tapi sebelumnya saya harus memecah 100 USD ke pecahan lebih kecil. Kita dapat mengunakan USD di Kamboja sebagai alat transaksi, selain mata uang resmi kamboja yakni Riel Kamboja. Begitu keluar dari pintu bandara saya langsung didatangi seorang supir tuktuk, apalagi kalau bukan menawarkan jasa tuktuknya. Setelah tawar menawar harga dengan supir tuktuk kami sepakat diharga 45 USD untuk sewa tuktuknya satu hari sampai jam 6 sore. Sebelumnya saya sudah riset di internet kalau harga tuktuk ke kota itu sekitar 20 USD sekali jalan dan sewa tuktuk one day tour ke angkorwat sekitar 20 sampai 25 USD. Jadi kami sepakat diharga 45 dengan syarat dia mengantar saya terlebih dahulu ke loket pembelian tiket bus ke Phnom Phen untuk nanti malam.


Kompleks Kuil Bayon
Setelah semuanya beres, kami langsung berangkat mencari loket pembelian tiket. Saya sudah mencatat alamatnya sewaktu di Indonesia, dan selanjutnya biar urusan si supir tuktuk ini yang mencari. Saya tergolong gambling dalam hal memilih supir tuktuk ini. Soalnya saya sendiri belum pernah ke Kamboja sebelumnya, ditambah info dari internet yang menyebutkan bahwa terdapat scam dimana-mana, jadi tak ada pilihan lain selain waspada. Dalam tawar menawar harga tuktuk tadi pun sama, saya hanya modal feeling saja yang kemudian sepakat diharga 45. Supir tuktuk yang saya sewa umurnya lebih muda 3 tahun dibawah saya, jadi sangat enak diajak ngobrol apalagi bahasa inggrisnya sama dengan saya yang  'paspasan'. Semua kendaraan di kamboja kemudinya di kiri berbeda dengan di Indonesia, jadi kalau di jalan raya mereka berkendara di sebelah kanan. Ras masyarakat disini juga hampir sama dengan di Indonesia, mulai dari mata, hidung sampai warna kulit. Tak heran kalau saya kerap diajak warga sekitar berdialog dalam bahasa mereka yang logatnya hampir mirip dengan logat tanah kealhiran saya, Batak. :)

Kodisi Jalan Menuju Angkor
Sekitar 45 menit lebih berkendara, kami sampai di pusat kota Siem Reap. Kondisinya hampir sama dengan daerah-daerah di Indonesia. Kiri kanan jalan utama terdapat ruko maupun bangunan komersial yang kebanyakan dijadikan pertokoan maupun penginapan. Selain itu terdapat juga beberapa pasar dadakan dalam perjalanan saya menuju tempat pembelian tiket, jadi tak heran kalau kondisi jalanan saat itu macet. Kurang lebih seperti kondisi pasar kaget di Indonesia pada umumnya. Setelah sampai di pool pembelian tiket bus ke Phnom Penh, saya langsung menanyakan bus Giant Ibis yang banyak direkomendasikan orang di Internet. Tapi sayangnya sudah full book semua. Jadi dia menawarkan bus yang berbeda dengan harga yang lebih mahal sedikit sekitar 12 USD. Karna tidak ada pilihan dan itu satu-satunya bus malam yang tersedia, saya pun langsung membeli tiket tersebut. Tiket sudah ditangan, karna saya tidak menginap di Siem Reap, petugas loket menyarankan saya tiba di tempat ini sebelum jam 10 malam, karena bus akan berangkat pukul 22.30 malam dan saya akan di jemput di tempat saya membeli tiket. Setelah menitip tas di loket saya dan tuktukpun meluncur ke destinasi wisata tersohor di negeri ini, Angkor Wat.

Relief  Wajah di Kuil Bayon
Dalam perjalanan menuju Angkor Wat, saya berdiskusi dengan supir tuktuk mengenai rute terbaik dalam mengunjungi situs candi terbesar di dunia ini. Terdapat 4 situs yang paling populer, yakni Angkor Wat, Bayon, Angkor Thom dan Ta Prohm. Kami akan memulainya dari Bayon, Angkor Thom, Ta Prohm dan yang terakhir Angkor Wat. Kenapa kami mengunjungi Angkor Wat terakhir? Karena saat itu waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi dan kondisi Angkor Wat pada jam itu adalah yang paling padat, jadi dia menyarankan Bayon lah yang pertama kali dikunjungi. Setelah tiba di tempat pembelian tiket, dia mengarahkan saya ke peta yang menunjukkan kompleks candi di sekitar Angkor Wat dan rute-rute yang akan kami lalui. Dia menjelaskan secara detail dan tempat-tempat pemberhentian atau meeting point kami nantinya, karena yang akan mengeksplore candi itu nantinya saya sendiri dan dia hanya menunggu di parkiran tuktuk. Saya membeli tiket one day pass dengan harga 20 USD. Supir tuktuk mengingatkan saya agar menjaga tiket tersebut karena sewaktu-waktu akan ada petugas yang memeriksa. Ditiket tersebut terdapat foto kita, jadi kita tidak dapat menggunakan tiket orang lain karna foto tersebut akan dicocokkan dengan wajah pemiliknya.

Bayon, kuil yang kami kunjungi merupakan satus-satunya Kuil Budha yang terdapat di komplek angkor dan didirikan oleh Raja Jayawarma VII. Kuil ini identik dengan stupa atau menara 4 wajahnya. Terdapat lebih dari 200 wajah yang terukir di stupa-stupa ini dan semua wajah-wajah ini umumnya sama. Menurut supir tuktuk yang saya tanyai, wajah-wajah ini melambangkan senyum tulus dari hati atau sifat welas asih bodhisatwa, karena tidak memperlihatkan gigi sama sekali. Kuil ini terletak di tengah komplek kuil Angkor. Di sebelah Bayon, apabila kita berjalan sedikit lebih jauh, terdapat Terrace of Elephants. Bangunan ini merupakan pelataran luas yang diperuntukkan Raja untuk menyambut para tentara-tentaranya. Terrace of Elephants merupakan bagian dari Kompleks Kuil Angkor Thom. Di dalam kompleks ini juga terdapat susunan batu, yang telah direstorasi, membentuk Budha Tidur.

Jembatan  Penghubung Terrace of Elephants dan Angkor Thom


Kompleks Kuil Angkor Thom



Susunan Batu yang Membentuk Relief Budha Tidur 


Pohon yang Tumbuh di Reruntuhan
Ta Prohm
Setelah Puas jalan-jalan mengelilingi Angkor Thom dan Bayon saya ke parkiran mencari supir tutuk untuk melanjutkan perjalanan ke Ta Prohm. Sepanjang perjalanan kiri dan kanan jalan merupakan hutan yang masih sangat asri. Semakin dekat ke Ta Prohm, ukuran pohon semakin besat-besar dan tinggi-tinggi. Apabila sudah pernah menonton film Tomb Raider nya Angelina Jolie, pasti sudah tidak asing lagi dengan kuil ini. Yap, kuil yang dijalari akar-akar pohon raksasa. Karena usia dari pohon-pohon yang terdapat di kuil ini sudah tua dan bahkan sudah mati, untuk menjaga bentuk dan susunan kuil, beberapa pohon disanggah dengan menggunakan besi. Pemerintah Kamboja sangat merawat situs ini, terlihat sangat banyak sekali kegiatan restorasi dimana-mana, karna mungkin pemerintah sadar bahwa situs Angkor ini merupakan sumber pendapatan devisa mereka dari segi pariwisata. Puas mengelilingi Ta Prohm dan mengambil beberapa foto saya pun keluar dari kompleks kuil tersebut. Diluar kompleks sangat banyak pedagang baik itu makanan maupun souvenir, kondisinya hampir sama seperti di Prambanan. Sebelum memulai perjalanan selanjutnya saya terlebih dahulu makan siang merangkap malam, karna susah mendapatkan makanan halal di daerah ini. Saya pun memilih ikan sebagai menu. Ikan tersebut disajikan menggunakan santan dan bumbunya hampir sama seperti masakan Indonesia, mereka menyebutnya Amok Fish. 


Kompleks Kuil Ta Prohm

Akar Pohon yang Merambat di Reruntuhan Ta Prohm

Jalan Menuju Angkor Wat
Kuil berikutnya dan yang terakhir yang saya kunjungi adalah Angkor Wat. Kuil ini merupakan iconnya kompleks candi di Angkor. Di kelilingi oleh sungai, kuil ini merupakan satu-satunya kuil yang menghadap ke arah barat. Karena posisinya, tak heran banyak orang yang rela bangun pagipagi untuk menyaksikan sunrise di tempat ini. Karena merupakan Kuil beraliran hindu pada awalnya, Angkor Awat didedikasikan untuk penyembahan terhadap dewa Wisnu. Kuil ini didirikan pada zaman pemerintahan Raja Suryawarman II, ditemukan dan direstorasi pada tahun 1986 dan 1992, serta ditetapkannya kuil ini sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO menjadikannya sebagai destinasi utama pariwisata yang banyak dikunjungi oleh masyarakat mancanegara. Bentuknya yang unik menjadikannya sebagai simbol negara Kamboja. selain sebagai kuil, Angkor Wat juga berfungsi sebagai galeri, tak heran jika di sepanjang koridor di ke empat sisi bangunannya terdapat relief-relief yang menceritakan kisah Ramayana dan Mahabrata. Saya mengeksplore kuil ini hingga jam 5 sore, kondisi saat itu sangat ramai sekali. Karena saya jajni dengan supir tuktuk untuk kembali ke kota pada jam 5 sore saya pun menyudahi perjalanan saya di Angkor. 

View Angkor Wat dari Danau

Komplek Kuil Angkor Wat



Salah Satu Area Di Angkor Wat
   
Relief di Sepanjang Koridor Angkor Wat

Pub Street
Satu hari merupakan pilihan yang pas untuk mengunjungi Angkor jika anda tidak memiliki waktu yang banyak seperti saya. Selain tiket one day pass, terdapat juga tiket yang berlaku 3 hari dan juga tiket yang berlaku hingga 1 minggu penuh. Selain menggunakan tuktuk, para wisatawan juga dapat menggunakan sepeda untuk mengeksplorasi kompleks kuil ini. Jaraknya dari kota Siem Reap sekitar 50 km dan dibutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih apabila dicapai dengan menggunakan sepeda. Setelah di drop oleh si supir tuktuk di loket pembelian tiket bus, waktu saat itu menunjukkan pukul 18.30 waktu setempat, saya pun berkeliling kota Siem Reap. Karena lokasi saya membeli tiket sangat dekat dengan Pub Street, kalu di bali seperti kawasan legian, alhasil saya berkeliling sembari membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang nanti. Tepat jam 22.00 malam saya pun kembali ke loket pembelian tiket dan dijemput tak lama setelahnya. Waktu yang diperlukan untuk sampai ke kota Phom Pehn sekitar 7 sampai 8 jam, dan saya akan tiba disana sekitar jam 6 pagi. Saya memilih bus malam agar bisa sekalian bermalam di dalam bus, oleh karena itu saya memilih jenis sleeper bus yang didalamnya terdapat tempat tidur sebagai ganti kursi yang terdapat pada bus-bus umumnya.



Sabtu, 07 Maret 2015

Putrajaya by Accident

22 Januari 2015



Gedung Parlemen Putrajaya
Ini sudah kesekian kalinya saya di Kuala Lumpur. Dari pengalaman-pengalaman sebelumnya saya memang tidak pernah stay di KL lebih dari 2 hari, malah sering cuma sambil lewat saja. Dan setiap saya ke KL saya mengusahakan untuk tidak datang ke tempat yang sama berulang-ulang. Kali ini saya telah merencanakan untuk mengunjungi kawasan wisata di daerah Bukit Tinggi, Malaysia. Namanya Colmar Tropicale, suatu kawasan wisata berupa resort dengan arsitektur bergaya eropa klasik. Setelah ceck in hostel di KL saya menyempatkan diri untuk meninjau lokasi pembelian tiket ke daerah tersebut. Letaknya ada di Berjaya Times Square lantai 8 (lengkapnya bisa dilihat di sini ). Just to make sure agar besok paginya tidak buang-buang waktu mencari tempat pembelian tiket ini.

Setelah berkeliling Berjaya Times Square dan menemukan lokasi pembelian tiket, saya melanjutkan makan malam di daerah bukit bintang. Kondisi kawasan Bukit bintang saat itu sangat penuh dengan aktivitas konstruksi pembangunan mrt jadi tidak nyaman untuk berjalan-jalan. Oleh karena itu saya memutuskan untuk kembali ke hostel untuk mandi dan beres-beres. Saya menginap di Sunshine KL, tempatnya sangat bagus, recomended, atmosfir backpackernya benar-benar terasa. Disinilah saya bertemu dengan Meena cewek asal US dan Bruno cowok asal Brazil. Kami bertiga sama-sama solo backpacker. Setelah bertukar cerita dan berbagi pengalaman, mereka mengajak untuk bergabung mengunjungi Batu Cave besok pagi. Dengan berat hati saya menolaknya karna telah memiliki rencana ke Colmar. Tapi saya memberi mereka beberapa tips karena saya sudah pernah kesana sebelumnya.

Mesjid Putra
Besok paginya saya bangun jam 7 pagi. Setelah mandi saya sarapan terlebih dahulu di hostel (untungnya mereka menyediakan sarapan). Saya berkemas dan ceck out setelahnya karna nanti malam saya sudah harus ke bandara. Saya menitip tas terlebih dahulu dan menandatangaani beberapa prosedur hostel. Kondisi pagi itu bisa dikatakan cukup cerah. Saya tidak perlu terburu-buru karna loket penjualan tiket buka jam 9.30, jadi saya memutuskan untuk berjalan kaki saja ke Berjaya Times Square karna jaraknya tidak begitu jauh. Sebelumnya saya mampir ke mini market untuk membeli beberapa botol air minum. Persiapan bekal sudah aman, saya pun langsung menuju ke lantai 8 Berjaya Time Square. Karena mall belum buka saya masuk melalui pintu samping bersama staff toko lainnya. Sesampainya di loket saya menanyakan one day return ticket untik ke Colmar, dia kemudian memgeceknya beberapa saat dan ternyata sudah full book sampai besok. Wahhhhhh sial, gagal dong rencana ke Colmarnya. Saya pun putar otak, kemana destinasi alternatif lainnya. Setelah berpikir beberapa saat dan search di internet saya memutuskan untuk pergi ke Putrajaya. Kebetulan saya belum pernah kesana sebelumnya. Saya langsung menuju stasiun monorel dan berangkan menuju KL sentral.


Stasiun Cyberjaya
Terdapat beberapa cara menuju ke Putra jaya, bisa melalui bus dan juga kereta bandara (KLIA Transit). Karna waktu sudah menunjukkan hampir jam 12 siang, saya pun memutuskan untuk naik kereta. Selain lebih simpel saya juga ingin mencoba kereta bandara sesekali. Terdapat 2 jenis kereta bandara, KLIA Express dan KLIA Transit. KLIA transit lah yang menuju ke Putrajaya, tiket sekali jalan menggunakan kereta ini sebesar 9.5 RM. Saya menunggu kedatangan kereta ini sekitar 20 menit dan perjalanan yang dibutuhkan untuk sampai ke stasiun Cyberjaya adalah sekitar 30 menit. Sesuai dengan namanya KL Transit, kereta ini berhenti dibeberapa stasiun sebelum sampai di KLIA, Berbeda dengan KLIA Ekspress yang langsung menuju ke bandara.

Sesampainya di Stasiun Cyber Jaya saya langsung menuju ke stasiun bus dalam kota Putra Sentral, cukup berjalan mengikuti papan penunjuk arah kita akan menemukan bus dan taksi berjejer,  saya mencari bus untuk menuju ke Mesjid Putra. Uniknya tiket bus dalam kota harganya cuma 0.5 RM (jauh dekat) selama masih berada dalam pulau Putrajaya. Mesjid Putra merupakan salah satu bangunan iconik di Putra Jaya, jadi setiap orang yang ke Putrajaya pasti mampir dulu ke Mesjid ini. Putra Jaya merupakan sebuah kota baru yang dipersiapkan oleh pemerintah Malaysia sebagai kota pusat pemerintahan. Kota ini didesain dan dikembangngkan sekitar tahun 1990an dan mulai aktif beropersai dan diresmikan sekitar tahun 2001. Karena masih tergolong baru, kota ini cenderung masih sepi, kondisi jalanan masih legang, dan cuma terdapat beberapa warga yang saya duga sebagai PNS nya Malaysia yang berkantor di Putrajaya. Karena kotanya didesain dan dipersiapkan secara matang, tak heran kalau kondisi jalan, baik itu untuk kendaraan bermotor dan pejalan kaki, sangat nyaman dan lebar-lebar. Saya eksplore putra jaya sampai jam 4 sore karena kondisi saat itu mendung, dan setelah saya sampai di staiun putra kembali, hujan pun turun.


Bangunan Perbadanan Putrajaya


Suasana Lakeside Putrajaya


Kondisi Taman Putrajaya


Saya tiba di Kuala Lumpur sekitar jam 5 sore dan menghabiskan waktu di KLCC sebelum saya kembali ke hostel mengambil ransel dan bertolak ke bandara karena besoknya saya ada penerbangan ke Siem Reap jam 6 pagi. 


Rabu, 04 Maret 2015

Malaka One Day Trip

21 Januari 2015

Red Building Area
Hari ini saya berniat untuk exsplore Malaka maksimal sampai jam 3 sore agar saya sampai di Kuala Lumpur tidak terlalu malam. Saya tidak mau drama pencarian hostel disana terjadi lagi seperti di sini. Setelah beres-beres dan mandi (alhamdulillah airnya hidup) saya siap-siap untuk chek out dan menitipkan tas di resepsionis. Malaka merupakan salah satu situs yang dilindungi dan telah diakui oleh UNESCO. Selain alasan tersebut saya berkunjung ke Malaka karena jaraknya dari Kuala Lumpur yang lumayan dekat.


Bangunan di Jonker Street
Cuaca pagi ini sangat cerah, saya mampir di sebuah minimarket untuk membeli sarapan dan beberapa botol air minum untuk di jalan nanti (perlu dicatat kalau kita eksplor suatu daerah dengan berjalan kaki satu harian, kita harus banyak-banyak minum biar tidak dehidrasi, kalau lapar sih bisa ditahan, tapi jangan ditiru heheeheh). Saya memulai exsplore daerah di sekitar hostel dulu. Area Jonker Street, area ini dipenuhi oleh mayoritas bangunan-bangunan lama, jadi arstektur bangunannya masi orisinil bergaya tiongkok dan bergaya kolonial. Walaupun ada beberapa bangunan baru tapi semuanya didesain mengikuti arsitektur setempat jadinya kontekstual. Bangunan-bangunan ini umumnya difungsikan sebagai hunian, bayak juga yang dijadikan hotel ataupun cafe dan restoran. Salah satu yang unik di kawasan Jongker Street ini adalah mereka pada umumnya menjual pernak pernik ataupun artcraft hasil buatan tangan sendiri, sehingga tempat ini lebih cocoknya disebut sebagai area pasar seni. Untuk harganya sendiri jangan ditanya, sesuatu yang dibuat dengan susah payah pastilah harganya ikut menyesuaikan, tapi apalah arti harga demi sebuah koleksi. ;)




Malaka Riverside
Setelah puas explore kawasan Jonker street. Saya melanjutkan berjalan menyusuri jalan kecil disepanjang sungai Malaka. Bangunan-bangunan disini juga masih sama, arsitektur melayu, tiongkok dan eropa. Cuma bedanya bangunan-bangunan ini berpapasan langsung dengan Malaka River jadi suasanaya agak berbeda. Karna masih pagi toko dan restoran di sepanjang sungai ini belum buka dan jalanan masih sepi. Alhasil sayapun selfie mumpung belum ramai orang berlalu lalang. Kalau kita menyusuri sungai ini, selain bangunan ber-arsitektur unik kita juga akan menemukan beberapa bangunan yang menjadi landmark Kota Malaka, seperti Kincir Air dan Museum Bahari (Berbentuk seperti kapal layar). Saya menyempatkan diri untuk memasuki museum ini. Dengan membeli tiket masuk seharga 6 RM saya sudah bisa memasuki Museum Bahari (Berbentuk kapal) dan Museum Maritim. 


Museum Bahari
Pertama yang saya masuki adalah Museum Bahari. berbentuk Kapal Layar dan menjadi salah satu bangunan iconic di pinggir Sungai Malaka. Museum ini terdiri dari 2 lantai dan interiornya sangat unik. Karena bangunan museum ini notabenenya adalah sebuah kapal, jadi interior dalamnya juga mengikuti interior kapal pada umumnya. Pintu masuk dan keluar berada dilantai 2. Kita harus melepas alas kaki ketika memasuki museum ini, karena lantainya terbuat dari kayu asli dan dipelitur dengan halus sekali. Jangan takut kepanasan karena kapal ini dilengkapi dengan sistem pengkondisian udara yang cukup baik. Isi dari museum ini pada umumnnya adalah memaparkan sejarah dunia perkapalan yang terjadi di Selat Malaka, mulai dari tokoh-tokoh yang berperan didalamnya, barang yang diperdagangkan hingga miniatur jenis-jenis kapal tradisional dari bebagai daerah di asia. Terdapat pula diorama-diorama menarik dilengkapi dengan patung-patung para pelaut jaman dulu. Museum kedua yang merupakan terusan tiket dari Museum Bahari yang saya kunjungi adalah Museum Maritim. Terletak di seberang jalan Museum Bahari, museum ini lebih kepada memamerkan sejarah dan teknologi persenjataan tentara laut Malaysia dari jaman dulu hingga sekarang. Selain persenjataan dan kendaraan tempur, museum ini juga memajang foto-foto kapten terdahulu hingga saat ini. Di bagian luar bangunan terdapat senjata-senjata berat seperti Kapal Tempur lengkap dengan persenjataan roketnya. 


Kincir Air di Sungai Malaka
Puas melihat sejarah perkapalan dan kelautan Malaysia, saya beranjak ke Menara Taming Sari. Menara ini dibuka untuk umum pada tahun 2008. Dengan menaiki menara ini kita dapat melihat pemandangan Kota Malaka 360 derajat dari ketinggian 110 meter. Tiket untuk dapat menikmati wahana ini adalah sebesar 20 RM. Menarik sekali, kita hanya perlu duduk dan bangunan ini akan berputar setibanya kita berada di posisi puncak. Setelah diajak berputar-putar diketinggian 110 meter selama kurang lebih 7 menit bangunan yang lebih mirip dengan akuarium in pun turun yang berarti pertunjukan telah selesai. Di bawah menara kita dapat membeli beberapa souvenir atau hanya sekedar melihat-lihat saja.


Menara Taming Sari

View Museum bahari Dari Menara Taming Sari


Porta de Santiago
Bertolak sedikit dari Menara Taming sari terdapat beberapa spot-spot menarik seperti Dataran Pahlawan dan Porta de Santiago, sebuah replika benteng pertahanan portugis. disekitar benteng ini terdapat teater outdoor untuk pertunjukan dan juga replika istana kesultanan malaysia. Naik ke atas bukit terdapat Saint Paul's Church, sebuah gereja yang dibangun oleh Portugis sekitar tahun 1521. Gereja ini juga sempat menjadi benteng pertahanan setelah diambil alih oleh Jerman, gereja ini juga dijadikan sebagai area pemakaman, sampai sekarang kita masih bisa melihat sisa reruntuhan benteng pertahanan dan beberapa makam. Puas berkeliling di atas bukit, saya kemudian turun dan duduk santai di kompleks Bangunan Merah.



Bangunan Merah
Yap, Bangunan Merah ini merupakan salah satu iconic building di Malaka, selain dijadikan meeting point tempat ini juga sangat cocok untuk duduk-duduk sambil bersantai ria. Bangunan merah ini sebenarnya terdiri dari beberapa bangunan/tempat yang dindingnya dicat berwarna merah. Di sekitar area ini terdapat Museum, Christ Church Building, Dutch Square, dan Clock Tower. Tak heran area ini menjadi pusat dari Historic Place nya Malaka. Kita dapat menikmati berbagai minuman segar seperti cendol dan es campur khas malaysia dengan harga 8 RM per porsinya. Selain itu terdapat juga becak dengan desain-desain unik yang bisa di sewa untuk berkeliling Kota Tua Malaka.



Es Campur Malaka
Waktu menunjukkan jam 3 sore saya pun bergegas ke Hostel tempat saya menginap untuk mengambil ransel dan kembali lagi ke Dutch Square untuk naik bus menuju Malaka Sentral. Tiket ke Kuala Lumpur saya dapatkan di Loket Malaka Sentral dengan harga 10 RM. Tersedia banyak bus dengan berbagai pilihan untuk menuju Kuala Lumpur, umumnya mereka berangkat tiap jam, jadi jangan khawatir. Tak lama menunggu bus yang saya tumpangi tiba dan saya tidak lupa membeli beberapa souvenir khas Malaka untuk dijadikan oleh-oleh.


Perjalanan ke Malaka kali ini sangat berkesan, karena ini merupakan pertama kalinya dan saya lakukan sendiri dengan cara Backpacker terlepas dari kejadian dimalam sebelumnya but it still memorable. Jadi tunggu apa lagi, jika kamu berkunjung ke Malaysia tidak ada salahnya memasukkan Malaka ke dalam itenary perjalanan kamu. 

Selamat berlibur, Salam and Keep Prepare for Your Next Adventure ..!!!!!

Malaka ohh Malaka....

Malam, 20 Januari 2015

Setelah di Kuala Lumpur masih ada cerita drama selanjutnya. Yap, terjadi di Malaka. Sekitar 2 jam lebih saya diperjalanan menuju ke Malaka, tak terasa sama sekali. Tak ada macet dan jalanan mulus. Saya menaiki bus Transnasional dan kebagian single seat, jadi saya bisa santai dan berlapang-lapang ria.

Tepat pukul 19.20 waktu setempat saya tiba di terminal bus pusat Malaka, Malaka Sentral. Terminal ini buka 24 jam dan tersedia free wifi. Jadi sambil menunggu bisa conect ke internet. Malaka Sentral selain difungsikan sebagai terminal bus terpadu, juga difungsikan sebagai pusat pasar di Malaka. Karena saya tibanya malam hari kondisi terminal sudah agak sepi, hanya tersisa beberapa orang yang sedang menunggu bus.

Setelah turun dari Transnasional, saya pun berjalan mengikuti papan petunjuk arah menuju stasiun bus dalam kota. Sama seperti di Kuala Lumpur di Malaka juga terdapat Bus Umum yang dikelola oleh pemerintah, namanya Panorama. Sistemnya juga sama, naik melalui pintu depan bayar tiket ke supir secara cash (bisa pakai kartu kalau punya). Saya pun duduk menunggu bus yang saya akan naiki, bus no 17 dengan tujuan bangunan merah (Red Building). Sesuai dengan info dari hostel yang saya booking dari Indonesia. Saya bisa menaiki bus ini dengan ongkos 2.5 RM atau dengan menggunakan taksi 20 RM, dan tentunya saya lebih memilih yang paling murah dong kan Backpacker, jadi selalu ingat save your money for the most important things.

Hampir 2 jam menunggu bus no. 17 ini tak kunjung muncul juga, hampir putus asa juga anak mudanya. Apa trayeknya sudah gak ada atau sudah tutup karna kemalaman ya? Untuk memastikan saya bertanya ke petugas yang masih ada di stasiun. Dan untunglah katanya masi ada yang beroperasi, cuman karna sudah malam jumlah bus dikurangi jadi harus bersabar sedikit.

Bus yang di tunggu pun muncul sekitar jam 9 malam. Rupanya bukan saya saja yang menunggu bus ini banyak warga dan umumnya wisatawan yang antri untuk naik. Setelah semua penumpang naik, bus pun berangkat tidak pakai ngetem. Sepanjang jalan banyak bangunan lama di sisi kiri kanan jalan. Dan saya harus memperhatikan si 'bangunan merah' ini, karna di situ saya harus berhenti. Sekitar 20 menit bus melaju, tibalah kami di bangunan merah. Kondisi saat itu sudah sangat sepi karna sudah hampir jam 10 malam. Saya pun buru-buru mengikuti instruksi yang saya capture dari web hostel yang telah saya booking sebelumnya.

Hampir satu jam saya berjalan saya tak menemukan hostel yang saya pesan. Mau bertanya di jalan pun tidak ada yang bisa ditanyai. Inilah sialnya kalau tiba malam hari, kita tidak mempunyai waktu lebih untuk mencari lokasi penginapan yang sudah dipesan jauh-jauh hari. Dan saya tidak memiliki peta pula. Saat itu saya memutuskan untuk mencari penginapan lain yang masi buka. Dan jatuhlah pilihan pada penginapan berbentuk rumah toko dengan lokasi dekat sungai Malaka. Harganya sekitar 40RM per malam untuk kamar jenis dorm tanpa breakfast. Tanpa banyak basa basi saya langsung ambil dan langsung check in. Kondisi kamarnya rapi dan bersih, mungkin karna pada saat itu hanya saya dan bapak-bapak asal taiwan yang ada dalam kamar itu, jadi tidak terlalu sumpek.

Setelah berbincang sebentar dengan bapak-bapak asal taiwan tersebut saya memutuskan untuk stay di malaka 1 malam saja (sesuai rencana awal). Karna kata beliau 1 hari sudah cukup untuk eksplore kota malaka karna objek-objek wisata bisa dilalui dengan berjalan kaki saja.

Karena 1 harian sudah penat dengan drama jalan-jalan tanpa arah kesana kemari, saya berniat untuk mandi agar tidur lebih enak. Ketika sudah siap-siap untuk mandi (dalam keadaan 'polos') ternyata air tidak ada saudara-saudara, dan resepsionis sudah tidur pula. Fiuhhhhhh.... Alhasil saya pun tidur dengan hanya bermodalkan lap-lap cantik dengan tissu basah. XD

Senin, 02 Maret 2015

Kuala Lumpur oh Kuala Lumpur...

20 Januari 2015

Hasil Jepretan Iseng Pembunuh Kebosanan
Pilot mengabarkan bahwa pesawat yang saya tumpangi akan tiba di Kuala Lumpur pada jam 13.35 waktu setempat. Yap saya masih ada di dalam pesawat tidak bisa tidur karena mungkin terlalu exited untuk sampai di KL dan buru-buru memulai perjalanan Solo Backpacker saya. Alhasil untuk membunuh kebosanan saya melihat-lihat majalah, dan iseng mengambil beberapa foto ke arah luar jendela pesawat, apalagi kalau bukan foto sayap pesawat dan gumpalan awan-awan.

Tepat jam 13.35 waktu setempat pesawat Air Asia yang saya tumpangi landing di bandara KLIA 2, bukan di bandara LCCT lagi. Kalau dulu terminal kargo pesawat di sulap jadi bandara pesawat low budget, sekarang mereka (Pemerintah Malaysia) telah membangun bandara baru yang jauh lebih bagus dan "besar" dibandingkan LCCT dulu. Kenapa saya bilang besar karna bandara baru ini sangat luas sekali, waktu yang saya butuhkan untuk tiba di konter imigrasi lewat dari 30 menit, belum lagi ke pintu keluar yang letaknya di lantai dasar, tambah 20 menit lagi. Tapi jangan kawatir namanya juga bandara baru jadi semuanya sudah dipersiapkan agar pengunjung merasa nyaman dan tidak bosan saat berjalan di dalam bandara. Bayangkan belum genap 1 tahun beroperasi bandara ini sudah ramai dengan gerai-gerai yang menjual beraneka ragam benda mulai dari makanan, pakaian sampai konter penyedia SIM card GSM seluler pun sudah ada.

Niat hati masi ingin explore bandara baru lebih lama, waktu sudah menunjukkan jam 2 lebih. Saya buru-buru pergi mencari konter penjual tiket bus menuju ke Malaka. Dengan mengikuti papan penunjuk arah yang ada, tibalah saya di lantai dasar bandara. Disini berjejer konter-konter penjualan tiket bus ke beberapa destinasi di Malaysia. Sesuai dengan info yang saya dapat di internet terdapat satu buah konter yang menjual tiket ke malaka yakni bus Transnasional. Setelah bertanya ke aunti penjual tiket, bus selanjutnya akan berangkat sekitar pukul 4 sore dengan harga sekitar 25 RM (lebih mahal jika kita berangkat dari terminal di Kuala Lumpur) . Berarti saya punya waktu legang 2 jam lebih. Setelah mempertimbangkan dengan matang, saya memutuskan cabut dari bandara dan memilih berangkat ke Malaka dari Kuala Lumpur. Disinilah cerita melelahkan itu terjadi, akibat kurangnya riset. Saya dengan cepat membeli tiket KLIA - KL Sentral seharga 12 RM. Saya menyadari kesalahan saya setelah tiba di KL Sentral, ternyata disana tidak ada tempat penjualan tiket bus antar kota. Setelah bertanya ke petugas ternyata saya harus membelinya di terminal Puduraya (langsung dalam hati "Coba tadi dari bandara saya langsung ke Puduraya"). Saya langsung bergegas menuju stasiun monorel, karna "anggap remeh" dan "sok tahu" terhadap medan tempur. Alhasil saya pun berputar-putar di KL sentral hendak mencari stasiun monorel. Memang betul kata peri bahasa Malu bertanya Sesat di Jalan. Dan karna sudah lelah akhirnya saya pun bertanya juga, ternyata terdapat jalan pintas melalui mall yang baru selesai dibangun di dekat KL Sentral tanpa harus capek-capek naik turun tangga memutar dan menyebrangi jalan raya.

Sesampainya di stasiun monorel, saya bergegas melihat peta rute kereta dan mencari-cari Terminal Puduraya yang saya temukan adalah Stasiun Pudu. Tanpa berpikir panjang dan bertanya ke petugas saya langsung ke mesin penjual tiket untuk membeli token ke stasiun pudu tersebut dan kemudian berangkatlah saya ke Stasiun Pudu. Setelah keluar dari stasiun saya mencari-cari dimana posisi terminal dan tidak ada tanda-tanda terminal sama sekali. Dan terjadilah pencarian tanpa arah untuk kedua kalinya. Setelah lelah berjalan hampir 30 menit sayapun akhirnya memutuskan untuk bertanya pada warga dimana Stasiun Puduraya itu berada, dia menjelaskan bahwa saya salah berhenti stasiun harusnya masih harus melalui beberapa stasiun lagi, oalahhhh.

Suasana Ruang Tunggu
Terminal Bus BTS
Sayapun kembali ke stasiun Pudu dan membeli tiket menuju stasiun Bandar Raya sesuai instruksi aunti penjual es. Di jalan menuju ruang tunggu saya melihat konter penjual tiket bus. Saya melihat papan diatasnya sembari mecari tulisan Malaka atau apapun itu yang mirip dengan tulisan tersebut dan ternyata ada bus menuju ke sana. Saya pun langsung bertanya ke akak penjual tiket, dia bilang kalo bus selanjutnya itu berangkat jam 5 sore dan jam pada saat itu menunjukkan pukul 4 lebih beberapa menit. Saya pun langsung membeli tiket tersebut seharga 12 RM (kalau beli di terminal langsung harganya cuma 10 RM) karna takut kehabisan kalau saya membelinya di terminal. Setelah bertanya secara detail mengenai stasiun pemberangkatan saya baru tahu kalo bus tidak berangkat dari Puduraya melainkan BTS, terminal baru yang letaknya di selatan Kuala Lumpur, Terminal Terpadu Bandar Tasik Selatan. Karna saya telah membeli token tiket menuju bandar raya saya harus ke bandar raya terlebih dahulu kemudian membeli tiket lagi ke BTS.

Saya tiba di BTS sekitar jam 16.40 sore. Sayapun buru-buru bertanya ke petugas sambil menunjukkan tiket. Saya kemudian di suruh ke konter cek in untuk mengambil bording pass dulu baru bisa masuk ke ruang tunggu. Karna loketnya banyak saya pilih saja yang antriannya sedikit karna lagi buru-buru ini. Setelah cetak bording pass saya diberitahu oleh petugas loket kalau lain kali mau cek in sudah disediakan konter khusus, dan ternyata saya antri di loket pembelian tiket. Oalllahhhh pantesan nunggunya lama. Saya senyum-senyum sendiri ke petugasnya ,maklum baru pertama kali. :)

Tidak berberapa lama menunggu akhirnya bus menuju Malaka pun tiba. Tepat sesuai jadwal kami pun berangkat dari BTS jam 17.05 waktu setempat. Fiuhhhhhhh......



Minggu, 01 Maret 2015

Ribetnya Packing

19 Januari 2015

Packing, atau berkemas adalah hal ataupun rutinitas yang wajib hukumnya sebelum melakukan perjalanan, tidak perduli mau jauh/dekat atau lama/sebentar. Kamu tidak maukan aktivitas traveling kamu rusak gara-gara kamu salah bawa barang atau bahkan lupa membawanya. Itulah sebabnya packing merupakan hal yang amat sangat "sakral" (saya biasa menyebutnya demikian) dan harus dipikirkan secara matang.

Kali ini aktivitas packing yang saya lakukan adalah dalam rangka mempersiapkan perjalanan saya selama 20 hari Solo Backpacker. Ini merupakan perjalanan terlama dan terjauh sampai saaat ini yang pernah saya lakukan. Tidak main-main saya memutuskan pergi ke belahan bumi bagian utara, China atau sesuai dengan EYD kita saat ini kita menyebutnya Tiongkok. Mengapa saya menyebutnya "tidak main-main", karena Januari waktu dimana wilayah bumi bagian utara sedang dalam kondisi musim dingin dan sesuai dengan informasi yang saya dapat suhu extreme bisa mencapai minus 18 derajat (WOOOOOOWWWW). Untungnya saya berangkat diakhir Januari dan kondisi cuaca pada saat itu sudah agak "mendingan" karna sudah mau dekat ke musim semi.

Sebagai mahluk yang biasa hidup di iklim tropis saya harus mempersiapkan semuanya mulai dari sepatu, baju serta celana yang dapat menghalau dinginnya udara di sana. Beruntungnya hidup di era moderen saat ini adalah semua keperluan perlengkapan winter dapat diperoleh dengan cara belanja online dengan harga yang miring pula. Saya memesan 2 set long jhon (sejenis pakaian dalam bebahan polyester yang katanya dapat menjaga agar tubuh kita tetap hangat), 1 buah earwarm untuk menghangatkan telinga, 1 buah topi kupluk yang juga dapat dijadikan syal serta 1 buah jacket model parka. 

Lain halnya dengan pakaian, sepatu saya beli secara langsung karna ini menyangkut kenyamanan perjalanan, karena perjalanan kali ini hampir 80 persen dilakukan dengan berjalan kaki jadi harus benar-benar melalui fit and proper test sebelum membelinya. Karena saya orangnya perhitungan, saya memilih sepatu yang setelah pulang nanti bisa tetap saya manfaatkan. Dengan beberapa pertimbangan di atas, jatuhlah pilihan saya pada sepatu Running berbahan kain dengan sol yang lentur dan ringan untuk dibawa jalan berjam-jam bahkan mungkin seharian penuh. 

Pakaian sudah oke, sepatu dan jaket juga oke. Jangan lupa membawa peralatan mandi, saya membawa extra tissu basah just in case kalau saya tidak menemukan toilet untuk mandi atau sekerdar cuci muka dan percayalah tissu basah ini "sungguh sangat amat berguna sekali" khususnya di Tiongkok. Selanjutnya yang paling penting adalah peralatan elektronik agar tidak mati gaya. Saya membawa smartphone, ipod serta novel untuk mengatasi kebosanan, dan tentunya the last and the most important thing adalah kamera untuk mengabadikan setiap momen perjalanan kamu, karna no pict sama dengan HOAX. 

Saksi Bisu dan Partner Perjalanan 
selama 20 hari
Setelah urusan pakaian selesai permasalahan selanjutnya adalah wadah untuk mengepak barang-barang bawaan tersebut. Disini saya membawa dua buah backpack. Tas pertama yang saya bawa adalah tas gunung dengan kapasitas 60 liter dan tas yang kedua tas ransel ukuran sedang (orang sering menyebutnya daypack) yang berfungsi untuk membawa perlengkapan yang mobile (yang bolak-balik dibongkar setiap ada keperluan). Kenapa saya memutuskan membawa dua buah ransel? Selain tas gunung yang saya bawa tidak cukup untuk memuat semua barang yang saya bawa, alasan lain adalah untuk mempermudah mobilitas perjalanan dalam kota, ketika sudah cek in hostel tas gedenya ditinggalin dan yang ikut adalah tas yang lebih kecil. Kamu tidak maukan bepergian ketempat umum atau tempat wisata dengan menenteng tas dengan kapasitas 60 liter? Beratttttt nenggggg....


Selain barang-barang di atas, tidak lupa juga menyiapkan segala jenis dokumen yang perlu dibawa bila perlu siapkan copyanya jika sesuatu terjadi masalah dengan yang aslinya. 

After all packing business things have done, hal selanjutnya adalah tidur karna besok kebagian flight pagi.