Jumat, 10 April 2015

Last Day in Hanoi Hingga Pengalaman Pertama Berkereta Api Lintas Negara

28 Januari 2015

Sunset di Pinggir Danau Hoan Kiem


St. Joseph Cathedral di Hanoi
Hari ini tur kapal di Halong Bay berakhir. Setelah peserta tur lelah berkayak (saya lebih memilih stay di kapal karna cuaca sangat dingin) kami melanjutkan sarapan pukul 8 pagi. Sambil sarapan tur guide memeberikan informasi bahwa grup akan dibagi ke dalam 2 kelompok, kelompok yang akan kembali ke Hanoi dan yang kan melanjutkan perjalanan di Halong Bay 1 malam lagi. Di grup ini hanya saya dan Thomas yang akan kembali ke Hanoi. Kami akan bergabung dengan beberapa turis lain yang berasal dari kapal berebeda yang akan kembali ke Hanoi juga. Kami harus beres-beres dan check out dari kamar kami yang ada di kapal sebelum jam 10 pagi, karena petugas kapal harus membersihkan kamar-kamar tersebut sebelum tiba di pelabuhan untuk dipakai oleh rombongan tur yang telah menunggu di pelabuhan. Tiap hari memang agent travel yang saya sewa memberangkatkan setidaknya 11 kapal perhari untuk tur di Halong Bay ini. Kami pun menunggu di dek ruang makan setelah membereskan barang bawaan masing-masing. Sekitar 30 menit menunggu, kapal lain merapat kearah kami untuk membarter penumpang. Peserta yang akan melanjutkan tur pindah ke kapal tersebut, sedangkan yang akan kembali ke hanoi pindah ke kapal kami. Jadi saya dan Thomas tidak perlu berpindah kapal. Salah satu peserta tur yang pindah ke kapal kami ternyata orang Indonesia. Seorang cewek asal bali, Thomas yang lebih dulu menyapanya saat saya kembali dari toilet. Sambil menunggu jadwal makan siang kami yang terakhir, kami bertiga pun mengobrol banyak hal. Susah memang, saya harus menyesuaikan bahasa antara Indonesia dan Ingris (sebab inggris saya yang pas-pasan).



Suasana Jalanan Daerah Old Quarter
Sore Hari
Kami tiba di pelabuhan jam 12.30 waktu setempat, dan baru berangkat ke Hanoi pukul 1 siang. Bus yang kami tumpangi lebih kecil dari bus sebelumnya, namun masih nyaman. Sama seperti keberangkatan sebelumnya, waktu yang dibutuhkan untuk tiba di Hanoi kurang lebih 4 jam dan sekali berhenti di rest area. Saya lebih memilih tidur sambil mendengarkan musik sampai tiba di Hanoi 4 jam kemudian. Setibanya di Hanoi, kami di drop oleh bus di hotel masing-masing, jadi jangan khawatir tersesat. Suasana sore itu sungguh sangat berbeda ketika saya pertama kali tiba di Hanoi pada malam hari. Sangat ramai dan penuh dengan pertokoan segala jenis barang dan makanan. Oleh sebab itu saya buru-buru kembali ke hostel, karna saya diberi fasilitas shower gratis meskipun saya sudah ceck out di hari saya berangkat ke Halong Bay. Sisa sore itu pun saya manfaatkan untuk eksplore Hanoi sampai malam hari mengingat jadwal kereta saya malam ini adalah jam 10 malam. Sore itu saya jalan-jalan di sekitar Old Quater dan dilanjutkan ke danau, suasananya memang berbeda sekali saat saya berkunjung malam hari. Kondisinya sangat ramai. Terlihat memang danau ini sukses menjadi tempat warga sekitar maupun turis-turis untuk bersosialisasi. Ada yang berolahraga, belajar, jalan-jalan atau hanya sekedar duduk-duduk menikmati pemandangan danau disore hari. Satu hal unik yang saya temui di Vietnam, baik Ho Chi Minh City dan Hanoi, para pelajar yang rata-rata masih remaja langsung belajar bahasa inggris di lapangan. Mereka (rata-rata berkelompok) tak ragu untuk mengajak para turis untuk bercakap-cakap guna mengasah kemampuan bahasa mereka (untung saya berwajah lokal, sempat rambut saya pirang sedikit pasti saya juga bakal diajak oleh anak-anak itu).


Aktifitas Para Ibu di Taman Pinggir Danau Hoan Kiem

Aktifitas Olahraga di Taman Hoen Kiem Lake

Menunggu Sunset Di Temani Bunga-Bunga

Malamnya saya memutuskan makan di restoran cepat saji. Menu yang saya pilih apalagi kalau bukan ikan. Sisa malam itu saya habiskan menelusuri jalan-jalan kecil di Old Quater sambil membeli beberapa souvenir buat oleh-oleh. Saya juga sempat membeli jacket musim dingin dengan brand bagus tapi harga dan kualitas sangat oke (hitung-hitung sebagai alternatif jaket saat saya wisata ke beijing nanti). Saya kembali ke hostel jam 8 malam dan berangkat ke stasiun 1 jam kemudian dengan mengendarai ojek yang telah disediakan pihak hostel yang memang sudah saya urus semuanya ketika saya pertama kali tiba di Hanoi beberapa hari lalu. Jadi saya tinggal duduk manis dan terima beres saja. Memang harga bisa sedikit lebih miring jika saya mengurusnya langsung, namun keterbatasan waktu yang saya miliki mendorong saya melakukan langkah shortcut. Supir ojek yang membawa saya malam ini sudah tua dan tidak bisa berbahasa ingris, jadi saya hanya duduk diam dibelakang pasrah dibawa oleh beliau ngebut di jalanan kota hanoi yang cukup padat.

Petugas Taman Sedang Menanam Bunga

Bunga-Bunga yang Akan Segera Ditanam
Persimpangan Di Old Quarter Hanoi Tepat di Dekat Danau Hoan Kiem

Tepat pukul 10 kurang bebera menit (saya sudah takut terlambat saat itu) saya tiba di stasiun. Karna merupakan pengalaman pertama saya sembarangan saja masuk ke stasiun dan menunjukkan tiket saya ke petugas yang sedang berjaga di sana. Petugas tersebut pun dengan senang hati mengantarkan saya ke bagian keberangkatan international (rupanya saya salah masuk terminal). Dalam tiket yang saya pegang tercantum nomor gerbong dan bed saya di kereta. Saya pun masuk ke gerbong yang tertera, kemudian menyerahkan tiket ke petugas dan dia menggantinya dengan kartu nomor tempat tidur. Tiket nantinya akan dikembalikan saat kereta sudah sampai di tujuan, hal ini bertujuan untuk mencegah penumpang kehilangan tiket. Kondisi gerbongnya sangat bersih dan rapi. Memang saat saya baca di web gerbong yang tersedia untuk turis yang akan bepergian ke Tiongkong cuma soft sleeper dengan harga sekitar 37 USD dengan waktu tempuh sekitar 12 jam perjalanan.

Kompartemen yang saya tempati berisi tiga orang penumpang, saya sendiri dan 2 orang warga Tiongkok (terlihat dari paspor yang mereka bawa). Untunglah salah satunya bisa berbahasa ingris dan masih muda, jadi saya punya teman ngobrol selama perjalanan. Namanya Wen Chen Ye, FYI, rata-rata orang Tiongkok memang memiliki banyak sekali nama untuk hanya 1 orang saja. Di negara mereka sendiri saja mereka memiliki minimal 2 buah nama sesuai dengan bahasa yang ada disana, belum lagi kalau mereka pergi keluar negeri, mereka memiliki nama berbeda lagi. Setelah mengobrol lama dia rupanya sedang mendalami Sastra Arab, karena ayahnya menyuruhnya untuk kuliah dan bekerja di timur tengah. Dia sampai tidak percaya ketika saya bilang saya muslim, dan diapun mulai bertanya mengenai banyak hal. Mulai dari bacaan dan hafalan sholat, membaca Al-Quran, sampai perkara makanan halal dan haram. Saya saja sampai merasa malu karena pelafalan bahasa arabnya sangat fasih. Dia juga membantu saya mencari tiket kereta ke Beijing untuk keesokan harinya, dan kabar buruknya tidak ada tempat duduk yang tersisa. Dia menyarankan saya untuk naik pesawat, akan tetapi harganya juga selangit. Alhasil kami menyerah dan saya memutuskan untuk mencari di stasiun saja besok pagi. Ketika saya menyebutkan akan singgah di Shanghai beberapa hari, dia dengan senang hati menawarkan bantuan bila saya membutuhkan (baik sekali kan? bahkan kami belum terlalu mengenal). Kami mengahiri obrolan malam itu karena waktu sudah menunjukkan jam 11.30 malam, karena tidak enak mengganggu rekan se kompartemen lainnya. Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke perbatasan kurang lebih 1 jam lagi, jadi masih bisa dimanfaatkan untuk tidur sejenak.

Sekitar jam 1 malam kami dibangunkan petugas gerbong karena telah sampai di check point Vietnam. Kami disuruh membawa semua barang bawaan turun dari kereta dan berjalan menuju konter imigrasi. Semua paspor dikumpulkan untuk diperiksa dan kami pun menunggu dengan tertib. Sambil menunggu, teman baru saya ini bertanya banyak hal mengenai Indonesia. Dia sengaja mencari petanya di internet sambil bertanya ke saya di bagian mana letak kota saya berada. Saya menjelaskan mengenai tempat-tempat indah di Indonesia dan makanannya juga enak-enak. Tapi dia lebih tertarik ketika saya bilang gadis-gadis di Indonesia banyak macamnya, mulai dari keturunan India, Arab, eropa bahkan mendekati Afro juga ada. Dia terkagum-kagum mendengarnya. Sekitar 30 menit menunggu nama kami dipanggil satu persatu oleh petugas, dan sejauh ini belum ada masalah serius mengenai urusan di imigrasi. Kami pun naik ke kereta untuk menuju ke check point yang ke dua, Tiongkok. Butuh waktu kurang lebih 2 jam untuk sampai ke check point tersebut. Karena sangat ngantuk kami pun melanjutkan tidur kami yang tertunda, walau pun hanya beberapa jam, itu sangat berarti mengingat besok saya belum tau apa yang terjadi selanjutnya. Tepat jam 03.30 malam, kami dibangunkan kembali oleh petugas untuk turun dan membawa semua barang bawaan karena kami telah tiba di check poin Tiongkok. Tempatnya lebih besar dari pada yang di Vietnam, bangunannya juga lebih moderen. Akan tetapi berbeda dengan di check point sebelumnya, pemeriksaan disini cukup ketat. Semua barang bawaan, baik itu koper, ransel bahkan kantongan plastikpun harus dikeluarkan isinya. Para petugas berseragam ini semangat sekali dalam hal bongkar membongkar, tapi ketika memasukkan kembali ke dalam tas hmmmmmm (no offense) mungkin sudah malam dan mereka sangat ngantuk, husnudzon aja deh. Karena tak ada masalah dengan paspor, visa dan barang bawaan, saya melenggang masuk saja sampai tiba dalam kereta kembali. Welcome to China......








Kamis, 09 April 2015

Berkeliling Melihat Bangunan-Bangunan Bersejarah di Ho Chi Minh City

26 Januari 2015

Independence Palace Building

Setelah menikmati Sungai Mekong dihari sebelumnya. Hari ini saya berniat untuk eksplore Ho Chi Minh City seharian sebelum saya berangkat ke Hanoi nanti sore. Saya tidak memerlukan paket tour untuk kegiatan kali ini, karena sesuai dengan arahan agen travel yang saya jumpai ketika membeli tiket pesawat bilang, saya bisa menjelajahi kota ini hanya dengan berjalan kaki saja. Setelah itu saya juga mendapat info dari teman seperjalanan saya sewaktu ke Mekong kemarin bahwa dia juga sudah melakukan eksplore kota Ho Chi Minh sehari sebelumnya, dan dilakukan dengan berjalan kaki. Maka saya optimis hari ini akan berjalan dengan lancar.
Notre Dam Catedral
Pagi itu saya berkemas dan siap-siap untuk ceck out dari hostel. Saya menitipkan ransel di hostel dan memesan taksi ke bandara untuk nanti sore seharga 15 USD. Seperti hari sebelumnya, saya singgah dulu di mini market untuk sarapan dan membeli beberapa botol air mineral untuk bekal di jalan. Sebelum melakukan penjelajahan hari itu saya mendowload peta kota Ho Chi Minh dari internet agar saya tidak tersesat dan berputar-putar di daerah yang sama, walaupun insiden ini kerap terjadi karena bingung masalah orientasi di peta, Tapi jangan khawatir, justru semakin jauh tersesat maka semakin banyak dan beragam yang dapat dilihat asalkan ingat arah jalan untuk kembali ke tempat semula.

Tempat yang saya kunjungi pertama kali adalah Saigon Square, di sini terdapat patung Uncle Ho dan bangunan Balai kota Saigon. Tapi sayangnya bangunan ini sedang direnovasi total, jadi saya tidak bisa melihat dari dekat karna tertutup oleh tenda. Sepuluh menit berjalan ke arah utara saya menemukan Notre Dam Square, bangunan gereja dengan dinding bata ekspose yang di depannya terdapat patung Bunda Maria. Sepelemparan batu dari gereja ini terdapat Saigon Central Post, Kantor POS nya Vietnam. Baik itu eksterior maupun interior dari kedua bangunan ini sangat dipengaruhi oleh kebudayaan eropa. Mengingat saat peperangan dulu Portugis dan Perancis memegang peranan yang sangat penting terhadap kebudayaan di Vietnam. Tak hanya di Ho Chi Minh City, hampir semua bangunan-bangnan bersejarah di negara ini dipengaruhi oleh gaya arsitektur eropa. 


Saigon Central Post Office
Interior Katedral Notredame
Puas menikmati katedral dan kantor pos saya bergerak menuju Reunification Palace atau lebih dikenal Independence Palace. Berbeda dengan bangunan bersejarah lainnya, bangunan ini sudah sangat modern di zamannya. Istana ini didesain oleh arsitek terkenal Vietnam pada jaman peperangan sekitar tahun 1975. Karena dirancang oleh arsitek, tak heran kalau bentuk bangunan mulai dari denah hingga fasad sarat dengan filosofi-filosofi dari daerah timur. Penjelasan mengenai filosofi ini dapat dilihat pada dinding pintu utama gedung. Sebelum jadi museum seperti saat ini, awalnya bangunan ini difungsikan sebagai pusat pemerintahan Vietnam. Didalamnya terdapat ruang-ruang pertemuan sampai bunker penyelamatan kalau-kalau terjadi keadaan darurat. Tiket masuk untuk menikmati museum ini adalah sebesar 30.000 VDN atau sekitar Rp. 15.000an. 

Saya berada dimuseum Independence Pace kurang lebih 1 jam. setelah itu saya keluar dan bersantai sejenak di taman yang terletak tidak jauh dari museum ini. Taman-taman di Ho Chi Minh City sangat bersih dan terawat, jadi tidak heran kalau banyak dimanfaatkan oleh warganya untuk melakukan kegiatan-kegiatan sosial. Waktu itu terdapat beberapa bazar yang dilakukan oleh masyarakat lokal. Di Pham Ngu Lao dekat tempat saya menginap bahkan ada perlombaan membuat roti. Warga Vietnam memang sudah biasa sarapan dengan menggunakan roti dengan isian daging atau sosis, minimal dengan isian telur dadar atau matasapi. Hal ini merupakan salah satu pengaruh kebudayaan eropa jaman dulu, tak heran setiap pagi banyak pedagang-pedagang roti hilir mudik menjajakan jenis roti ini. ukurannya pun bukan main besarnya, panjangnya kurang lebih 40 cm.

Interior Saigon Post Office
Cukup menikmati suasana taman saya melanjutkan perjalanan mencari Saigon Opera House. cukup lama saya mencari bangunan ini, hingga hampir putus asa. Karena saat itu banyak proyek-proyek konstruksi jalur MRT di jalan-jalan utama, sehingga memaksa saya untuk memutar jalur. Hal ini kerap membuat saya disorientasi posisi. Alhasil saya jadinya jalan-jalan tanpa arah tujuan. Disinilah serunya jalan-jalan tanpa perencanaan terlebih dahulu, kita akan tersesat dan banyak menemukan hal-hal baru yang tidak terduga sebelumnya. Karena waktu menunjukkan jam makan siang, jangan heran kalau berjalan di trotoar jalan di Ho Chi Minh City akan banyak anda temukan para buruh-buruh konstruksi makan beramai-ramai sampai menutup jalur pejalan kaki. Sudah menjadi kebiasaan rupanya bagi para pekerja, bukan hanya buruh saja akan tetapi pegawai-pegawai kantoran juga melakukan hal yang sama, cuma bedanya mereka lebih memilih makan ditempat makan lesehan yang terdapat di depan toko pinggir jalan. Selama hampir 1 jam berjalan akhirnya saya menemukan Saigon Opera House yang ternyata letaknya dekat dengan Balai Kota Saigon, yang saya kunjung pertama kali tadi pagi. Cuma karena tertutup seng, dan jalan yang diblokir memaksa saya memutar lebih jauh lagi. Saya tidak masuk ke gedung karena tiketnya cukup membuat kantong kering. Alhasil saya hanya menikmati keindahan arsitektur bangunan dari luar saja.

Tepat jam 2 siang, saya memutuskan kembali ke hostel untuk bersiap menuju bandara. Di tengah jalan saya berhenti sebentar di Bien Thien Market berbelanja souvenir untuk dijadikan oleh-oleh. Jam 3 tepat taksi yang menjemput saya pun tiba dan saya tiba di bandara kurang lebih 45 menit kemudian. Pesawat yang saya tumpangi take off jam 05.56 waktu setempat, jadi saya masih memiliki waktu untuk makan malam dan istirahat sejenak. Sialnya saya diturunkan supir taksi di International Terminal, jadi saya harus berjalan lagi menenteng tas saya yang besar menuju terminal keberangkatan domestik. Untuk kelas bandara internasional dan merupakan bandara utama di Vietnam, bandara ini cukup besar, tapi masih kalahlah sama Sukarno-Hatta. Saya pun menuju kounter chek in, sebelumnya saya baca di internet bahwa akan sangat banyak ditemui warga-warga lokal yang main selonong di antrian, jadi ketika saya menemukannya di lapangan saya sudah tidak heran lagi. 

Ruang Pidato Presiden
Ruangan Komando Kontrol Pertahanan Negara 


Beberapa Bangunan Di Pusat Kota Bergaya Arsitektur Eropa

Saigon Opera House
 
Suasana Jalan Di Pusat Kota
Saya tiba di Hanoi jam 08.30 malam. Sebenarnya ada beberapa pilihan alternatif menuju ke pusat kota, Old Quarter. Saya memilih taksi karena kondisi saat itu sudah malam, dan butuh waktu yang lama untuk menunggu bus umum datang. Perjalanan menggunakan taksi memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Kondisi kiri kanan jalan sudah sangat legang, toko-toko sudah tutup padahal belum jam 10 malam. Supir taksi dengan teliti mencari alamat tujuan dengan berbekal alamat Hostel yang saya tuliskan sewaktu saya booking di HCMC. Tepat jam 10 malam tibalah kami di Bodega Hotel. Rupanya saya sudah ditunggu oleh petugas hostel yang kemudian membantu membawakan tas saya. Taksi yang saya tumpangi memakai argo dan perjalanan yang memakan waktu kurang lebih 1,5 jam itu dihargai sebesar 350.000 VDN sekitar Rp. 125.000an (lumayan lah, menguras kantong). Selain saya ada juga satu suami istri dan kedua anaknya yang check in berbarengan dengan saya. Setelah tanya ini itu dengan receptionist hostel saya pun memutuskan untuk membooking paket tur ke Halong bay untuk keesokan harinya selama 2 hari 1 malam dan sekalian memesan tiket kereta api ke Nanning. Total harga yang saya keluarkan saat itu sekitar 161 USD. Setelah saya tawar menawar cukup alot dengan si receptionist saya hanya mendapatkan ekstra free shower dan ojek gratis ke stasiun kereta api. Tak apalah karena semua serba dadakan. Saya sadar harga tersebut bisa jauh lebih murah apabila saya mencarinya secara independen, tapi permasalahannya adalah di waktu. Hostel yang saya book memang tidak cukup bagus fasilitasnya, namun kondisi yang bersih dan pelayanan yang ramah menjadi nilai plus yang dimiliki hostel ini, apalagi dorm yang saya pesan hanya diisi oleh saya seorang. Jadi kalau cuma numpang tidur dengan sarapan gratis, hostel ini bisa jadi salah satu pilihan yang patut untuk dipertimbangkan.



Selasa, 07 April 2015

Halong Bay...... I'm Coming...!!!!!

27 Januari 2015

Pemandangan Teluk Halong dari Ketinggian

Hari ini saya akan melakukan perjalanan menuju Halong Bay, salah satu tempat wisata yang terkenal di Hanoi Vietnam. Setelah book tempat seharga lebih 100 USD untuk tur 2 hari 1 malam, all in, jadi kita hanya perlu duduk manis dan mengikuti arahan tur guide. Saya bangun jam 6 pagi karena petugas hotel bilang saya akan di jemput sekitar jam 7 lewat. Saya siap-siap mandi dan berkemas, karena tas ransel besar yang saya bawa nanti akan saya titip di hostel tempat saya menginap di Hanoi. Usai beberes di kamar, saya melanjutkan naik ke lantai atas untuk sarapan, untung hotel yang saya book menyediakan sarapan berupa roti dan telur, jadi saya tidak repot-repot untuk mencarinya keluar hostel yang saya perkirakan masih tutup semua. Tepat jam 07.15 waktu setempat, bus shuttle yang menjemput saya datang. Supirnya sangat ramah, seperti biasa, karna saya berwajah lokal dia mengajak saya berbicara dalam bahasa setempat yang tidak saya mengerti (apa saya harus cat rambut ya, biar berbeda sedikit). Di dalam bus jemputan sudah terdapat beberapa turis-turis asing dari berbagai negara. Kami berpindah bus ke ukuran yang lebih besar 15 menit kemudian setelah bus menjemput penumpang terakhir. Karna saya solo traveler tentunya saya harus SKSD dong (sok kenal sok dekat) agar perjalanan tidak membosankan. Disinilah saya berkenalan dengan beberapa rekan yang sebagian besar berasal dari Australia dan satu orang dari Amerika, Thomas. Semua yang saya ajak bicara umumnya mengambil paket tur 3 hari 2 malam, bahkan ada yang mengambil 1 hari perjalanan (saya tidak menganjurkannya karna terlalu melelahkan). Hanya Thomas dan saya lah dalam bus tersebut yang mengambil paket 2 hari 1 malam.

Perjalanan bus akan memakan waktu kurang lebih 4 jam, dan bus akan berhenti di rest area sebanyak satu kali untuk 'happy time'. Turis di sebelah saya tertawa ketika tour guide menyebutkan kata tersebut. Kami yang tidak tahu hanya bengong saja. Ketika saya tanyakan ke ibu-ibu disebelah saya barulah saya mengerti happy time itu adalah buang air kecil, ketika mau masuk toilet kita akan cemas namun berubah 180 derajat ketika telah keluar, felling happy, katanya sambil tertawa. Ibu ini akan menjadi teman ngobrol saya selama 4 jam kedepan karena Thomas sibuk membaca buku dan mendengarkan headset. Saya dan si ibu pun berbagi pengalaman mengenai banyak hal khususnya traveling. Di usianya yang hampir menginjak kepala 5 ibu ini terbilang amat berani, apalagi dia pergi sendiri (memang kalau passion sudah di jalan-jalan, usia bukan lah hal penting). Sebelum ke Halong Bay dia telah bepergian ke Sapa, destinasi tersohor selanjutnya yang terdekat dengan Hanoi. Dia menunjukkan beberapa foto ke saya selama dia liburan di sapa. Sungguh sangat seru dan menyenangkan melihatnya. Saya pun berencana untuk mengunjunginya lain kali (semoga ada rejeki).

Kapal yang Kami Gunakan Berlayar di Halong Bay


Dua jam lamanya kami berkendara, tibalah kami di rest area untuk melakukan ritual happy time tersebut. Disana sudah banyak antri turis-turis yang berbeda bus dengan kami. Kondisi cuaca yang dingin menyebabkan kita untuk buang air kecil berkali-kali karena kita tidak mengeluarkan keringat dari kulit. Untungla mayoritas wisatawan merupakan wanita dan tidak perlu antri panjang bagi kami para lelaki, bahkan si Thomas bilang "for this time i am glad to be a man" hanya karna perkara buang air kecil. Kenapa tidak wanita selain untuk buang air beaar atau kecil mereka membutuhkan toilet untu sekedar memperbaiki bedak dan semacamnya. Rest area ini cukup luas, untuk pemeberhentian bus tempat ini dilengkapi toko penjual makanan ringan dan resto kecil bahkan sepanjang mata memandang selain bus tempat ini dipenuhi oleh patung-patung dan ukiran bermacam-macam ukuran yang tak boleh diambil fotonya, karna semua barang tersebut untuk di jual. Sekitar 45 menit kemudian, penumpang disuruh naik kembali kedalam bus untuk melakukan perjalanan. Diperlukan waktu kurang lebih 2 jam lagi untuk sampai ke pelabuhan halong. Percakapan dengan si ibu pun dilanjutkan dalam sisa perjalanan.

Kondisi Berkabut di Halong Bay
Tepat pukul 12 siang kami pun sampai di pelabuhan halong. Disana kami langsung dibagi kedalam beberapa grup berdasarkan jenis kapal yang kami tumpangi. Sebenarnya saya tidak memiliki ekspektasi yang lebih terhadap kapal yang akan saya gunakan nanti sampai akhirnya saya dan penumpang lain tercengang melihat langsung kondisi kapal. Kapal yang kami tumpangi setara dengan hotel bintang 4, dengan fasilitas AC, private bathroom dengan hot shower, belum lagi tempat tidurnya sangat nyaman. Karena sama-sama solo traveler saya dan Tom pun kebagian kamar twin bed. Sebenarnya terjadi perdebatan kecil di kapal masalah pembagian kamar ini, lebih tepatnya kekeliruan komunikasi. Ketika tur guide menyebutkan triple room dengan penyebutan cheaper room. Karena para turis-turis ini tidak ada yang merasa membayar untuk kamar dengan harga murah alhasil tidak ada yang mau menempatinya hingga akhinya tur guide menjelaskan triple room bukan cheaper room. Serempak kami ber ooooooooo......


Gugusan Batu Kapur di Sepanjang Perjalanan
Makan siang pun dilanjutkan setelah semua urusan bagi-bagi kamar selesai. Bukan karena saya muslim, tapi memang semua penumpang ditanyai perihal makanan apa yang pantang dan mana yang tidak. Sehingga koki kapal dapat menghidangkan makanan yang dapat di nikmati oleh semua penumpang. Saya hanya berpesan saya tidak makan ayam dan daging. Alhasil saya cuma makan tahu dan seafood, tapi itu bukan masalah karena sangat banyak macam-macam seafood yang disajikan. Jadi jangan khawatir. Untuk minum saya membawa 2 botol air mineral ukuran 1 liter ke kapal. Karena hanya makanan yang include ke paket tur tidak dengan minuman. Setelah makan siang tur guide pun menjelaskan kegiatan yang akan kami lakukan di Halong Bay sampai besok.

Sepanjang jalan menuju pemberhentian pertama kami disuguhi oleh gugusan-gugusan karts yang mempesona. Menurut sejarahnya penduduk Vietnam percaya bahwa gugusan-gugusan ini tercipta dari seekor naga yang turun dari langit sewaktu jaman peperangan ribuan tahun lalu. Jumlah gugusan ini sebanyak 1969 dan telah masuk kedalam daftar situs warisan dunia UNESCO pada tahun 1994.
 
Suasana Pantai Di Salah Satu Gugusan Karts

Tangga Untuk Melihat Halong Bay
Dari Ketinggian
Pertama tempat yang kami tuju adalah pantai disekitar Halong Bay. Di sana kami bisa menaiki anak tangga yang jumlahnya ratusan dan dari puncak kita bisa menikmati pemandangan gugusan-gugusan batu karst sejauh mata memandang. Lelah mengambil benerapa foto, kami pun turun kembali ke pantai untuk bersantai. Beberapa memang memutuskan untuk berenang tapi saya lebih memilih duduk di pinggir pantai menikmati suasana bersama turis-turis lainnya. Walaupun matahari terlihat bersinar, namun kondisi cuaca sangat dingin (awal tahun merupakan musim dingin di daerah utara vietnam) karena angin yang bertiup membawa hawa dingin dari utara. Selama 1 jam kami leha-leha di pantai kami pun menuju destinasi berikutnya, sebuah gua yang terdapat di salah satu gugusan batu karts. Sepanjang perjalanan menuju gua tersebut kami disuguhkan pemandangan gugusan-gugusan karts yang sangat indah. Sebenarnya sama dengan yang ada di Phiphi Thailand dan Raja ampat. Tapi sayang kondisi cuaca pada saat itu ber awan dan sebagian besar gugusan-gugusan yang berada di kejauhan tidak terlihat dengan jelas. Kurang lebih 1 jam kemudian sampai lah kami di dermaga batu karst yang terdapat guanya ini. 

Gua yang kami kunjungi bernama Hang Sung Sot, hang berarti gua dan Sung Sot berarti kejutan. Gua ini awalnya tertutup oleh permukaan air laut. Namun perlahan karena surut, terciptalah ruang-ruang di dalam gugusan karts yang membentuk gua dengan berbagai macam ukuran. Kenapa disebut Gua Penuh Kejutan? di dalam gua ini banyak bebatuan karang yang menyerupai bentuk-bentuk binatang seperti kambing, kura-kura dan bahkan merlionnya Singapura. Selain itu langit-langit gua juga selain dipenuhi stalaktit juga dipenuhi oleh cekungancekungan yang dibentuk oleh riak-riak air laut jutaan tahun lalu. Kondisi di dalam gua cukup terang karena dipenuhi cahaya lampu yang berwarna-warni.

Dermaga Menuju Gua

Langit-Langit yang Terbentuk dari Riakan Air Laut

Suasana Dalam Gua

Berbagai Bentuk Karang yang Terdapat di Dalam Gua

Harusnya itenary hari itu masih tersisa satu lagi, yaitu kayaking. Namun setelah berunding dan semua peserta tur sepakat, maka kayaking dilanjutkan besok pagi sebelum sarapan. Alhasil kami pun kembali kekapal sekitar jam 6 sore dan menghabiskan sisa malam di kapal sampai besok pagi, saya memilih duduk-duduk di dek kapal di lantai paling atas sambil menikmati matahari terbenam di antara gugusan-gugusan gunung karst.

Beberapa Kapal Yang Berlabuh di Teluk Halong Menunggu Malam Tiba

Kamis, 02 April 2015

Berkunjung Melihat Secuil Kehidupan Sungai Mekong

25 Januari 2015

Suasana Pelabuhan Sungai Mekong


Menkong River Side
Setelah memesan paket Full Day Tour Sungai Mekong kemarin, saya diwajibkan bangun pagi-pagi sekali karena akan dijemput jam 7 pagi untuk memulai tour tersebut. Saya membeli paket tur ini sebesar 250.000 VDN dan itu merupakan harga final setelah melakukan tawar menawar yang cukup alot (setelah bertanya kepada teman seperjalanan di bus, mereka rata-rata mendapatkannya di atas 300.000 VDN). Setelah mandi dan beres-beres perlengkapan yang akan dibawa saya singgah ke mini market terdekat untuk membeli persediaan air minum dan sarapan ringan berupa roti. Saya tiba di tempat penjemputan tepat jam 7 dan dijemput oleh bus shuttle 30 menit kemudian, dan selama 30 menit berikutnya kami masih harus menjeput wisatawan-wisatawan lainnya yang hendak pergi mengunjungi Sungai Mekong. Terdapat 2 jenis tur untuk menikmati sungai ini, yakni dengan paket One day Tour dan 2 days 1 night tour. Di dalam tur inilah saya berkesempatan berkenalan dengan turis-turis lainnya, ada dari Inggris, Jepang, Singapura dan pasangan asal Indonesia (sayangnya saya lupa menamakan nama mereka, padahal sepanjang tur kami banyak bercerita berbagai hal). Perjalanan menuju Sungai Mekong ini akan memakan waktu kurang lebih 4 jam, karena kecepatan bus sangat dibatasi, hanya boleh melaju dengan kecepatan 40 km/jam, kalau melebihi akan kena tilang dan mereka sangat taat, karena polisi-polisi lalu lintas di sini tidak berseragam resmi, sehingga sulit mengenali mana polisi mana masyarakat biasa.

Kapal Yang Kami Tumpangi
Sepanjang perjalanan sang Tour Guide menjelaskan beberapa hal, seperti kondisi sosial masyarakat vietnam, bagaimana mereka sulitnya mendapat pekerjaan, mahalnya harga tanah dan properti, sehingga memaksa mereka tinggal di pinggiran dan bekerja di perkotaan. Inilah salah satu alasan mengapa sepeda motor sangat mendominasi di kota-kota besar Vietnam. Selain itu dia juga menjelaskan panjang lebar mengenai kondisi Sungai Mekong. Sungai ini merupakan salah satu dari sungai terbesar di dunia. Aliran sungainya sendiri dimulai dari Tibet, mengalir melintasi China, Myanmar, Laos, Kamboja, Thailand dan berakhir di lautan lepas Vietnam. Tak heran sungai ini memegang peranan penting bagi kehidupan perekonomian di sekitar daerah-daerah yang dilaluinya. Tour guide yang menemani kami bercerita menjelaskan hampir 2 jam hingga akhirnya bus kami berhenti di rest area untuk sekedar membeli minuman dan makanan ringan.

Suasana Dalam Kapal
Bus berhenti sekitar 30 menit, di sinilah saya mulai berkenalan dengan pasangan asal Indonesia. Mereka berasal dari Jakarta dan baru menikah, dan si istri sedang hamil muda. Ketika saya tanyakan apa tidak masalah bepergian jauh dengan kondisi seperti itu, mereka bilang sampai sejauh ini belum terjadi masalah serius dan semua berjalan dengan lancar. Sangat susah memdapatkan cuti yang pas bagi mereka karena satu bekerja di bank dan satunya lagi di perusahaan asuransi. Jadi memang mereka telah mempersiapkan liburan ini dengan serius, bahkan bulan februari mereka berencana untuk liburan ke Jepang menghabiskan sisa cuti tahunan. Tak terasa waktu rehat sudah habis, semua penumpang pun disuruh naik ke bus untuk melanjutkan perjalanan.

Dibutuhkan waktu 1 hingga 2 jam lagi untuk sampai di pelabuhan Sungai Mekong. Dalam sesi kedua perjalan ini saya mendapat teman baru lagi, Mikaela, turis asal Ingris. Sepanjang perjalanan kami berbicara banyak hal, seperti pekerjaan, kehidupan sosial kedua negara (sok serius ya) hingga pengalaman traveling ke berbagai negara. Dia juga solo traveller seperti saya (dia aja cewek berani). Ini merupakan hari kedua dia di HCMC, merencanakan perjalanan selama 2 minggu di Vietnam, dia akan mengunjungi Danang, Hanoi, Na Trang, Mui Ne dengan menaiki open bus tour. Berbeda dengan saya yang hana beberapa hari di Vietnam, kota yang saya kunjungi oun cuma HCMC dan Hanoi. Mungkin saya akan mengunjungi tempat-tempat lainnya di lain kesempatan. Dia juaga kaget ketika saya bilang akan ke Beijing, Shanghai dan Guangzhou. Karna tidak lazim memang disaat musim dingin di belahan bumi bagian utara orang cenderung liburan ke tempat yang lebih hangat. Tapi why not? Ini pengalaman pertama saya dan saya belum pernah melihat salju sama sekali.

Antrian Naik Kapal Kecil
Tepat jam 11 siang kami sampai di pelabuhan Sungai Mekong. Karena pelabuhan ini merupakan pelabuhan wisata, jadi kapal-kapal yang bersandar di sini pun kebanyakan kapal wisata dari segala ukuran. Kami di briefing oleh tour guide mengenai kegiatan yang akan dilakukan hari itu. Kami diberikan kesempatan untuk ke kamar kecil sebelum memulai berlayar dengan kapal 10 menit kemudian. Layaknya tempat kunjungan wisata, ditempat ini sangat banyak toko-toko penjual souvenir. Saya pun menyempatkan melihat-lihat sembari mengambil beberapa foto di pelabuhan ini.

Suasana Menaiki Kapal Kecil
Setelah menunggu beberapa saat, tour guide pun datang dan menyuruh kami bergerak menuju kapal yang akan ditumpangi. Kapal nya berukuran sedang, kira-kira bisa menampung hingga 30an orang. Saya pun langsung menuju posisi duduk yang pas. Pertama-tama kami akan mengitari sungai mekong terlebih dahulu. Tak banyak memang yang bisa dilihat, selain kapal-kapal wisatawan terdapat pula kapal tongkang pengangkut material bangunan serta kapal penumpang yang melalui sungai ini. Dipinggiran sungai banyak terdapat pohon-pohon bakau. Sekitar 45 menit mengitari sungai kami pun berlabuh di salah satu dermaga kapal. Kami diarahkan tur guide ke salah satu peternak lebah di lokasi tersebut. Kami pun mencicipi madu asli yang masih hangat dicampur dengan teh lokal. Madu-madu yang ada disini selain diolah jadi makanan juga di buat untuk kepentingan kosmetik dan obat-obatan. Tujuan selanjutnya adalah menaiki perahu kecil bermuatan 5 orang. Dari dermaga kami berjalan sekitar 10 menit hingga sampai ke sungai kecil tempat berkumpulnya kapal-kapal ini. Di sana ternyata sudah banyak antri wisatawan-wisatawan lain yang berbeda grup dengan kami. Sambil menunggu saya mengambil beberapa foto di tempat ini sambil melihat lingkungan sekitar. Dalam menaiki kapal kecil ini saya diajak berkelompok oleh pasangan asal Indonesia dan mereka mengajak salah seorang turis cewek asal jepang sehingga kami lengkap ber empat.

Proses Pemerasan Santan
Tak berapa lama tibalah giliran kami menaiki kapal. Tur guide menginstruksikan agar kami jangan banyak bergerak ketika di atas kapal, karna ukurannya yang kecil jadi gerakan apapun yang kami buat sangat berpengaruh ke kapal yang kami tumpangi. Setelah semua naik ke kapal kecil tersebut, berangkat lah kami menyusuri sungai kecil berair cokelat ini. Ini merupakan kali kedua saya menaiki kapal kecil. Pertama dulu saya mencobanya di Thailand, di pasar terapung. Tapi bedanya kali ini kapal lebih kecil dan dikayuh secara manual, sangat seru. Kiri kanan sungai ditumbuhi sejenis tanaman berduri seperti pohon salak. Kondisi air sugai saat itu sangat dangkal tapi perahu masih bisa melaju dengan normal. Sekitar 40 menit mengarungi sungai kecil ini kami sampai di sisi aliran sungai mekong yang lebih besar. Di sana kapal semula yang kami tumpangi telah menunggu untuk menjemput kami.


Memasak Adonan
Tujuan berikutnya setelah berperahu ria adalah tempat pembuatan Coconut Candy (di Indonesia kita mengenalnya dengan tingting atau lebih mirip dodol). Untuk mencapai pabrik dodol ini kami harus berjalan membelah hutan (bukan hutan sih, lebih ke perkebunan) selama kurang lebih 15 menit. Di sana kami dijelaskan bagai mana cara membuat coconut candy ini sampai jadi dan bisa dinikmati dalam beberapa pilihan rasa. Cara pembuatanya sendiri hampir mirip dengan cara membuat dodol di kampung halaman saya. Cuma yang unik di sini, adonan yang telah jadi diaduk menggunakan mesin di atas kompor, proses pemerasan kelapa pun dilakukan dengan menggunakan alat agar mempermudah proses produksi dodol ini. Berbeda dengan kampung halaman yang semuanya masih dilakukan dengan cara manual. Terdapat beberapa varian rasa yang bisa dinikmati seperti jahe, pandan, durian, kacang, coklat, nangka dan masih banyak lagi.

Puas berwisata di tempat pembuatan coconut candy kami pun bersiap ke pemberhentian selanjutnya, makan siang, menikmati pertunjukan musik lokal, dan kembali ke HCMC pukul setengah 3 sore. Kami tiba di kota sekitar pukul 6 malam. Dan saya menikmati sisa malam dengan duduk-duduk di taman Pham Ngu Lao dan makan malam di salah satu restoran halal di dekat Bien Than Market.

Local Music Performance