Jumat, 05 Juni 2015

Great Wall its Realy...really Greattttt !!!!!

1 Februari 2015

Great Wall of China

Pengumuman
di Konter Tiket 
Tak terasa sudah memasuki awal Februari, ini berarti sudah hari ke-13 perjalanan solo backpacker saya. Hari ini saya berencana mengunjungi Great wall, ya tembok besar Tiongkok, sudah sejak SD sebenarnya saya melihat gambar dan fotonya di buku pelajaran IPS mengenai 7 keajaiban besar dunia yang sampai sekarang pun masih tetap terdaftar di dalam list. Banyak cara menuju objek wisata ini sebenarnya, mulai dari yang paket termurah sampai tour mahal dengan segala fasilitas yang lengkap. Karena tembok ini cukup panjang sehingga memiliki beberapa bagian atau spot-spot yang dijadikan tempat untuk berkunjung bagi wisatawan. Kita bisa memsukinya melalui Badaling, Jhinshanling, Simatai, Mutianyu, Shanhaiguang dan Dandong. Di antara beberapa tempat tersebut Badaling merupakan yang paling ramai dan mudah dijangkau untuk para solo backpacker. Apabila mau suasana lebih sepi Mutianyu bisa menjadi alternatif pilihan karena lebih sepi dan temboknya masih alami, tentunya harus sewa mobil atau ikut tur kalau ingin kesana karena tidak ada bus umum untuk menuju kesana. 


Petunjuk yang diikuti
sampai ke stasiun Bus
Sebelumnya kawan sekamar saya ingin bergabung untuk mengunjungi tembok besar ini, tapi dia urung, mengingat ini adalah hari minggu dan pasti akan sangat ramai sekali disanan nanti, karena yang saya kunjungi adalah Badaling. Setelah search di internet mengenai cara menuju kesana, sebenarnya sudah ada di dinding tangga hostel, untuk berjaga-jaga menyiapkan plan b karena ini adalah weekend. Setelah mandi dan bersiap-siap saya singgah di mini market untuk membeli sarapan dan beberapa bekal di sana nantinya. Tujuan pertama saya adalah Stasiun kereta api, Beijing North. Dari sini kita bisa menuju ke Badaling menggunakan kereta api yang berangkat tiap jam nya. Saya harus menaiki subway line 2, 4 atau 13 dan kemudian berhenti di staisiun Xizhinmen. Waktu menunjukkan jam 9 pagi ketika tiba di stasiun, saya langsung bergegas ke konter penjualan tiket karena tidak dijual dengan mesin otomatis. Karena weekend, seperti yang saya duga sebelumnya, tiket untuk keberangkatan berikutnya sudah habis, dan yang tersedia adalah jam 11, itu berarti saya harus menunggu 2 jam dan itu sangat menghabiskan waktu yang cukup lama. Karena sudah menyiapkan plan b maka saya langsung bergerak menuju stasiun bus, ya saya akan ke great wall mengunakan bus. Langsung saya menuju subway station dan membeli tiket ke stasiun Jishuitan, sesuai dengan petunjuk dengan mencaribus no 877 atau 919.

Stasiun Busnya Berada di belakang Bangunan Ini

Penampakan Stasiun Bus
Tiba di Jishuitan yang perlu dilakukan adalah mengikuti papan penunjuk arah yang tersedia, cukup gampang, hingga akhirnya saya menemukan poll bus 877 yang akan mengantar saya ke Badaling. Tiketnya sebesar 12 yuan lebih murah dibandingkan naik kereta api dan tidak pakai acara tunggu, karena week end, begitu bus penuh langsung berangkat. Bus terakhir dari bejing adalah jam 12 siang dan dari Badaling jam 4 sore. Waktu yang diperlukan untuk sampai ke Badaling sekitar 1 jam kalau jalan lancar. Di dalam bus akan terdapat tour guide yang akan memandu dan mengarahkan kita untuk mengukuti tur nya sesampainya di Badaling, namun tidak akan gratis. Jadi kita dapat mengabaikannya dan dapat memisahkan diri sesampainya di Badaling nantinya. 

Jangan terkecoh dengan matahari yang bersinar terik di Beijing. Sesampainya di Badaling suhu disana ternyata lebih dingin daripada di Beijing, sampai minus 10. Hidung saya saja sampai meler-meler dan sangat tidak nyaman karena saya harus mengurasnya sepanjang perjalanan. Tetapi sesampainya di atas Great wall udaranya sudah sngat bersahabat, bahkan saya harus melepas topi, syal dan jacket karena terus menerus berkeringat. Saya berhasil sampai ke menara ke-12 di utara. Terdapat dua rute pendakian, utara dan selatan. Karna musin dingin pepohonan di sekitar tembok saat itu mengering jadi pemandangannya berwarna kecoklatan. Menurut info yang saya baca tembok ini memiliki panjang sekitar 20 kilometer, dibangun secara manual oleh tangan manusia pada zaman dinasti Ming sekitar 200 tahun sebelum masehi. Jadi kebayang kan bagai mana saat itu yang teknologinya belum secanggih sekarang ini. Dari sinilah saya berasumsi bahwa rakyat Tiongkok memang gigih dan jagonya dalam hal membuat bangunan-bangunan gigantis dan sangat besar. Coba saja searching di google, siapa yang memiliki jembatan terpanjang, bendungan terbesar sampai rel kereta api terpanjang. Semuanya dipegang oleh Tiongkok, bahkan sekarang mereka sedang berencana membangun bandara terbesar di dunia. Wah....wah....

Pintu Masuk Great Wall Tiket Seharga 40 Yuan




Gate Menuju Great Wall
Great Wall of China
Puas Hiking di Great Wall, saya memutuskan kembali ke Beijing dengan bus yang sama dan sampai di Beijing sekitar jam 3 sore. Untuk menghabis kan waktu saya menyempatkan mengunjungi Olympic Stadium yang tersohor itu, Bird-nest dan Water Cube. Begitu sampai di stasiun bus saya langsung menuju subway station dan membeli tiket ke Olympic sport center, mudah bukan??? para solo traveler di negeri ini cukup tertolong dengan adanya jaringan subway yang terbentang di seluruh penjuru kota. Tiba komplek stadiun saya langsung mengunjungi bangunan-bangunan unik yang terdapat di sana. Kompleksnya sangat luas dan saya hanya mengunjungi beberapa di antaranya saja. Untuk menikmati wahana-wahana ini kita tidak dikenakan biaya sedikit pun. Kecuali kalau kita mau masuk ke dalam bangunannya barulah dikenai biaya tambahan. Saya sempat berjalan-jalan di mall yang ada di sana. Berbeda dengan mall yang ada di Indonesia pada umumnya, Bangunannya terdapat di bawah tanah dan tentunya terintegrasi dengan stasiun subway, jadi selalu ramai dilewati orang. 


Sebelum pulang dan makan malam di resto dekat hostel saya kembali mengunjungi wangfujing street untuk membeli sedikit souvenir. Wangfujing di malam hari sangat ramai, terdapat beberapa toko-toko yang menjual barang dengan brand yang sudah terkenal. Ada juga sebuah jalan kecil yang dipenuhi jajanan khusus binatang-binatang yang tidak lazim untuk dimakan, seperti kalajengking, kuda laut, babi laut dan sebagainya. Hati-hati dalam mengambil foto, tanyakan terlebih dahulu apa bila ingin mengambil foto makanan-makanan tersebut, karena ada beberapa penjual yang meminta bayaran karena telah mengambil foto barang dagangannya. 

Keramaian di Great Wall

Bird Nest dan Water Cube

Kamis, 04 Juni 2015

Beijing Firstimer....

31 Januari 2015

Temple Of  Heaven
Petunjuk di Tangga Hostel
Sepuluh hari lebih saya telah pergi jauh dari Indonesia, tepatnya ini hari ke-12 saya melakukan backpacker, dan tibalah saya di Beijing. Setelah menimbang dan berpikir semalaman, hari ini saya berencana untuk mengunjungi Forbiden City terlebih dahulu. Karena semua instruksi dan cara menuju kesana sudah terpampang di dinding tangga hostel, memudahkan saya untuk pergi sendiri tanpa menggunakan guide. Hal yang saya lakukan pertama adalah sarapan, beruntungnya hostel yang saya tinggali memiliki cafe yang menyediakan sarapan pagi. Sebagai Backpacker paspasan, saya hanya memilih menu dengan harga yang paling murah, berupa toast dengan telur mata sapi seharga 35 yuan (what?????!!!! hampir 70ribu hanya untuk sarapan saja). Karena sudah terlanjur masuk dan melihat-lihat menu, gengsidong kalau tidak jadi pesan. Alhasil sarapan hari pertama saya di Beijing sangat menguras kantong saudara-saudara. Setelah sarapan saya kembali kekamar untuk mengambil tumpukan pakaian yang akan saya laundry, saya sudah mempersiapkannya semalam. Harga laundry di sini sekitar 20 yuan perkilonya, cukup mahal lah di banding Indonesia yang hanya 8000an perkilo. 
Gedung Opera Beijing

Seperti rencana awal, tujuan saya pagi ini adalah Forbiden City, petunjuk yang tertera di dinding tangga hostel sudah cukup lengkap, jadi saya tinggal mengikutinya saja. Karena lokasi hostel dan forbiden city ini masih terletak di ring 1 Beijing Subway jadi saya cukup membayar tiket sebesar 2 yuan saja. Saya berhenti tepat disebelah gedung operanya Beijing, National Centre for The Performing Arts. Bentuk bangunannya sangat unik, menyerupai separuh telur yang dikelilingi oleh danau yang airnya masih membeku. Karena waktu masih menunjukkan jam 9 pagi, saya menyempatkan berjalan-jalan mengitari gedung opera ini. Saya sempat masuk kedalam bangunan untuk menghangatkan diri, biarpun matahari diluar terik tapi suhunya mencapai -8 derajat celsius. Saya melihat harga tiket untuk menyaksikan pertunjukan opera ini. Jangan ditanya harganya berapa, cukup mahal. Selain tiket yang mahal saya memang tidak terlalu minat untuk menonton pertunjukan opera, apalagi dengan bahasa yang tidak saya mengerti, jadi saya memutuskan keluar dan mengambil beberapa foto di luar gedung. 


Setelah puas di gedung opera, saya melanjutkan perjalanan menuju Forbiden City. Bukan main antrian untuk menuju pintu masuk area wisata ini. Kareana hari ini adalah hari sabtu, jadi sangat banyak warga lokal yang datang membawa rombongan keluarganya berjalan-jalan. Tepat di seberang gerbang masuk Forbiden City terdapat Tiananmen Square, sebuah lapangan besar yang berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan event-event besar kenegaraan di Tiongkok. Di ujung lapangan terdapat Tugu, Monument's to The People Heroes dan bangunan Mausileum of Mao Zedong (Tempat peristirahatan terakhirnya Mao Zedong). Karena tidak tertarik dengan Tiananmen Square ini saya memutuskan untuk lanjut memasuki gate utamanya Forbiden City, Gate of Heavenly Peace. Bukan main besarnya gerbang ini, seluruh bangunan identik dengan warna merah dan ornamen-ornamen dengan skala yang sangat besar, sehingga terlihat monumental. Sebelum memasuki area utama, saya terlebih dahulu membeli tiket masuk seharga 40 yuan, kita bisa menyewa guide electronic berupa recorder yang didalamnya berisi full penjelasan mengenai Forbiden city ini, tapi siap-siap di charge dengan biaya yang lebih lagi tentunya.


Forbiden City
Ornamen di Forbiden City

Ada sedikit tips dalam mengunjungi area wisata ini. Apabila kamu tidak memiliki guide, selalu siapkan peta untuk menjadi panduan dalam mengelilingi area wisata yang luasnya hampir 80 ha ini. Pintu masuk dan pintu keluar area wisata ini berbeda, jadi pastikan telah menyiapkan rute yang pas sehingga tidak bolak-balik mengunjungi tempat yang sama. Saya menghabiskan waktu kurang lenih 5 jam untuk mengitari Forbiden City ini, meskipun saya akui saya tidak menyusuri seluruh pelosok yang terapat di area wisata ini.

Didalam area wisata kita dapat mengunjungi beberapa museum, seperti museum lukis, keramik, tembikar, patung dan sebagainya. Beberapa diantaranya memang dapat dinikmati dengan gratis alias free entry, tapi ada juga loh yang harus bayar extra fee buat beli tiket tambahan. Karena lebih banyak yang gratis daripada yang bayar jadi saya sudah cukup puas dengan hanya mengunjungi museum-museum yang tidak berbayar tersebut. Saya mengeksplore Forbiden City ini sampai kira-kira jam 1 siang. Saya Keluar dari gerbang utara kompleks wisata, di sana sudah banyak bis wisata yang menunggu penumpangnya, karena saya solo traveler yang tidak ditunggui oleh satu bis pun, saya melanjutkan berjalan ke arah kanan jalan. Berbekal peta yang saya miliki dan papan petunjuk area wisata yang ada dipinggir jalan, saya memutuskan untuk pergi ke Soho Galaxy. Di peta memang terlihat sangat dekat, cukup berjalan melewati 2 buah persimpangan jalan, kita akan sampai di gedung perbelanjaan dengan gaya arsitektur yang unik tersebut.Ternyata saya salah, saya berjalan hampir 1 jam hingga akhirnya menemukan gedung yang saya cari. Sebenarnya saya bisa mengunakan subway, tetapi saya ingin mencoba berjalan kaki sembari menikmati atmosfer suasana kota di siang hari.


View Forbidden City dari Atas

Sangat mudah untuk mengenali bangunan ini dari persimpangan Chaoyangmen, bentuk bangunannya yang khas dan unik sangat kontras dengan bangunan di sekitarnya. Saya tertarik mengunjungi bangunan ini karena latar pendidikan saya adalah arsitektur, jadi saya merasa sangat wajib untuk mengunjungi bangunan-bangunan yang berarsitektur unik. Bangunan ini dirancang oleh arsitek wanita yang karya-karyanya tidak diragukan lagi, Zaha Hadid. Semua karya-karyanya sangat mudah dikenali, karena bentuknya modern dinamis dan tidak lazim. Bangunan ini difungsikan sebagai mall atau pusat perbelanjaan yang terdiri dari 4 buah bangunan bulat berbentuk seperti telur. Saya menyempatkan mengambil beberapa foto sebelum saya bergegas ke tempat wisata selanjutnya. Sangat banyak spot menarik untuk dijadikan latar untuk berfoto di area bangunan ini.



Soho Galaxy Beijing

Pelataran Soho Galaxy


Museum Kereta Api
Tujuan Saya berikutnya adalah Temple of Heaven. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 2.30 sore saya harus bergegas karena loket penjualan tiket tutup jam 4 sore. Saya bergegas ke stasiun subway dan melihat pemberhentian terdekat ke area wisata tersebut. Tiantandongmen, pintu masuk kuil sebelah timur, setelah mendapat tiket subway saya pun menuju ke Temple of Heaven. Karena tidak memperhatikan dengan tepat, saya turun di terminal yang salah, saya turun di terminal chongwenmen. Saya menyadarinya setelah keluar dari stasiun dan tidak melihat adanya tanda-tanda kuil samasekali. Yang ada adalah bangunan museum kereta api dan keramaian jalan besar yang biasa di temui di Beijing. Sayapun terpaksa membeli tiket lagi dan tiba di Temple of Heaven pukul 3 sore. Tiket masuk untuk menikmati kuil ini sebesar 30 yuan, itu sudah termasuk memasuki seluruh kuil yang terdapat dalam komplek Temple of Heaven.

Pelataran Temple of  Heaven
Circular Mound Altar

Hall of Prayer Building
Lebih besar dari Forbiden city, luas area kuil ini mencapai lebih dari 200 ha. Bedanya adalah Kuil ini lebih didominasi oleh taman dan area hijau lainnya. Bangunan yang terdapat di kompleks ini berupa the Hall of Prayer for Good Harvest (Qiniandian), merupakan bangunan yang menjadi ikon tempat wisata ini; The Imperial Vault of Heaven, di sini terdapat dinding yang dapat memantulkan suara atau gema; dan yang terakhir adalah The Circular Mound Altar, berupa panggung bulat yang cukup luas. Selain bangunan-bangunan tersebut terdapat juga taman bunga serta atraksi-atraksi lainnya. Menurut keterangan yang saya baca di papan-papan informasi, bangunan-bangunan di kompleks ini melambangkan hubungan antara bumi dan surga. Square atau persegi melambangkan bumi sendangkan circular atau lingkaran melambangkan surga. Karena waktu sudah sore tepat jam 5, menandakan kuil ini akan tutup saya pun bergegas keluar karena hari semakin gelap dan dingin. Saya tidak sempat mengunjungi rose garden, tapi saya sudah cukup puas karena saya sudah mengambil beberapa foto menarik di kuil ini.

Sebelum kembali ke hostel saya pergi ke stasiun kereta api, Beijing West, untuk membeli tiket ke Shanghai besok lusa. Karena musim liburan menjelang imlek saya takut tidak kebagian tiket, jadi untuk berjaga-jaga saya membelinya 2 hari sebelumnya dan saya mendapatkan tiket hard seat seharga 156 yuan. Setelah urusan tiket selesai saya menyempatkan untuk berjalan-jalan di sekitar wangfujing street dan makan malam di restoran dekat hostel. Saya tidak mau lagi memesan menu nasi, karena takut tidak habis. Sebagai gantinya saya memesan Mi kecap yang rasanya cukup enak dan mengenyangkan.