Jumat, 07 Agustus 2015

Welcome To Shanghai....

3 Februari 2015

The Bund Malam Hari

Suasana Jalanan Shanghai
Setelah menempuh perjalanan dengan kereta api selama kurang lebih 22 jam, tepat pukul 8 pagi saya tiba di Shanghai. Yup... pada hari ke-15 Shanghai merupakan kota ke sekian yang saya kunjungi dalam trip backpacker saya kali ini. Masi sama seperti Beijing, Suhu disini masih dingin, walaupun tidak sedingin Beijing tapi angin disini cukup kencang karena tepat berada di tepi laut China Selatan. Kota Shanghai memiliki sejarah yang sangat panjang. Tentunya tidak akan saya kupas secara detail karena akan menghabiskan berhalaman-halaman blog ini nantinya. Dan tentunya karena merupakan kota perdagangan dan pusat bisnis, kota ini akan dipenuhi oleh ekspatriat-ekspatriat dari berbagai penjuru dunia.
Seperti biasa, kegiatan setelah tiba di suatu tempat baru, hal yang saya lakukan adalah mencari penginapan yang telah saya booking lewat web. Karena sudah hari sekian saya di negeri tirai bambu ini, jadi saya sudah terbiasa dengan stasiun kereta api, subway, bus dan sebagainya. Saya memilih penginapan yang dekat dengan stasiun metro, di sini namanya Shanghai Metro,  namun apa boleh buat jarak yang dicantumkan di web booking tidak sedekat yang diperkirakan. Saya harus berjalan kurang lebih 20 menit untuk mencapai penginapan ini. Apaboleh buat, ada harga ada barang. Saya membayar penginapan ini sebesar 150 yuan untuk 3 malam. Setelah chek in dan membereskan beberapa barang bawaan, saya bersiap-siap untuk menjelajahi Shanghai dan mencari makanan pengganjal perut. Kamar dorm yang saya tempati dihuni oleh beberapa mahasiswa dan orang-orang yang mencari pekerjaan di Shanghai. Jadi cuma saya sendiri turis di kamar tersebut.

Jalanan Shanghai Yang Legang

Shanghai Urban Planing Museum
Saya sebenarnya tidak terbiasa menyusun tempat-tempat mana saja yang akan saya kunjungi di Shanghai, karena beberapa kali saya susun selalu tidak sesuai dengan rencana awal, karena saya lebih suka dengan sesuatu yang tidak terencana sehingga bisa menemukan hal-hal yang baru. Itulah senangnya bepergian seorang diri, you can go everywhere you want to go tanpa perlu berdikusi dan melalui rapat rumit terlebih dahulu. Tempat yang saya kunjungi pertama kali adalah The Bund. Pearl from Shanghai, demikian mereka menyebutnya. Posisinya tepat berada di tepi Shanghai river. Kita bisa menyaksikan kumpulan bangunan-bangunan pencakar langit berarsitektur moderen yang memiliki bentuk-bentuk yang sangat unik. Kalau saya sih menyebutnya giant maquete of modern architecture. Apabila kita ingin menyaksikan bangunan yang lebih moderen kita tinggal melihat keseberang sungai Huangpu (Pudong area), dan jika ingin menikmati bangunan-bangunan dengan arsitektur yang lebih klasik bergaya eropa kita tinggal memandang ke seberang jalan. Yup, arsitektur bangunan-bangunan di shanghai dipengaruhi gaya arsitektur klasik eropa, yang bangunannya masih ada dan eksis sampai sekarang. Kebanyakan bangunan itu sudah dimanfaatkan sebagai hotel dan pusat perbelanjaan sehingga masih terawat dengan rapi. Saya berkeliling daerah the bund selama beberapa jam. Saya sungguh tidak bisa membedakan mana turis, mana penduduk lokal, karena mereka berpakaian hampir sama modisnya. Jadi jangan harap bisa menemukan turis backpacker dengan keterbatasan budget di sini selain saya tentunya. Hahahahaha....


Maket Kota Shanghai

Rencana Revitalisasi Tepian Sungai Huangpu

Pengembangan Bandara Pudong Shanghai

Display di dalam Museum
Asik berjalan menelusuri kota Shanghai, walaupun saya tidak tahu pasti saya berjalan di daerah mana, saya menemukan Shanghai Urban Planning Museum. Tanpa berpikir 2 kali saya langsung memasuki bangunan tersebut, karena saya bisa melihat sejarah Shanghai lengkap dan perencanaan kota Shanghai kedepannya akan seperti apa (duhhhh mainan anak arsitektur memang tidak jauh-jauh dari bangunan ya). Saya membeli tiket masuk seharga 40 yuan. Bangunan terdiri dari 4 lantai dan sungguh ini merupakan pengalaman baru mengunjungi bangunan yang didalamnya terdapat info lengkap tentang suatu kota. Biasanya museum satwa di Malang atau paling dekat museum wildlifenya rahmadsyah di Medan. China memang salah satu negara yang peka terhadap teknologi. Seperti saya ceritakan sebelumnya mengenai bangunan mega struktur yang terdapat di negara ini, mereka juga mempunyai teknologi kereta cepat yang harga tiketnya menyaingi tiket pesawat udara. Selain itu terdapat juga Maglev Train, kereta cepat (bisa mencapai 500 km/jam) yang gerbongnya melayang di atas rel dan saat ini masih melayani rute longyang road station menuju bandara internasional pudong. Jangan tanya berapa harga tiketnya. Bisa search sendiri di Internet. Hahahhaha.....


Display di Dalam Museum
Di dalam gedung ini akan ditemui sangat banyak perencanaan-perencanaan kota Shanghai kedepannya. Mulai dari pengembangan Bandara international Pudong yang terintegrasi dengan jalur kereta cepat, Revitalisasi kawasan pinggir sungani Shanghai danmasih banyak lagi. Jadi kalau kamu berlatar belakang Arsitek ataupun Planolog, tidak ada salahnya mengunjungi tempat ini. Dijamin ngak bakalan rugi.

Hari ini ditutup dengan jalan-jalan di Nanjing Road. Jika di Beijing terdapat Wang Fu Jing Street, surga belanjanya kalangan menengah ke atas. Maka di Shanghai kita akan menemukan Nanjing Road. Terbagi atas dua segmen yakni Nanjing Road East dan Nanjing Road West. Kiri kanan jalan ini akan ditemui banyak gerai-gerai produk bermerek mulai dari pakaian, perhiasan sampai peralatan-peralatan elektronik. Mengunjungi kawasan ini dimalam hari, kita akan disuguhi pemandangan billboard dan digital advertising yang berkelap-kelip sepanjang jalan. Di daerah ini saya makan malam disalah satu kedai mie milik salah satu etnis uigur. Mie nya diolah dan disajikan bermacam-macam. Jadi jangan harap menemukan makanan tanpa olahan mie di restoran ini. Pertama kali mencobanya adalah waktu di Beijing itupun karna kenalan baru dari pakistan yang mengenalkannya ke saya, alhasil jadi ketagihan.

Nanjing Road Shanghai
Macam-Macam Gerai di Nanjing Road




Tidak ada komentar:

Posting Komentar