Selasa, 06 September 2016

Gunung Papandayan, Gunung dengan Berbagai Alternatif Pemandangan (The Best Part)

Sunrise di Papandayan walaupun sedikit telat
Jalan setapak yang mengarahkan
kami ke jalan yang salah
Ceritanya masih di Papandayan dan ini adalah the best part kalau menurut saya. Dinginnya udara pagi membangunkan saya dari tidur, sekitar jam 4 atau jam 5an gitu. Kondisi sleeping bag yang agak basah menambah ketidaknyamanan tidur kami malam itu. Saya membangunkan kedua rekan saya yang masih terlelap. Niatnya sih tadi malam kalau pagi ini mau hunting sunrise di Gober Hunt. 

Keluar dari tenda suasana Pondok Salada masih sepi sekali, masih pada tidur. Sepertinya cuman kami yang niat banget untuk melihat matahari terbit ini. Setelah memakai perlengkapan tempur agar tidak kedinginan, kami pun mulai menuju Gober Hunt yang katanya spot paling mudah menyaksikan sunrise. Tapi eh, Gober Hunt nya dimana ya??? hayooo, no clue, petunjuk pun tak ada, orang-orang tempat bertanya pun gak ada, apa kami tanyakan saja pada rumput yang bergoyang???? hahahaha. 

Pagi itu kami mengandalkan felling dan bergerak ke arah jalan setapak menuju arah timur. Di tengah jalan kami melihat ada sekelompok pendaki yang telah bangun, kebetulan sekali bukan? Kami pun bertanya mengenai keberadaan si paman gober ini.

Tidak ada tanda-tanda sunrise sama sekali
Berbekal intruksi dari pendaki tersebut kami berjalan ke arah pos dua dan dari sana kami pun mengambil jalan ke kiri, sesuai intruksi, katanya cuman 15 menit sih. 15 menit berjalan.... 20 menit berjalan.... 30 menit berjalan... hingga langit mulai terang kami baru sadar kalau kami berjalan ke arah barat dan semakin jauh. Karena jalan sudah makin mengecil dan hati ini mengatakan ada sesuatu yang janggal, cieeeeee...... Kami pun putar balik dan sampai di pos 2. Di sini lah kami baru sadar kalau pos 2 yang kami singgahi adalah si Gober Hunt dan kami hanya perlu mengambil jalan ke kanan bukan ke kiri. Wadduhhh..... si bapak-bapak yang sedang ngeteh di warung pun tertawa melihat kami yang sudah tersesat lumayan jauh. Beliau bilang kalau kami meneruskan jalan setapak tadi kami akan sampai ke Pangalengan sekalian aja ke Kawah Putih atau guling-guling cantik di kebun teh Pangalengan. Wkwkwkwk
Padang rumput di Gober Hunt

Spot lokasi tenda menghadap ke arah matahari terbit

Kawah Papandayan
Si kawan menunggu si ibu
memanaskan gorengan
Sesampainya di spot sunrise, kita telat karena mataharinya udah keburu bangun duluan, kami melihat ada beberapa kelompok yang bermalam dan mendirikan tenda di sana. Enak banget, buka tenda langsung kelihatan deh tuh matahari terbit. Dari spot ini kami juga melihat kawah Papandayan yang mengepulkan asap serta trek yang kami lalui tadi malam. Sangat indah pemandangan dari atas ini memang. Setelah mengabadikan beberapa momen kami pun bergerak ke pelataran Gober Hunt yang di sisinya terdapat warung. Kami makan gorengan di sana. Karena gorengannya sudah dingin jadi dipanaskanlah kembali sama si ibu-ibu warung, bukan karena itu gorengan bekas kemarin malam yang gak laku ya, makanan di sini memang cepat dingin sih, tapi tidak tau juga ya.... hahahah....


Jalan setapak menuju Pondok Saladah
Spot selanjutnya yang kami kunjungi adalah hutan mati. Treknya bisa diakses dari Pondok Salada dan dari sana memang hutan mati ini sudah kelihatan, kami hanya perlu mengikuti rute jalan setapak hingga mencapai kawasan padang luas dipenuhi oleh pepohonan yang telah kering dan terbakar. Sejauh mata memandang hanya terdapat pohon-pohon kering dan sangat bagus untuk di jadikan latar untuk berfoto. Kami duga pohon-pohon ini mati kepanasan mungkin saat gunung papandayan mengalami erupsi. 

Dari hutan mati kami bergerak ke tegal alun, kawasan padang luas dengan hamparan tanaman edelweiss si bunga abadi. Kami harus mendaki ke puncak lagi kurang lebih 30 menit untuk mencapai area ini. Medan trek yang dilalui cukup menantang karena kita akan terus memanjat sampai ke puncak. Jangan ragu untuk berhenti istirahat dan mengambil napas. Setelah melalui pendakian kurang dari 20 menit, kami memasuki kawasan hutan dan terus mengikuti jalan setapak yang sudah ada. Sesekali kami bertanya pada para pendaki yang hendak turun dari atas, memastikan kalau rute kami benar. 
Hutan Mati

30 menit mendaki dengan semangat dan memasuki hutan yan rimbun, kami pun disambut oleh hamparan padang edelweiss yang, subahanallooooohh, indahnya bukan main. Walaupun matahari sudah naik lumayan tinggi, tidak terasa dan kalah dengan pemandangan yang disuguhkan oleh alam nan indah ini. Di area ini tidak diperbolehkan sama sekali mendirikan tenda, karena dikhawatirkan ekosistemnya nanti akan rusak dan tidak bagus lagi. Dari padang yang indah nan rupawan ini kami berencana menuju puncak tertinggi kawasan Papandayan ini. Rumornya memang tidak ada yang tau dengan jelas di mana puncak gunung ini berada. Bermodal nekat kami pun bertanya kepada pendaki lain yang telah ke sana dan mengikuti petunjuk arah yang di berikan.

Terus bergerak ke atas menembus hutan dengan pepohonan yang lebat kami pun menemukan sebuah pohon dan plang bertuliskan puncak Gunung Papandayan. Tak ayal kami pun mengambil papan tersebut dan apalagi kalau bukan eksis dan berfoto.... entah itu asli atau palsu, ya sudahlah, udah naik jauh-jauh gini. 

Kabut sudah mulai turun dan kondisi langit saat itu sudah mulai ber awan dan kurang bagus. Kamipun memutuskan untuk kembali ke tenda untuk makan karena perut sudah mulai keroncongan. Usai sarapan yang tertunda tersebut kamipun membereskan tenda dan bersiap untuk pulang setelah jam 12 siang. Kami mengambil rute yang berbeda dari sebelumnya, yakni dari bibir kawah Papandayan. Penjaga pos sebenarnya sudah mengingatkan agar jangan menggunakan jalur tersebut karena rawan longsor, yahhhh karena memang dasarnya bandel dan banyak orang kami lihat keluar masuk jalur tersebut, kami pun tergoda. Rutenya memang sangat curam dan licin karena kondisinya adalah kerikil dan pasir jadi harus ekstra hati-hati.
Tegal alun di Puncak Papandayan

Jalan menuju puncak papandayan
Narsis di Puncak Papandayan


Edelweiss si bunga abadi
Kami sampai di Camp David sekitar jam 2 siang dan kondisi cuaca saat itu sudah mulai gelap. Tak mau tetipu dua kali. Kami pun berencana untuk menunggu pick up penuh agar akomodasi bisa ditekan. Pucuk dicinta ulampun tiba, tukang ojek yang sedang lewat menawarkan kami harga 15 rb per motor untuk turun ke bawah. Saat itu hanya dua motor untuk kami bertiga. Tanpa pikir 2 kali kamipun mengiakan dan segera meluncur karena pick up yang ditunggu penuhnya masih lama.
Tenda tercinta

Jalur berbeda turun dari puncak Papandayan (berpapasan dengan para pendaki yang akan naik)
Tukang ojek bilang kalau ongkos ke Bandung itu cuman 35 ribu. Kalau beruntung malah bisa sampai 25rb. Berbekal pengetahuan itupun kami berinisiatif menyetop elf Bandung Cikajang dan menawar dengan harga 35 rb. Si bapak ngotot dengan harga 45 ribu, yah kami jual mahal dong. Hingga akhirnya dia menyerah dengan harga 35 rb kami pun langsung naik dan cusss ke Bandung tanpa pindah bus.

Catatan kalau mau ke papandayan, pertama pilihlah hari weekdays dan bukan tanggal merah, karena pada umumnya pada tanggal segitu Papandayan akan dipenuhi oleh pendaki yang kebanyakan adalah keluarga-keluarga kecil. Rutenya yang mudah dan nyaman serta fasilitas dan pemandangan yang disajikan oleh gunung ini menjadikannya objek pendakian yang banyak dipilih oleh pemula. Kedua, jangan ragu menawar ongkos bus atau ojek, jangan langsung percaya ketika mereka menawarkan harga. Tawarlah terlebih dahulu dengan sopan.

So, selamat mendaki...
(c) Photo Credit by Medi & Fahri

Balada Pendakian Gunung Papandayan, GARUT

Kondisi langit saat kami tiba di Camp David (gambarnya agak blur ya maaf...)
Sepertinya saya mulai ketagihan dengan yang namanya naik gunung. Setelah menjajal Gunung Putri yang medannya cukup mudah, saya tertantang untuk naik pangkat dengan mendaki gunung yang lebih tinggi. Adalah berawal dari ajakan teman saya, sebut saja namanya Medi, dia punya resolusi di tahun 2015 untuk mendaki Gunung Papandayan. Alasannya memilih papandayan adalah pemandangan alam yang ditawarkan sangat beragam dan sangat indah, seperti yang di tulis di blog-blog dan web para pendaki yang saya lihat di internet. Karena mulai tertarik dengan mendaki gunung, saya pun mengiakan ajakan teman saya tersebut.

Kami melakukan pendakian bertiga dengan satu lagi teman yang merupakan saudara dari teman saya, sebut dia Fahri. Setelah membuat grup whatsapp, kami pun menentukan tanggal dan membagi-bagi barang bawaan yang akan dibawa nanti pada hari H. Semua peralatan camping kami sewa, karena memang kami tidak punya, mengingat sangat banyak tempat penyewaan alat camping sekarang ini dan harganya cukup terjangkau. Setelah semua persiapan dan tanggal ditentukan selanjutnya adalah menunggu hari H dan menjaga kesehatan serta stamina agar pendakian nanti berjalan dengan lancar. Tidak lupa berdoa semoga cuaca pada hari H akan cerah karena bulan kami melakukan pendakian adalah bulannya musim penghujan. Amiiiin...

Mendekati hari pendakian, sehari sebelum pendakian, si Fahri mengalami radang tenggorokan. Alhasil kami mengundur keberangkatan 1 hari dengan asumsi keadaannya akan membaik setelah beristirahat semalam penuh. Hatipun sudah gelisah dan tak enak karena rencana pendakian yang kami susun jauh-jauh hari terancam batal. Dengan mempertimbangkan berbagai hal dan ngototnya teman saya ingin mendaki Papandayan, kami membuat plan B, kami akan tetap berangkat berdua walaupun kemungkinan teburuknya Fahri belum sehat juga. Selain iru kami sudah terlanjur membooking alat-alat camping dan sudah keburu tanggung kalau dibatalkan. Mengingat tanggal di 2015 ini akan segera berakhir, masag ia... resolusinya si Medi tahun ini gagal...???!!!!

Malam sebelum berangkat, guess what ??? kondisi si Fahri sudah mendingan dan akhirnya kami pun jadinya berangkat bertiga seperti rencana awal. Alhamdulillah....

Terminal Leuwi Panjang, tempat kami menunggu Elf
Kami berangkat pada tanggal 29 Desember beberapa hari sebelum tahun baru. Tujuannya adalah menghindari keramaian pada saat hari libur. Karena akan banyak pendaki yang akan menghabiskan waktu di puncak-puncak gunung pada saat pergantian tahun, ya ala ala new year eve on top of the world lah.... Sekitar pukul 12 siang kami pun bertolak dari Dago dengan menumpang bus Damri menuju ke Leuwi Panjang. Untuk mencapai Gunung Papandayan yang terdapat di Garut, kami harus menumpangi bus elf yang ada di sana dengan ongkos yang kami lihat di internet cuman 25 ribuan. Dan saat itu kami di akal-akali kondektur bis dengan ongkos 40 ribu karena alasan sudah termasuk bus ke dari Garut ke Cisurupan yang merupakan gerbang masuk ke Papandayan. 

Perjalanan dengan elf yang harusnya cuman 3 jam kami selesaikan dengan waktu 5 jam, karena elf yang kami tumpangi sangat banyak ngetemnya. Kami diturunkan di alun-alun kota Garut dan berganti bus dengan jurusan Cisurupan. Si kondektur sudah mengingatkan kami untuk tidak lagi membayar ongkos karena sudah dibayar oleh bus sebelumnya, tapi kenyataannya kami masih kena charge 5 ribu perorang karena ongkos yang dikasih oleh bus sebelumnya katanya masih kurang. Karena malas berdebat ya kami kasih aja tambahannya. Fiuhh...... yang harusnya 25ribu di internet ternyata menjadi 45ribudi dunia nyataa....

Narsis dulu di plank "Selamat Datang" Camp David
Kami tiba di gerbang pendakian di Cisurupan sekitar pukul 6 lewat sore hari. Kondisinya sudah sangat sepi dan kabut mulai turun. Kami masih harus melanjutkan perjalanan menuju kaki gunung yang merupakan basecamp awal pendakian. Ada dua alternatif pilihan, pertama dengan menumpang pick up yang harganya 15 ribu per orang tapi harus nunggu penuh 15 orang atau kedua langsung dengan ojek dengan harga 20 ribu per orang, atau kalau mau olahraga bisa berjalan kaki selama kurang lebih satu jam, aowwwwwww......

Mengingat sudah hampir malam opsi pickup sudah tidak mungkin lagi, apalagi jalan. Jadi cara satu-satunya adalah dengan ojek. Begitu turun dari elf, kami langsung di kerumuni oleh bapak-bapak ojek layaknya gula dikerumunin semut. Kami ditawari harga 40 ribu per orang dengan alasan sudah mulai gelap, whattt???? berlagak jual mahal, kami pun menunggu rombongan yang akan melakukan pendakian siapa tahu masih cukup kuota untuk diajak carter pick up bareng. Namun karena sudah malam dan massa yang terkumpul saat itu hanya 7 orang 2 orang bapak-bapak dan sepasang pasangan muda asal Bekasi. 

Sepertinya bapak-bapak ojek ini menyerah dan mau mengangkut kami dengan ongkos 25 per orang. Perjalanan menuju camp david yang merupakan titik awal pendakian memakan waktu sekitar 15 menit. Jalan yang kami lalui sudah beraspal dan bisa dilalui kendaraan roda empat dengan baik. Kami harus membayar tiket masuk sebesar 15 ribu perorang di gerbang masuk sebelum memasuki camp david. Setelah itu masih harus mendaftar di pos dan membayar restribusi lagi sebesar 15 ribu lagi. Kami dianjurkan untuk melakukan pendakian keesokan harinya karena kondisi sudah gelap dan sangat berbahaya kalau belum tau medannya.

Setelah diskusi dengan teman dan dua orang rekan dari Bekasi, dengan bejumlah 5 orang, kamipun memutuskan untuk melakukan pendakian malam itu juga dengan mengikuti rute yang sudah ada. Karena teman baru kami yang dari Bekasi mengaku sudah pernah mendaki kesana sebelumnya, tapi sudah beberapa tahun yang lalu, yahhhhh berdoa saja deh semoga selamat hingga tujuan dan tidak ketemu dengan hal yang aneh-aneh....

Pendakian malam itu berlangsung selama lebih dari 2 jam. Medan yang kami lalui merupakan kombinasi jalan berbatu dan gabungan naik turun bukit dan lembah. Melakukan pendakian dimalam hari harus ekstra hati-hati karena oleng sedikit kita bisa terjatuh dan buruknya bisa masuk jurang. Beberapa kali kami istirahat untuk menarik napas dan meneguk air minum. Kami hanya cukup mengikuti jalan setapak dan tiang-tiang biru hingga nantinya sampai di Pondok Saladah, yang merupakan area untuk mendirikan tenda. Uniknya diperjalanan kami berpapasan dengan warga lokal yang mengendarai motor, what?????? motor????? bukan motor biasa memang, motor yang mereka gunakan adalah jenis trail yang sudah dimodifikasi sedimikian rupa sehingga ampuh di medan seperti Papandayan ini. Berkendara di sini sepertinya bukan ditetukan oleh jenis motor saja melainkan skill yang sudah dimiliki selama bertahun-tahun lamanya. jadi jangan heran kalau selagi melakukan pendakian terdapat satu dua motor yang akan melintas membawa barang-barang dagangan yang dijual di puncak papandayan.

Kami tiba Gober Hunt, awalnya kami belum tau bahwa area ini adalah Gober Hunt, sekitar pukul 9 malam. Di Papandayan ini memang sudah terdapat warung-warung yang menyediakan jajanan dan perlengkapan sehari-hari bahkan toilet untuk mandi juga ada, kurang enak apa coba? Kami istirahat di salah satu warung sejenak karena masih ada sekitar 15 menit lagi waktu yang diperlukan untuk sampai ke Pondok Saladah. Setelah mendaftar di pos  ke 2, kami pun melanjutkan perjalanan melewati hutan dengan mengikuti trek yang sudah ada.

Pengalaman saya mendirikan tenda di Gunung Putri ternyata  sangat berguna di sini. Kami pun dengan cepat bisa mendirikan tenda di Pondok Saladah setelah memutuskan mencari lokasi yang agak rata dan tidak terlalu ramai, yahh walaupun bentuknya tidak sempurna-sempurna amat sih. Kami pun mengeluarkan kompor untuk memasak air karena perut sudah keroncongan dan kondisi malam itu cukup dingin. 

Gambar apa ini?? niatnya sih mau foto milky way tapi fail...
Sisa malam dihabiskan dengan bergabung dengan api unggun yang dibuat oleh petugas kebersihan Pondok Saladah sambil mengeringkan sleeping bag yang basah terkena hujan di alam tas. Kami lupa membungkusnya dengan plastik karena dalam perjalanan dengan elf tadi sempat turun hujan di tengah jalan.

Jumat, 11 Maret 2016

Camping Gembira di Gunung Putri Lembang

Kota Lembang dari Puncak Gunung Putri (maap ngeblurrr.....)
Punya hobi hiking atau naik gunung? suka camping tapi gak mau jauh-jauh dan susah-susah? Gunung Putri di daerah Lembang solusinya. Sudah beberapa bulan sejak saya kuliah di Bandung, bisa dibilang saya belum traveling kemana-mana selain muter-muter di dalam kota. 


View dari Puncak Gunung Putri
Ide awalnya bermula saat selesai menghadiri malam penghargaan festival filim pendek di daerah Braga, saya dan teman-teman genk film merencanakan liburan bersama usai berkelut dengan produksi filim pendek yang bisa dibilang masih baru buat kami. Alhasil terpilihlah Gunung Putri sebagai kandidat liburan pertama yang kami lakukan bareng. Kami memilih gunung ini karena rekan saya, sebut saja Ikhsan, merekomendasikannya karena rutenya yang tidak terlalu berat dan sangat cocok buat pemula yang tidak tertarik dengan hobi naik gunung. Malam itu pun kami tetapkan tanggal keberangkatan dan perlengkapan apa saja yang akan kami bawa nantinya.

Tiba pada hari H, kami berkumpul di kosan saya dan membagi-bagi barang bawaan berupa tenda dan sleeping bag yang telah disewa teman saya sebelumnya. Kami bertolak ke TKP dengan mengendarai sepeda motor sekitar jam 4 sore. Suasana saat itu mendung dan kami khawatir akan turun hujan. Magrib sekitar pukul 6.30 sore kami berhenti di sebuah mesjid di kaki Gunung Putri untuk sholat dan kemudian melanjutkan perjalanan yang tinggal beberapa menit lagi. Jalanan yang kami lalui cukup bagus dan aman dilalui oleh kendaraan bermotor hingga sekitar 100 meter ke arah warung yang dijadikan sebagai gerbang masuk pendaki yang mau menaiki Gunung Putri. 

Di warung ini kami membeli perbekalan dan cemilan secukupnya serta kayu bakar untuk membuat api unggun. Kami membayar 15 ribu untuk 2 ikat kayu bakar dan 10 ribu untuk menitip sepeda motor, jadi pasti aman. Dari warung ini kami akan melanjutkan pendakian dengan berjalan kaki yang katanya hanya membutuhkan waktu 15 menit. Karena kondisi kami memang yang kurang olahraga dan persiapan bisa dibayangkan pendakian yang katanya 15 menit itu kami selesaikan dengan waktu hampir 1 jam karena bolak-balik break untuk tarik napas, heheheheh.

Sesampainya di puncak gunung kami mendirikan tenda. Ini adalah pengalam kedua saya camping, yang pertama sewaktu di Sibolangit yang penuh dengan drama dengan teman seangkatan kuliah s1 saya dulu, hahahah
Matahari Terbit
Tenda selesai dalam waktu sekitar hampir 1 jam karena cuma sedikit dari kami yang mengerti cara untuk memasangnya, namanya juga pemula. Masalah selanjutnya adalah membuat api unggun, kondisi tanah saat itu cukup basah, alhasil kami harus berulang-ulang meniup kayu bakar sampai bengek hingga akhirnya kami tahu solusi menghidupkan apinya dengan cara di kipas, duhhhhh repot ya, hehehe....

Menjelang tengah malam masih banyak rombongan yang baru tiba untuk camping. Pemandangan kota Bandung dari puncak Gunung Putri pada malam hari sangat indah. Gemerlap jutaan lampu kota seperti lautan bintang yang berkerlap kerlip sejauh mata memandang. Selain itu suasana malam yang cerah juga menyuguhkan pemandangan jutaan bintang di langit lengkap dengan bulan purnama yang bersinar terang. Gunung Putri ini memang sangat cocok buat dijadikan pelarian dari penatnya kehidupan kota. Sisa malam itu kami habiskan dengan bercerita di dekat api unggun sambil menikmati malam.

Pagi menjelang, kami bangun untuk menikmati sunrise di atas bukit didekat kami mendirikan tenda. Tak kalah dengan pemandangan malam hari, pemandangan matahari terbit dari atas bukit juga tak kalah menariknya. Di bawah terlihat pemandangan ribuan rumah-rumah kecil yang masih dilapisi oleh gumpalan-gumpalan awan. Dari balik gunug di sebelah timur perlahan sang surya menampakkan wujudnya, sungguh sangat indah sekali, so? nikmat Tuhanmu mana lagi yang kamu dustakan.

Lembang di Pagi Hari
Tempat Mendirikan Tenda Dikelilingi Pohon Pinus
Permukiman di Kaki Gunung Putri
Perkebunan di Kiri Kanan Pendakian
Setelah mengabadikan beberapa moment bersama teman-teman, kami turun ke tenda untuk sarapan dan bersiap-siap untuk pulang ke Bandung. 

Catatan, kalau ingin kamping dengan medan yang gampang dan dekat dengan kota Bandung, Gunung putri di daerah Lembang ini adalah pilihan yang sangat cocok. Jangan khawatir jika belum pernah mendaki gunung sebelumnya. Akan sangat memudahkan jika kamu menggunakan sepeda motor untuk mencapai kaki gunung ini, jalannya sih cukup untuk mobil jenis avanza, namun kebanyakan yang mendaki rata-rata menggunakan sepeda motor. 







Kamis, 10 Maret 2016

Jogja Bukan Sekedar Wisata Budaya

Salah Satu Pantai Selatan Jogja

Pernah ke Jogja sebelumnya? Pasti jawabannya hampir 50 persen akan menjawab ya. Untuk kesekian kalinya saya ke Jogja saya tentunya sudah paham betapa kentalnya budaya jawa yang terdapat di kota ini. Sebagai traveler yang bisa dibilang hampir sejati, saya tentunya tidak mau mengunjungi tempat-tempat wisata yang sebelumnya sudah saya kunjungi. Saya lebih suka berkunjung ke tempat yang baru untuk mendapat pengalaman baru.

Pantai Air Terjun Sedang Surut
Ke Jogja pasti wajib ke candi, ke Jogja pasti wajib ke Keraton, ke Malioboro dan masih banyak wisata di dalam kota yang sangat menarik untuk dikunjungi. Tapi kali ini saya dan beberapa rekan saya akan mencoba menjelajahi beberapa pantai yang ada di selatan Jogja. Rekan-rekan saya kali ini orangnya tidak mau eksis, jadi saya memakai nama samaran, sebut saja mereka adalah Utuy, Fikar, Aldo, dan Ferdi. Mereka sementara tinggal di Jogja untuk mengikuti tes masuk UGM sedangkan saya dan teman saya satu lagi, sebut saja dia Imam, kami berdua ikut tes masuk ITB dan berkunjung ke Jogja karena memang sudah di rencanakan sebelumnya. Kami di Jogja selama beberapa hari, dan salah satu itenari perjalanan kali ini adalah mengunjungi salah satu pantai di selatan Jogja.

Kondisi Air Terjun di Bibir Pantai
Rencana awalnya memang kami akan bepergian dengan sepeda motor. Melihat jarak yang jauh dan cuaca yang sangat terik kami memutuskan untuk rental mobil. Kebetulan ibu kos tempat teman saya menginap memiliki sebuah mobil avanza yang sedang nganggur. Dengan nego dan lobi-lobi indah teman saya yang bernama Fikar, dia memang sudah terbiasa dengan hal seperti ini, jadilah kami dikasih pinjam dengan harga yang terjangkau. Terima kasih ibu kos....

Kami bertolak dari Jogja sekitar pukul 11 siang, dan berhenti di sekitar prambanan untuk bergabung dengan rombongan lain. Suasana sepanjang jalan memang sangan menyenangkan, kiri kanan jalan kami disuguhi pemandangan perkampungan, sawah, hutan, perkampungan lagi sawah lagi, dan hutan lagi. Kami terus berkendara ke arah selatan dengan panduan maps dari google dan penunjuk arah di jalanan.

Sekitar jam 2 siang kami tiba di pantai yang pertama. Kondisi jalan kepantai ini dibilang belum terlalu mulus akan tetapi pemandangan di penghujung jalan setelah kami memarkirkan mobil sangat indah dan worth it rasanya setelah berjalan selama 3 jam lebih. Saya lupa nama pantainya, namun sangat cocok dijadikan tempat untuk berleha-leha, memang tidak seperti pantai pada umumnya yang bisa dijadikan untuk berenang. Pantai ini lebih cocok digunakan sebagai tempat untuk merenung sambil menikmati keindahan alam. Sedapppp.....

Bibir pantai ini memang didominasi oleh jurang yang sangat curam. Apabila kita ingin bermain air di lautnya kita harus turun terlebih dahulu menggunakan tangga kayu. Dan uniknya pantai ini adalah karena terdapat aliran sungai kecil yang airnya jatuh melalui tebing sehingga menciptakan sebuah air terjun kecil. Sayang sekali airnya saat itu sangat sedikit jadi yahhhh, cuman gemericik tetes-tetes air sajah....

Akses MAsuk Ke Pantai Nglambor
Setelah puas berfoto-foto ria kami bergerak kepantai berikutnya di sisi timur pantai ini. namanya pantai Nglambor. Di sini pengunjungnya lebih banyak dan didominasi oleh keluarga-keluarga yang sedang berlibur membawa anak-anaknya. di pantai ini terdapat pantai pasir sehingga bisa digunakan untuk berenang dan bermain air. Berbeda dengan pantai yang pertama, kami harus memarkir mobil di jalan utama dan berjalan kaki untuk sampai ke daerah pantai selama kurang lebih 15 menit, ada alternatif ojek kalau memang malas untuk berjalan kaki.

Pantai Nglambor ini berbentuk seperti teluk kecil. Karena memang posisi kedua pantai yang kami kunjungi terletak di sisi selatan pulau Jawa yang langsung berbatasan dengan samudera maka gelombangnya sangat tinggi, jadi harus berhati-hati kalau berenang. Terdapat dua buah bukit yang bisa digunakan untuk menikmati sunset. Salah satu bukit, terpisah dengan bibir pantai, jadi kami harus menyebrangi perairan kalau mau kesana, dan kondisi saat itu sudah terlalu sore dan berbahaya karena air sudah mulai pasang. Jadi kami memutuskan untuk ke bukit yang satunya lagi yang lebih aman.


Bukit di Pantai Nglambor

Sunset Dari Puncak Bukit

Mendaki perbukitan di pantai ini memang harus ekstra hati-hati, karena bebatuan karang yang terdapat di sekitarnya sangat tajam dan berbahaya. Butuh waktu 15 menit untuk mencapai puncak dan kami tiba disaat yang sangat pas ketika matahari bergerak keperaduan. Pemandangan horison yang mulai memerah menjadi latar yang sangat pas untuk dijadikan objek foto.

Waktu menunjukkan pukul 6 malam dan kami bersiap untuk pulang ke Jogja karena kondisi di pantai sudah mulai gelap dan angin mulai bertiup kencang. Penerangan di pantai ini belum terfasilitasi oleh listrik PLN sehingga kios-kios yang terdapat di sepanjang jalan masih menggunakan genset berbahan bakar besin untuk mensuplai kebutuhan listrik. 

Panoramic Vie Pantai Nglambor Jogja

Beberapa tips yang mungkin bisa saya bagi setelah berkesempatan mengunjungi pantai di selatan Jogja ini adalah, pertama berangkatlah sepagi mungkin agar pantai yang dikunjungi semakin banyak, mengingat jaraknya dari kota yang sangat jauh jadi kalau mau wisata pantai harus spare waktu selama satu hari untuk menikmati keindahan pantai-pantai di selatan ini. Karena percaya atau tidak masih banyak lagi pantai yang bisa dikunjungi apabila kita bergerak kearah timur atau baratnya lagi. Kedua, daya tarik Jogja bukan hanya sekedar budaya saja, wisata alam yang dimilikinya juga mampu menghipnotis pengunjungnya hingga betah berlama-lama. Jangan takut tersesat, di jaman teknologi seperti saat ini semua serba mudah. Atau kalau gaptek, tinggal tanya aja, so make it simple...