Senin, 27 Februari 2017

Apa itu URA?

URA Center Singapore
Urban Redevelopment Authority (URA), mungkin bagi orang yang tidak berlatar belakang ilmu tata kota atau planologi nama tersebut terdengar asing sekali di telinga. URA merupakan sebuah badan yang menangani pengembangan seluruh kawasan di Singapura, kalau di Indonesia mungkin bisa disebut Dinas Tata Kota. Bagi seorang yang berlatar belakang pendidikan arsitektur dan sekarang tengah belajar perancangan kota, URA merupakan salah satu tempat yang harus dikunjungi dan masuk kedalam list tujuan wisata jika berkunjung ke Singapura. Saya pernah mengunjungi galeri dengan konsep serupa di Shanghai, untuk ulasannya bisa di baca di sini.

Perlu diketahui, setiap 2 atau paling lama dalam kurun 3 tahun, Singapura selalu memiliki bangunan-bangunan baru yang sangat menarik dan bisa dipastikan akan menjadi destinasi tujuan wisata apabila sudah selesai dibangun. Nah, di URA ini kita dapat melihat rencana-rencana pembangunan yang akan dilakukan oleh pemerintah Singapura dalam jangka pendek hingga jangka panjang. Mereka menyajikannya semua informasi tersebut secara informatif sehingga mudah dipahami oleh masyarakat yang bukan berlatar belakang arsitektur atau tata kota. Selain rencana pembangunan kota di masa depan, URA juga menyajikan dan menampilkan sejarah kota Singapura tempo dulu dengan runut. 

Kawasan marina bay dalam bentuk maket

Kumpulan gedung-gedung pencakar langit di singapura
Buat kamu yang ingin mengunjungi URA ketika berada di Singapura, kamu dapat bertandang pada jam dan hari kerja. URA memiliki galeri yang terbuka untuk umum dan gratis tanpa dipungut biaya. Jika kalian datang secara group atau rombongan, URA menyediakan pemandu atau guide secara gratis akan tetapi harus daftar dan memberitahu pihak URA terlebih dahulu beberapa hari sebelum berkunjung ke sana.

Untuk mencapai URA dengan transportasi publik, kamu bisa menggunakan Bus atau MRT, jika kamu menggunkana MRT kamu bisa turun di Outram Station atau Teluk Ayer Station, berjalan beberapa blok ke selatan kamu akan menemui Singapore City Gallery. Terdapat beberapa destinasi wisata di sekitar URA, seperti RED Dot Museum, Tanjung Pagar dan juga Chinatown bisa ditempuh dengan berjalan kaki dari URA.

Group photo shoot di dalam galeri

Kepala dinas tata kota Bandung, Bekasi sama Garut (Aminnn...)

 Photos by: Vici, Masur, dan Gita


Jumat, 24 Februari 2017

Penasaran Sama Yang Namanya Stone Garden di Padalarang

Stone Garden Padalarang
Sekitar bulan september, saya beserta saya sendiri (hahahaha) pergi membolang alias jalan-jalan ke Stone garden di daerah Padalarang seorang diri. sudah lama saya ingin mengunjungi tempat wisata tersebut, hampir 2 tahun saya di Bandung belum sempat saya mengatur waktu untuk datang ke tempat tersebut. Alhasil karena teman kampus pada sibuk semua dan tidak ada yang berminat untuk ikut, pergi lah saya seorang diri tanpa ada yang menemani....

Sebelumnya saya cari di web akses transportasi umum yang menuju ke sana. Saya menemukan blog yang menceritakan berbagai transportasi umum yang bisa digunakan mulai dari bus hingga kereta api. semua keterangan tersebut saya peroleh di sini (terimakasih kepada yang punya blogg....) 

Tak banyak berpikir sabtu pagi sekitar jam 6.30 saya langsung berangkat ke stasiun Bandung dengan menggunakan angkot dan tiba di sana sekitar 6.45. Saya turun di pintu utara dan baru mengetahui bahwa tiket kereta api lokal di jual di pintu selatan. Saya membeli tiket dengan keberangkatan 7.15. Saya masih memiliki waktu sekitar 10 menit sebelum kereta berangkat, dan kesempatan itu pun saya manfaatkan untuk membeli sarapan dan beberapa cemilan. FYI harga tiket kereta apinya sekitar Rp. 8000 dan jarak tempuhnya sekitar 1 jam-an (karena kereta ekonomi ya jadi banyak berhentinya).

Warung di persimpangan jalan menuju ke Stone Garden
Tepat 7.15 WIB keretapun berangkat (tepat waktu, diCATET). Kereta Api Ekonomi Bandung Raya ini meskipun kelasnya ekonomis, di dalamnya sudah terdapat AC pemirsah, jadi jangan takut kepanasan dan kipas-kipas, ya meskipun saya meragukan tenaga AC split 2pk yang ada mampu mendinginkan segerbong yang penuh sesak jika penumpangnya penuh. Beruntungnya saya berangkatnya weekday bukan weekend jadi gerbong tidak terlalu padat. Kereta api berhenti di setiap stasiun yang dilewatinya (namanya juga ekonomi broh). Tepat jam 8.15 saya tiba di Stasiun Padalarang. Keluar dari stasiun, saya mengikuti instruksi blog yang saya baca, dari pintu keluar jalan ke kanan sampai simpang tiga, dari persimpangan ini naik aja angkot warna kuning tujuan Rajamandala (angkotnya warna kuning) kalau ragu tanya aja petugas DLLAJ yang bertugas di persimpangan tersebut. Setelah naik angkot, biar aman, bilang aja ke pak supir kalau nanti mau diturunkan di pintu masuk Stone Garden. Kalau kamu malu-malu, pantengin aja jendela sisi kanan angkot, perhatikan baik-baik kalau sudah mendekati gunung-gunung kapur berarti lokasinya sudah dekat. Tinggal lihat plank Kawasan Wisata Stone Garden di sebelah kanan jalan, dekat dengan mesjid bercat hijau (repot kan? mending minta tolong bapak supir deh, jangan malu-malu kucing). 

Lokasi parkiran di kawasan wisata Stone Garden
Tiba di gerbang masuk utama Stone Garden, tepatnya setelah turun dari angkot (ongkosnya Rp. 3000), kamu masih harus berjalan lagi sekitar 15-20 menit menuju perbukitan batu kapur tersebut. Kalau malas jalan, begitu turun angkot di persimpangan gerbang masuk sudah ada beberapa ojek yang menawarkan diri untuk mengantar, cuman ya saya kurang tahu harganya soalnya saya lebih memilih berjalan kaki. Sepanjang perjalanan menuju Pintu masuk Area Stone Garden, pemandangan yang bisa dinikmati adalah permukiman penduduk, tempat pengolahan batu kapur, dan perkebunan. Jangan takut tersesat, karna ada papan penunjuk arah yang dibuat oleh pengelola kawasan wisata, yaaaaa meskipun seadanya.

Tidak terasa berjalan selama 15 menit, kamu akan tiba di gerbang utama kawasan wisata. Begitu memasuki gerbang tersebut, kita akan disambut warung-warung makan khas kawasan wisata. Setelahnya baru masuk gerbang penjualan tiket masuk kawasan wisata. Harga tiketnya sekitar Rp. 5000 untuk wisatawan biasa, dan ada harga khusus apabila ingin melakukan pemotretan di sekitar kawasan. Akhir-akhir ini saya dengar, belum pasti jadi mohon dicek dulu, bahwa wisatawan yang membawa kamera SLR dianggap sebagai photografer profesional jadi akan di charge dengan harga yang sama dengan yang mau foto praweding (jadi pastikan dulu sebelum kesana ya).

Gerbang masuk kawasan wisata

Tempat penjualan tiket masuk

Memasuki kawasan wisata Stone Garden kamu akan disambut oleh monyet-monyet liar yang masih terdapat di kawasan ini, tapi tenang saja, monyet di sini tidak seagresif monyet-monyet yang ada di monkey forrest di Bali. Justru mereka akan pergi jika ada yang mencoba mendekatinya (maklum broh masih pada malu-malu kucing). Pemandangan yang ada di sekitar kawasan ini adalah berupa hamparan bebatuan kapur dengan bentuk-bentuk yang cukup menarik. Sayangnya saya tiba di sana siang hari dan matahari bersinar cukup terik jadi saya tidak terlalu menikmatinya. Tips buat kamu yang ingin ke Stone Garden ada baiknya berkunjung pagi sekali sebelum jam 9 atau sore sekalian sambil menikmati sunset.Setelah mengambil beberapa foto, saya pun memutuskan untuk kembali ke Bandung. menaiki angkot yang sama, tapi berlawanan arah dan turun di persimpangan ke arah stasiun padalarang. 

Beberapa kawanan monyet yang terdapat di kawasan Stone Garden

Kawanan monyet yang duduk-duduk manja di atas bebatuan
Kondisi bebatuan kapur yang terdapat di kawsaan wisata

Terdapat hamparan rumput yang hijau, kontras dengan material bebatuan yang berwarna putih

Jangan dihiraukan

Pemandangan dari atas bukit Stone Garden

Terdapat beberapa pondok yang dapat digunakan untuk beristirahat, setahu saya gratisss
Sebelum pulang saya menyempatkan diri untuk singgah ke Mesjid Al-Irsyad di Kota Baru Parahyangan. Latar belakang saya sebagai seorang arsitek mendorong saya untuk melihat dan berkunjung ke salah satu mesjid karya Walikota Bandung, Ridwan Kamil, yang juga seorang arsitek populer di Indonesia. Puas menikmati desain masjid tersebut dan menyempatkan diri untuk sholat dzhuhur, saya pun pulang ke Bandung dengan menaiki Damri, haltenya ada di dekat mesjid dan tinggal tunggu saja maka akan ada Damri yang akan berhenti, ongkosnya sekitar Rp. 5000. Oh iya, kalau kamu mau foto-foto di sekitar mesjid dengan menggunakan kamera SLR harus minta ijin dulu sama pengelola (ribetnya, padahalkan bukan untuk kepentingan bisnis atau komersialisasi).

Mesjid Al-Irsyad Kota Baru

Detail dinding mesjid


Menembus Belantara Raya, Menikmati Taman Hutan Raya Bandung

Disambut pepohonan pinus di gerbang masuk dari arah Ciburial
Perjalanan ini saya lakukan sekitar setahun yang lalu, sesaat setelah saya tiba di Bandung. Baru kali in saya berkesempatan untuk menulis dan menceritakan bagaimana keseruan perjalanan saat itu.

Jalan setapak yang terdapat di dalam hutan
Flasback ke setahun yang lalu, saya dan teman-teman baru memasuki bangku kuliah, dan baru mengenal satu dengan yang lain. Saat itu karena masih "baru-baru", belum terlalu banyak tugas kuliah yang meneror hingga ke dalam mimpi. Saya dan teman-teman memutuskan untuk berjalan-jalan low budget yang tidak perlu menginap. Jadilah Tahura (Taman Hutan Raya) menjadi kandidat teratas tanpa ada yang menandinginya saat itu.

Kami berangkat hari sabtu pagi, sekitar jam 7 pagi dan berkumpul di kampus. Disana kami tidak sengaja bertemu dengan Pak Hanson, dosen salah satu matakuliah kami saat itu. Beliau menawarkan tumpangan mengantarkan kami sampai ke Gerbang Tahura dengan menggunakan mobilnya, tanpa basa basi. Karena sungkan dengan kebaikan beliau, kami hanya bersedia diantar sampai Pasar Simpang Dago. Bukannya apa, kita semua sewa batu dan badanya besar-besar kasihan mobilnya, hahahaha.... (terimakasih Pak Hanson). Dari Pasar Simpang Dago kami naik angkot hijau dan setelah nego, supirnya bersedia mengantarkan kami sampai ke gerbang tahura dengan ongkos Rp.3000 per orangnya.

Terdapat kuda di dekat goa jika lelah berjalan kaki
Gerbang masuk tahura ini selain pengunjung yang berjalan kaki, bisa juga membawa sepeda ataupun kendaraan roda dua (tidak disarankan menggunakan sepeda motor karena sangat mengganggu para pejalan kaki), karena rutenya tembus sampai ke Lembang. Setelah melewati gerbang masuk, kita akan disambut oleh pepohonan pinus. Bagi yang suka dengan suasana alam, tempat ini memang pilihan yang pas dan paling dekat bagi yang tinggal di Kota Bandung. Setelah memasuki Tahura kita hanya perlu mengikuti jalan setapak yang ada, jangan takut tersesat karena ada beberapa papan penunjuk arah yang tersedia di sepanjang jalan. 

Sepanjang perjalanan membelah hutan banyak spot-spot menarik yang bisa dikunjungi, seperti Goa Jepang atau Goa Belanda, beberapa Air Terjun, Penangkaran Rusa dan Batu Batik. Goa Belanda dan Jepang bisa kita temui di perjalanan menuju ke arah utara/ ke arah Lembang. Goa pertama yang paling dekat dengan pintu masuk adalah Goa Jepang, di depan gerbang goa sudah ada beberapa pemandu yang menawarkan paket tur keliling goa dan menyewakan senter. Karena goa yang tidak terlalu besar dan kami telah menyiapkan senter sendiri (alias handphone), jadi kami tidak perlu menyewa lagi.

Mulut Goa Jepang
Namanya Goa Jepang, ya tentunya gelap gulita dan udaranya sangat lembab. Tidak banyak yang bisa dilihat di dalam goa sebenarnya, ruang-ruang yang ada di dalamnya juga tidak terlalu banyak dan luas, jadi jangan takut tersesat. Sesuai dengan namanya goa ini dibuat pada masa penjajahan Jepang selain pintu masuk yang lebar, goa ini juga dilengakapi saluran ventilasi berupa lubang-lubang kecil di beberapa tempat.

Setelah berpoto ria bersama di depan mulut goa kami melanjutkan perjalanan menelusuri jalan setapak hingga akhirnya tiba di goa yang kedua, Goa Belanda. Berbeda dengan goa sebelumnya, goa ini sudah lebih moderen dengan dinding dan lantai sudah terbuat dari semen dan dilengkapi saluran drainase. Mulut gua sebagai pintu masuk terdapat di 2 sisi yang membelah bukit. Dan sama seperti goa sebelumnya, goa ini juga sangat gelap dan lembab (informasi gak penting, hahahah). 

Berfoto di mulut Goa Jepang

Suasana di dalam hutan yang dilihat selama perjalanan
Objek berikutnya yang kami kunjungi di dalam Taman Hutan Raya ini adalah batu yang permukaannya terdapat motif batiknya. Sebenarnya kami tidak tahu bahwa di dalam hutan ini akan terdapat objek unik tersebut, cuman karena dalam perjalanan kami melihat papan penunjuk arah yang bertuliskan 'Batu Batik', maka kami pun memutuskan untuk melihatnya. Batu tersebut terdapat di pinggir sungai, dan jalan untuk ke lokasi sangat curam jadi harus ekstra hati-hati karena tidak terdapat tangga turun ke bibir sungai. Untuk sampai ke bibir sungai kami harus berjuang dengan berpegangan ke akar dan ranting pohon. Setelah berjuang menuruni tebing, kami pun menemukan batu batik tersebut. Permukaannya memang mirip seperti pola batik yang diukir. Karena posisinya berada di tepi sungai kami berasumsi bahwa pola-pola tersebut terbentuk dalam waktu yang cukup lama, secara alami oleh arus sungai.

Kondisi sungai di dekat batu batik

Berfoto sembari menuruni tebing ke batu batik
Penampakan batu batik
Puas menikmati ukiran batik alami di pinggir sungai, kami melanjutkan perjalanan ke air terjun, masih sekitar 45 menit lagi berjalan kaki karena saya tidak tahu jarak pastinya (soalnya gak bawa meteran pas jalan). Dalam perjalanan kami singgah di penangkaran rusa dan berkesempatan memberi makan rusa-rusa tersebut, tidak besar memang, namun di dalamnya terdapat banyak juga rusa yang dirawat dan dipelihara. Waktu menunjukkan jam 10 pagi, kami pun berhenti untuk makan gorengan di warung. Terdapat beberapa warung non permanen seperti umumnya di kawasan wisata di Indonesia, mereka hanya menjual makanan dan minuman-minuman ringan. Kami singgah sejenak selama sekitar 15 menit sebelum melanjutkan perjalanan menuju air terjun.

Perjalanan ke penangkaran rusa melewati sebuah bendungan

Memberi makan rusa

Berfoto di depan penangkaran rusa

30 menit berjalan santai menikmati pemandangan hutan, kami pun tiba di lokasi air terjun. Lokasi di sekitar air terjun tersebut sudah lebih terencana dan tertata dengan rapi, layaknya sebuah destinasi wisata. Terdapat beberapa warung makan, arena bermain anak-anak, serta jalan setapak yang rapi. Di lokasi air terjun ini terdapat sebuah jembatan yang dapat digunakan untuk berfoto dan menikmati jatuhnya air dari kejauhan. Sayangnya, melihat kondisi aliran air terjun tersebut sangat kotor dan terdapat banyak sampah, ckckckckckc. Puas berfoto dan bersitirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan ke pintu keluar Taman Hutan Raya, sekitar 15 menit perjalanan. Kalau tadi kami masuk dari Pintu masuk kawasan Ciburual, kali ini kami keluar dari pintu yang terletak di kawasan Lembang, kebayangkan jauhnya (total perjalanan kurang lebih 5 jam karena banyak berhenti). 

Di pintu keluar sudah terdapat angkot yang ngetem untuk mengantar ke pasar Lembang, dan dari sana kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot putih Lembang-Ledeng (dekat UPI) dengan total ongkos per orangnya Rp. 8000 (3000 ke pasar dan 5000 ke terminal Ledeng). Si supir angkot bersedia mengantar kami ke ITB setelah ongkos angkotnya dinaikkan jadi 5000 per orang (normalnya Lembang-Ledeng itu cuman 3500). Oh ia, di lembang kami menyempatkan makan siang di Ayam Bakar Brebes dekat pasar, kami naik angkotnya dari situ.


Air terjun Maribaya

Menikmati suasana di kawasan air terjun Maribaya
So, buat yang ingin liburan dengan budget terbatas di sekitar Bandung dan bosan dengan suasana kota, Taman Hutan Raya Juanda bisa jadi alternatif pilihan kamu berwisata alam dengan teman atau pun keluarga. Lebih asyique kalo rame-rame bro and sist, jadi gak kerasa capeknya (soalnya banyak teman ngobrol). Sendiri juga bisa sih, cuma yaaaaaa mau ngobrol ama pohon? Haahahaha.....