Jumat, 24 Februari 2017

Menembus Belantara Raya, Menikmati Taman Hutan Raya Bandung

Disambut pepohonan pinus di gerbang masuk dari arah Ciburial
Perjalanan ini saya lakukan sekitar setahun yang lalu, sesaat setelah saya tiba di Bandung. Baru kali in saya berkesempatan untuk menulis dan menceritakan bagaimana keseruan perjalanan saat itu.

Jalan setapak yang terdapat di dalam hutan
Flasback ke setahun yang lalu, saya dan teman-teman baru memasuki bangku kuliah, dan baru mengenal satu dengan yang lain. Saat itu karena masih "baru-baru", belum terlalu banyak tugas kuliah yang meneror hingga ke dalam mimpi. Saya dan teman-teman memutuskan untuk berjalan-jalan low budget yang tidak perlu menginap. Jadilah Tahura (Taman Hutan Raya) menjadi kandidat teratas tanpa ada yang menandinginya saat itu.

Kami berangkat hari sabtu pagi, sekitar jam 7 pagi dan berkumpul di kampus. Disana kami tidak sengaja bertemu dengan Pak Hanson, dosen salah satu matakuliah kami saat itu. Beliau menawarkan tumpangan mengantarkan kami sampai ke Gerbang Tahura dengan menggunakan mobilnya, tanpa basa basi. Karena sungkan dengan kebaikan beliau, kami hanya bersedia diantar sampai Pasar Simpang Dago. Bukannya apa, kita semua sewa batu dan badanya besar-besar kasihan mobilnya, hahahaha.... (terimakasih Pak Hanson). Dari Pasar Simpang Dago kami naik angkot hijau dan setelah nego, supirnya bersedia mengantarkan kami sampai ke gerbang tahura dengan ongkos Rp.3000 per orangnya.

Terdapat kuda di dekat goa jika lelah berjalan kaki
Gerbang masuk tahura ini selain pengunjung yang berjalan kaki, bisa juga membawa sepeda ataupun kendaraan roda dua (tidak disarankan menggunakan sepeda motor karena sangat mengganggu para pejalan kaki), karena rutenya tembus sampai ke Lembang. Setelah melewati gerbang masuk, kita akan disambut oleh pepohonan pinus. Bagi yang suka dengan suasana alam, tempat ini memang pilihan yang pas dan paling dekat bagi yang tinggal di Kota Bandung. Setelah memasuki Tahura kita hanya perlu mengikuti jalan setapak yang ada, jangan takut tersesat karena ada beberapa papan penunjuk arah yang tersedia di sepanjang jalan. 

Sepanjang perjalanan membelah hutan banyak spot-spot menarik yang bisa dikunjungi, seperti Goa Jepang atau Goa Belanda, beberapa Air Terjun, Penangkaran Rusa dan Batu Batik. Goa Belanda dan Jepang bisa kita temui di perjalanan menuju ke arah utara/ ke arah Lembang. Goa pertama yang paling dekat dengan pintu masuk adalah Goa Jepang, di depan gerbang goa sudah ada beberapa pemandu yang menawarkan paket tur keliling goa dan menyewakan senter. Karena goa yang tidak terlalu besar dan kami telah menyiapkan senter sendiri (alias handphone), jadi kami tidak perlu menyewa lagi.

Mulut Goa Jepang
Namanya Goa Jepang, ya tentunya gelap gulita dan udaranya sangat lembab. Tidak banyak yang bisa dilihat di dalam goa sebenarnya, ruang-ruang yang ada di dalamnya juga tidak terlalu banyak dan luas, jadi jangan takut tersesat. Sesuai dengan namanya goa ini dibuat pada masa penjajahan Jepang selain pintu masuk yang lebar, goa ini juga dilengakapi saluran ventilasi berupa lubang-lubang kecil di beberapa tempat.

Setelah berpoto ria bersama di depan mulut goa kami melanjutkan perjalanan menelusuri jalan setapak hingga akhirnya tiba di goa yang kedua, Goa Belanda. Berbeda dengan goa sebelumnya, goa ini sudah lebih moderen dengan dinding dan lantai sudah terbuat dari semen dan dilengkapi saluran drainase. Mulut gua sebagai pintu masuk terdapat di 2 sisi yang membelah bukit. Dan sama seperti goa sebelumnya, goa ini juga sangat gelap dan lembab (informasi gak penting, hahahah). 

Berfoto di mulut Goa Jepang

Suasana di dalam hutan yang dilihat selama perjalanan
Objek berikutnya yang kami kunjungi di dalam Taman Hutan Raya ini adalah batu yang permukaannya terdapat motif batiknya. Sebenarnya kami tidak tahu bahwa di dalam hutan ini akan terdapat objek unik tersebut, cuman karena dalam perjalanan kami melihat papan penunjuk arah yang bertuliskan 'Batu Batik', maka kami pun memutuskan untuk melihatnya. Batu tersebut terdapat di pinggir sungai, dan jalan untuk ke lokasi sangat curam jadi harus ekstra hati-hati karena tidak terdapat tangga turun ke bibir sungai. Untuk sampai ke bibir sungai kami harus berjuang dengan berpegangan ke akar dan ranting pohon. Setelah berjuang menuruni tebing, kami pun menemukan batu batik tersebut. Permukaannya memang mirip seperti pola batik yang diukir. Karena posisinya berada di tepi sungai kami berasumsi bahwa pola-pola tersebut terbentuk dalam waktu yang cukup lama, secara alami oleh arus sungai.

Kondisi sungai di dekat batu batik

Berfoto sembari menuruni tebing ke batu batik
Penampakan batu batik
Puas menikmati ukiran batik alami di pinggir sungai, kami melanjutkan perjalanan ke air terjun, masih sekitar 45 menit lagi berjalan kaki karena saya tidak tahu jarak pastinya (soalnya gak bawa meteran pas jalan). Dalam perjalanan kami singgah di penangkaran rusa dan berkesempatan memberi makan rusa-rusa tersebut, tidak besar memang, namun di dalamnya terdapat banyak juga rusa yang dirawat dan dipelihara. Waktu menunjukkan jam 10 pagi, kami pun berhenti untuk makan gorengan di warung. Terdapat beberapa warung non permanen seperti umumnya di kawasan wisata di Indonesia, mereka hanya menjual makanan dan minuman-minuman ringan. Kami singgah sejenak selama sekitar 15 menit sebelum melanjutkan perjalanan menuju air terjun.

Perjalanan ke penangkaran rusa melewati sebuah bendungan

Memberi makan rusa

Berfoto di depan penangkaran rusa

30 menit berjalan santai menikmati pemandangan hutan, kami pun tiba di lokasi air terjun. Lokasi di sekitar air terjun tersebut sudah lebih terencana dan tertata dengan rapi, layaknya sebuah destinasi wisata. Terdapat beberapa warung makan, arena bermain anak-anak, serta jalan setapak yang rapi. Di lokasi air terjun ini terdapat sebuah jembatan yang dapat digunakan untuk berfoto dan menikmati jatuhnya air dari kejauhan. Sayangnya, melihat kondisi aliran air terjun tersebut sangat kotor dan terdapat banyak sampah, ckckckckckc. Puas berfoto dan bersitirahat sejenak kami melanjutkan perjalanan ke pintu keluar Taman Hutan Raya, sekitar 15 menit perjalanan. Kalau tadi kami masuk dari Pintu masuk kawasan Ciburual, kali ini kami keluar dari pintu yang terletak di kawasan Lembang, kebayangkan jauhnya (total perjalanan kurang lebih 5 jam karena banyak berhenti). 

Di pintu keluar sudah terdapat angkot yang ngetem untuk mengantar ke pasar Lembang, dan dari sana kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan angkot putih Lembang-Ledeng (dekat UPI) dengan total ongkos per orangnya Rp. 8000 (3000 ke pasar dan 5000 ke terminal Ledeng). Si supir angkot bersedia mengantar kami ke ITB setelah ongkos angkotnya dinaikkan jadi 5000 per orang (normalnya Lembang-Ledeng itu cuman 3500). Oh ia, di lembang kami menyempatkan makan siang di Ayam Bakar Brebes dekat pasar, kami naik angkotnya dari situ.


Air terjun Maribaya

Menikmati suasana di kawasan air terjun Maribaya
So, buat yang ingin liburan dengan budget terbatas di sekitar Bandung dan bosan dengan suasana kota, Taman Hutan Raya Juanda bisa jadi alternatif pilihan kamu berwisata alam dengan teman atau pun keluarga. Lebih asyique kalo rame-rame bro and sist, jadi gak kerasa capeknya (soalnya banyak teman ngobrol). Sendiri juga bisa sih, cuma yaaaaaa mau ngobrol ama pohon? Haahahaha.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar